BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR
BELAKANG
Dengan kejadian banyak angka
kematian bayi akibat gangguan nafas yang dialami bayi di Indonesia sangat
banyak sekali terjadi gangguan nafas pada bayi ini bias terjadi dikarenakan
beberapa sebab yaitu obstruksi jalan nafas oleh lender atau susu ,gangguan saraf
pusat , gangguan metabolic , dan imunitas pusat pernafasan ,dan masih banyak
lagi penyebab gangguan nafas . Kematian bayi akibat gangguan nafas masih belum
mendapatkan perawatan yang eksklusif yang pelayanan kesehatannya berada di
pedesaan atau pelosok , dikarenakan fasilitas dan tenaga kesehatan yang kurang
sehingga mengakibatkan kematian janin yang meningkat .
Gangguan nafas ini prognosisnya
dalam jangka panjang untuk semua bayi ,beberapa penyelidik lain melaporkan
bahwa dengan perawatan yang baik (perawatan intensif) bayi yang hidup masih
mempunyai kepandaian dan keadaan neurologis yang sama di bandingkan dengan bayi
yang lahir secara premature dan normal kelaian pada paru dan saraf mungkin
disebabkan karena penyakitnya sendiri yang berat atau kurang sempurnanya
perawatan diantaranya karena pemberian O2 tinggi secara
terus-menerus . Pada bayi premature serangan gangguan nafas dapat terjadi
apabila bayi tersebut terkena serangan apnu yang abnormal lebih dari 20 detik
serta di sertai adanya sianosis dan brakikardi
1.2 RUMUSAN
MASALAH
1. Apa
yang dimaksud dengan gangguan pernafasan pada bayi ?
2. Apa
penyebab gangguan pernafasan pada bayi ?
3. Bagaimana
cara pencegahan gangguan pernafasan pada bayi ?
4. Bagaimana
cara pengobatan gangguan pernafasan pada bayi ?
1.3 TUJUAN
1. Untuk
mengetahui pengertian gangguan pernafas an pada bayi
2. Untuk
mengetahui penyebab gangguan pernafasan pada bayi
3. Untuk
mengetahui cara pencegahan gangguan pernafasan pada bayi
4. Untuk
mengetahui cara pengobatan gangguan pernafasan pada bayi
1.4 MANFAAT
1. Kita
dapat mengetahui pengertian dari gangguan pernafasan pada bayi
2. Kita
dapat mengetahui penyebab gangguan pernafasan pada bayi
3. Kita
dapat mengetahui cara pencegahan gangguan nafas pada bayi
4. Kita
dapat mengetahui cara pengobatan gangguan pernafasan pada bayi.
BAB II
PEMBAHASAN
GANGGUAN
PERNAFASAN
Gangguan pernafasan dapat di bagi
menjadi 2 yaitu gangguan irama pernafasan dan sindrom gangguan pernafasan .
2.1
GANGGUAN
IRAMA PERNAFASAN
1. Serangan
Apnu (episode apnu)
Keadaan ini merupakan persoalan
pelik yang sering ditemukan pada bayi premature . Serangan apnu di katakana
abnormal bila berlangsung lebih dari 20 detik serta disertai adanya sianosis
dan bradikardia .serangan dapat terjadi setiap waktu pada hari-hari pertama
kelahiran ,biasanya terjadi berulang-ulang dan lebih sering timbul pada bayi
yang kecil. Bayi yang mempunyai berat badan kurang dari 1.250 gram tiga kali
lebih sering mendapat serangan dari pada bayi dengan berat badan lebih dari
1.500 gram. Etiologi:
a. Imaturasi
pusat pernafasan
b. Obstruksi
jalan nafas oleh lender atau susu
c. Serangan
apnu yang menyertai beberapa kelainan paru yang berat ,misalny apenyakit hialin
membrane ,pneumonia ,perdarahan paru
d. Gangguan
susunan saraf pusat, misalnya perdarahan intracranial, ’kernicterus’,
e. Gangguan
metabolic misalnya hipoglikemia ,perubahan keseimbangan asam basa ,cairan dan
elektrolit tubuh .
Sikap
dan tindakan ,yaitu dengan melakukan rangsangan mekanis pada bayi dengan
mengubah letak bayi atau memukul telapak kaki bayi . Membersihkan saluran nafas
. diberikan O2 intranasal dengan sedikit tekanan atau melakukan
‘frog brething ‘ . Menyelidiki dasar etiologi serangan apnu dan sikap
selanjutnya disesuaikan dengan etiologinya .
2. Pernafasan
Periodik
Bentuk pernafasan ini
sering ditemukan pada bayi dengan berat badan kurang dari 2.000 gram atau masa
gestasi kurang dari 36 minggu . Jarang timbul dalam 24 jam pertama kelahiran
dan dapat berlangsung sampai kira-kira 6 minggu . bentuk pernafasan ini mirip
dengan pernafasan Cheyne-Stokes ,yaitu tampak ventilasi diikuti oleh periode
apnu yang tidak berlangsung lebih dari 10 detik . berbeda dengan episode apnu
,keadaan ini tidak disertai dengan sianosis , bradikardia atau hipotermia .
Pernafasan ini timbul karena maturitas susunan saraf pusat yang berlangsung
sempurna.
Pemberian O2dengan
konsentrasi tertentu dapat mengurangi periode apnu , memperbaiki ventilasi paru
dan merangsang timbulnya pernafasan yang teratur . Dapat di berikan aminofilin
2-4 mg/kgbb setiap 6 jam secara intravena untuk merangsang yang belum matur
tersebut.
2.2
SINDROM
GANGGUAN PERNAFASAN
Sindrom ini merupakan kumpulan gejala yang terdiri
dari dispnu atau hiperpnu, dengan frekuensi pernafasan lebih dari 60 kali/menit
, sianosis , expiratory grunting , retraksi daerah epigastrium , supratermal ,
interkostal pada saat inspirasi dan terdapat penurunan ‘air entry’ dalam paru.
Kumpulan gejala ini dapat terjadi oleh bermacam kelainan di dalam maupun di
luar paru ,karena itu tindakan yang dikerjakan harus disesuaikan dengan
penyebab sindrom tersebut. Beberapa kelaian dalam paru yang sering
memperlihatkan sindrom ini misalnya ialah pneumotraks/pneumomediastinum,
penyakit membrane hialin pneumonia aspirasi ,sindrom Wilson Mikity.
A.
PNEUMOTORAKS/Pneumomediastinum
Sering ditemukan pada masa neonates daripada masa
lain. Disebabkan banyak factor predisposisi yang dapat menimbulkan kelainan
ini misalnya : pengembangan paru yang
berlebihan akibat resusitasi yang berlebihan , pemberian O2 dengan
tekanan yang berlebihan, terdapatnya aspirasi mekonium yang massif, komplikasi
perjalanan penyakit paru yang berat seperti penyakit membrane hialin ,dan
pneumonia
1. Patogenesis
Pengembangan paru yang
berlebihan dapat mengakibatkan alveolus pecah atau robekan dinding meediastinum
sehingga udara akan mengisi rongga pleura/mediastinum. Aspirasi darah ,
mekonium atau lendir pda saat lahir dapat menimbulkan obstruksi parsial di
daerah bronkus atau cabangnya sehingga terjadi ‘ball valve mechanism’. Pada
waktu inspirasi terjadi rruang udara di daerah distal dari obstruksi dan pada
ekspirasi udara tersebut tidak dapat dikeluarkan. Pada suatu saat bila terjadi
inspirsi kuat ,misalnya pada waktu anak menangis ,ruang udara dapat pecah dan
udara masuk ke dalam rongga pleura.
2. Diagnosis
dan gambaran klinik
Gejala pneumotraks
sangat vervariasi , kadang-kadang semakin ringan hingga tidak memperlihatkan
tanda-tanda sama sekali dan ditemukan secara kebetulan pada foto toraks yang
dibuat untuk maksud yang lain. Bayi sangat gelisah karena hipoksia, ditemukan
sianosis , takipnu,’grunting’ dan retraksi supraseternal , epigastrium pada
pernafasan. Diameter antero-posterior toraks membesar dan kadang-kadang terdapat
penonjolan dinding toraks(“bulging”). Pemeriksaan perkusi dan auskultasi tidak
banyak membantu. Bayi yang gelisah beberapa jam setelah lahir dan di sertai
gangguan pernafasan serta serta penonjolan dinding toraks unilateral atau
sterna sangat patognomonik. Diagnosis harus di tegakkan dengan pemeriksaan
radiologis yaitu dengan melakukan foto toraks antero-posterior dan lateral.
3. Pengobatan
dan perawatan
Dilakukan dengan
pengawasan yang teliti. Frekuensi pernafasan dan nadi harus dinilai secara teratur.
Pemberian O2 sangat bermanfaat untuk mempercepat terjadinya resorpsi
dan memperbaiki hipoksia dan asidosis respiratorik yang terjadi.
Sedativum(luminal) dapat diberikan untuk mengurangi kegelisahan dan mencegah
terjadinya usaha inspirasi yang berlebihan (misalnya pada bayi yang terlalu
banyak menangis). Antibiotika juga diberikan sebagai profilaksis. Volume cairan
setiap minum harus dikurangi dan diberikan dengan frekuensi yang lebih sering.
Bila terdapat pneumotoraks tension,
harus segera dilakukan tindakan operatif.
B.
PENYAKIT
MEMBRAN HIALIN(Sindrom gangguan pernafasan idiopatik).
Etiologipenyakit
inisampai sekarang belum diketahui dengan pasti. Kelainan yang terjadidi anggap
karena pematangan paru belum sampurna ,biasanya pada bayi premature , terutama
bila ibu mengalami gangguan perfusi darah uterus selama kehamilan . misalnya
ibu mendrita diabetes mellitus, toksemia gravidarum, hipotensi, seksio
sesar,dan perdarahan antepartum.
1) Patofisiologi
Pembentukan substansi surfaktan paru yang tidak
sampurna dalam paru.surfaktan merupakan zat yang memegang peranan dalam
pengembangan paru dan merupakan suatu kompleks yang terdiri dari
peotein,karbohidrat dan lemak. Defisiensi substansi surfaktan yang ditemukan
pada penyakit membrane hialin menyebabkan kemampuan paru untuk mempertahankan
stabilitasnya terganggu. Alveolus akan kembali kolaps setiap akhir ekspirasi.
Kolaps paru ini akan menyebabkan terganggunya ventilasi sehingga terjadi
hipoksia,retensi CO2 dan acidosis. Hipoksia akan menimbulkan oksigenasi
jaringan menurun, sehingga akan terjadi metabolisme anaerobic dengan penimbunan
asam laktat dan asam organic lainnya yang
menyebabkan terjadinya asidosis metabolic pada bayi kerusakan endotel kapiler
dan epitel duktus alveolaris yang akan menyebabkan terjadinya transudasi ke
dalam alveoli dan terbentuknya fibrin dan selanjutnya fibrin bersama-sama
dengan jaringan epitel yang nekrotik membentuk suatu lapisan yang disebut
membrane hialin. Acidosis dan atelaktasis juga menyebabkan terganggunya
sirkulasi darah dari dan ke jantung. Demikian juga aliran darah paru akan
menurun dan hal ini akan mengakibatkan berkurangnya pembentukan surfaktan. Hal ini akan berlangsung terus sampai terjadi
penyembuhan atau kematian bayi.
2) Gambaran
klinis
Penyakit membrane hialin ini mungkin terjadi pada
bayi pada bayi premature dengan berat badan 1.000-2.000 gram atau masa gestasi
30-36 minggu. Jarang ditemukan pada bayi dengan berat badan lebih dari 2500
gram. Sering disertai dengan riwayat asfiksia pada waktu lahir atau tanda gawat
bayi pada akhir kehamilan. Tanda gangguan pernafasan mulai tampak dalam 6-8jam
pertama setelah lahir dan gejala yang karakteristik mulai terlihat pada umur
21-72jam. Bila keadaan membaik,gejala akan menghilang pada akhir minggu
pertama. Gangguan pernafasan pada bayi terutama disebabkan oleh atelektasis dan
perfusi paaru yang menurun. Keadaan ini akan memperlihatkan gambaran klinis
seperti dispnu atau hiperpnu, sianosis kareena saturasi O2 yang
menurun dan karena pirau vena arteri dalam paru atau jantung,retraksi
suprasternal, epigastrium, interkostal, dan ‘expiratorygrunting’. Selain tanda
gangguan pernafasan , ditemukan gejala lain misalnya bradikardia , hipotensi,
kardiomegali,’piting odema’terutama di daerah dorsal
tangan/kaki,hipotermia,tonus otot yang menurun ,gejala sentral dapat terlihat
bila terjadi komplikasi.
3) Gambaran
radiologis
Dengan pemeriksaan foto rontgen toraks. Rontgen paru
ialah adanya bercak difusi berupa infiltrate retikulogranuler.
4) Gambaran
laboratorium
Dengan melakukan pemeriksaan darah yaitu kadar asam
laktat dalam darah meninggi dan bila kadarnya lebih dari 45 mg%, prognosisnya
lebbih buruk. Kadar bilirubin lebih tinggi bila dibandingkan dengan orang
normal dengan berat badan yang sama. Kadar PaO2 menurun disebabkan
berkurangnya okssigenasi di dalam paru dan karena adanya pirau arteri-vena.
Kadar PaO2 meninggi,karena gangguan ventilasi dan pengeluaran CO2
sebagai akibat atelektasis paru. pH darah menurun dan deficit basa
meningkat akibat adanya asidosis respiratorik dan metabolic dalam tubuh.
5) Pemeriksaan
fungsi paru
Frekuensi pernafasan yang meninggi pada penyakit ini
akan memperlihatkan pula perubahan pada
fungsi paru lainnya seperti’tidal volume’ menuurun, “lung compliance”
berkurang, ‘functional residual capacity’ merendah disertai ‘vital capacity’
yang terbatas. Demikian pula fungsi fentilasi dan perfusi paru akan terganggu.
6) Pemeriksaan
fungsi kardiovaskuler
Penyelidikan dengan kateterisasi jantung
memperlihatkan beberapa perubahan dalam fungsi kardiovaskuler berupa duktus
arteriosus paten, pirau dari kiri ke kanan atau pirau kanan ke kiri (bergantung
pada lanjutkan penyakit), menurunnya tekanan arteri paru dan sistemik.
7) Gambaran
patologi/histopatologi
Pada otopsi, gambaran dalam paru menunjukan adanya
atelektasis membrane hialin di dalam alveolus atau duktus alveolaris. Di
samping itu terdapat pula bagian paru yang mengalami emfisema. Membrane hialin
yang ditemukan terdiri dari fibrin sel
eosinofilik yang mungkin berasal dari darah atau sel epitel alveolus yang
nekrotik.
8) Pencegahan
Factor yang dapat menimbulkan kelainan ini ialah
pertumbuhan paru yang belum sempurna. Karena itu salah satu cara untuk
menghindarkan penyakit ini ialah mencegah kelahi ran bayi yang maturitas
parunya yang belum sempurna. Maturitas paru dapat dikatakan sempurna bila
produksi dan fungsi surfaktan telah berlangsung dengan baik. Gluck (1971)
memperkenalkan satu cara untuk mengetahui maturitas paru dengan menghitung
perbandingan antara lesitin dan sfingomielin dalam cairan amnion. Bila
perbandingan lesitin/sfingomielin sama atau lebih dari 2, bayi yang akan lahir
tidak akan menderita penyakit membrane hialin, sedangkan bila perbandingan tadi
kurang dari 2 berarti paru bayi belum matang dan akan mengalami penyakit membrane
hialin. Pemberian kortikosteroid oleh beberapa sarjana dianggap dapat
merangsang terbentuknya surfaktan pada janin. Penelitian mengenai hal ini masih
terus dilakukan saat ini. Cara yang paling efektifuntuk menghindarkan penyakit
ini ialah untuk mencegah prematuritas dan hal ini tentu agak sulit dikerjakan
pada beberapa komplikasi kehamilan tertentu.
9) Penatalaksanaan
Dasar tindakan adalah mempertahankan bayi dlama
suasana fisiologis sebaik-baiknya, agar bayi mamapu melanjutkan perkembangan
paru dan organ lain sehingga dapat
mengadakan adaptasisendiri terhadap sekitarnya.
Tindakan yang perlu di kerjakan
ialah :
a. Membriakn
lingkungan yang optimal. Suhun tubuh bayi harus selalu di usahakan agar tetap
dalam batas normal (36,50-370C) dengan meletakan bayi
dalam incubator. Humiditas ruangan harus adekuat (70-80%).
b. Pemberian
oksigen harus berhati-hari. Oksigen mempunyai pengaruh yang kompleks terhadap
bayi baru lahir.pemberian O2 yang terlalu banyak dapat menimbulkan komplikasi
yang tidak di inginkan seperti fibrosis
paru, kerusakan retina, (fibroplasi retlolental) dan lain-lain. Untuk
mencegah timbulnya komplikasi ini, pemberian O2 arterial (paO2) secara teratur.
Konsentrasi O2 yang di berikan harus di jaga agar cukup untuk mempertahankan PaO2 antara 80 – 100
mmHg. Bila fasilitas untuk pemeriksaan
tekanan gas arterial tidak ada, O2 dapat di berikan sampai gejala sianosis menghilang. Pada
penyakit membran hialin yang berat,
kadang-kadang perlu di lakukan bantuan pernafasan dengan respirator. Cara
ini di sebut ‘ intermittent positive
pressure ventilation ‘ (IPPV). Tindakan
ini baru di kerjakan bila pada pemberian O2 dengan konsentrasi tinggi (100%), bayi
tidak memperhatikan perbaikan dengan tetap menunjukan PaO2 kurang dari 50mmHg,
Pao2 lebih dari 70 mmHg dan mbasih sering terjadi serangan apnu, walaupun
kemingkinan hiportemia, hipoglikemia dan asidosis matabolik telah di
singkirkan. Pemberian O2 dengan
ventilasi aktif ini dapat pula di lakukan dengan bermacan-macam cara
lain, misalnya pemberian O2 secara hiperbaik, ‘ intermittent negative
pressure ventilation’ dan
lain-lain .
c. Pemberian
cairan, glukosa dan elekrolit sangat berguna pada bayi yang mendrita penyakit
membram hialin. Cairan yang di berikan cukup
untuk menghidarkan dehidrasi dan mempertahankan homeostaris tubuh yang
adekuat. Pada hari-hari pertama diberikan glukosa 5-10% dengan jumlah yang di sesuaikan dengan umur
dan berat badan (60-125 ml/kgbb/hari). Asidosis metabolik yang selalu terdapat
pada pendritaan, harus segera di perbaiki dengan pemberian NaHCO3 secara
intravena. Pemeriksaan keseimbanga asam-basa tubuh harus di priksa secara
penggunaan rumus : kebutuhan NaHO3 (mEq) – deficit basa x 0,3 x berat badan
bayi. Kebutuhan basa ini sebagaian dapat
langsung di beriakn secara intravena dan sisanya di briakan secara tetesan.
Pada pembrian NaHCO3 ini bertujuan untuk mepertahankan pHdarah antara 7,35 –
7,45. Bila fasilitas untuk pemeriksaan keseimbangan asam –basa tidak ada,
NaHCO3 dapat di brikan tetesan. Cairan yang di gunakan brupa campran glukosa
5-10% dengan NaHCO3 1,5% dalam perbandingan 4:1 . pada asidosis yang berat,
penilaian klinis yang teliti harus di
kerjakan untuk menilai apakanh basa yang di brikan sudah cukup adekuat.
d. Pembrian
antibiotika
Setiap pendriata penyakit membrane hialin perlu
mendapat antibiotika untuk mencegah untuk mencegah terjadinya inveksi sekunder.
Anti biotika yang di berikan ialah
penisilin (50.000 U – 100.000 U / kgbb/hari) atau ampisilin (100 mg/kgbb/hari)
dengan gentamisin (3-5 mg/kbb/hari).
10) Prognosis
Penyakit membrane hialin prognosisnya tergantung
dari tinggkat trematuritas dan beratnya penyakit. Prognosis jangka panjang
untuk semua bayi yang pernah mendrita penyakit ini sukar di tentukan.
Mortalitas di perkiraan antara 20-40% (scopes , 1971). Beberapa penyelidik lain
melaporkan bahwa dengan perawatan yang baik
(prawatan intensif) , bayi yang hidup
masih mempunyai kepandaian dan ke adaan neorologis yang sama di bandingkan
dengan bayi premature lain yang sama gestasinya sama pula. Kelainan pada paru
dan saraf mungkin di sebabkan karena penyakitnya sendiri yang berat atau kurang
sempurnanya perawatan, di antaranya karena pembrian kadar O2 tinggi secara
terus-menerus. Kelainan paru sebagai dysplasia bronkopulmoner umumnya di
sebabkan tekanan positif yang terus menerus. Komplikasi lain yang mungkin
terjadi pada waktu perawatan ialah kelainan pada retina (priboplasi retrolental
)sebagian akibat pembrian O2 yang tidak semestinya. Fneumotoraks walaupun jarang terjadi dapat di
sebabkan oleh komplikasi pengobatan dengan ‘ continuous negative external pressure ‘ ( CNP) dan tindakan bantuan
pernafasan dengan respirator lain
C.
PNEUMONIA
ASPIRASI
Hal
ini terjadi bila cairan amnion yang mengandungmekonium terinhalasi oleh bayi.
Keadaan ini lebih di kenal sebagai sindrom aspirasi mekonium. Cairan amnion
sendiri sampai saat ini belum dibuktikan dapat membahayakan paru bayi. Cairan
amnion yang mengandung mekonium dapat terjadi bila bayi dalam kandungan
menderita gawat janin. Kejadian ini merupakan 10-20% dari seluruh kehamilan.
1.
Gambaran Klinis
Pneumonia
aspirasi sering terjadi pada bayi dismaturitas (kecil untuk masa
kehamilan),neonatus lebih bulan atau bayi yang menderita gawat janin pada
kehamilan atau perslinan. Biasanya bayi lahir dengan asfiksia disertai riwayat
resusitasi aktif. Tanda sindrom gangguan pernafasan mulai tampak dalam 24 jam
pertama setelah lahir. Kadang-kadang terdengar pula ronki pada kedua paru.
Bergantung pada jumlah mekonium yang terinhalasi,mungkin terlihat emfisema atau
atelektasi. Diagnosis ditegakan dengan foto rontgen thorax yang menunjukan
gambaran infiltrasi kasar di kedua paru dengan bagian yang mengalami
enfisema.Kematian dapat terjadi pada hari-hari pertama karena gagal pernafasan atau
asidosis berat. Pada bayi yang mengalami perbaikan, biasanya mengalami gejala
hiperpnu baru dapat menghilang setelah beberapa hari dan kadang-kadang sampai
beberapa minggu.
2.
Pengobatan
a. Perawatan
umum berupa
a) Pengaturan
secara adekuat uhu dan kelembapan lingkungan
b) Pembersihan
jalan nafas sebaik-baiknya dan bila perlu dilakukan intubasi
c) Seluruh
cairan lambung harus segera dikeluarkan untuk menghindarkan kemungkinan
aspirasi ulang. Tindakan tersebut di atas seharusnya dikerjakan pada setiap
bayi yang lahir dengan cairan amnion yang mengandung mekonium
b. Pemberian
oksigen dan mengatur keseimbangan asam basa. Oksigen deberikan sianosis
menghilang. Pemberian NaHCO3 untuk mengatur keseimbangan asam basa
tubuh seperti pada pengobatan penyakit membrane hialin, yaitu dengan tujuan
mempertahan kan Ph darah dalam batas normal.
c. Antibiotika
diberikan karena diagnosis banding antara pneumonia aspirasi dengan pneumonia
bacterial sulit di bedakan dan penyelidikan menunjukan bahwa infeksi sekunder
pada penderita ini sering ditemukan. Antibiotika yang diberikan ialah kombinasi
penisilin atau ampisilin dengan gentamisin
D.
SINDROM
WILSON-MIKITY
Sindrom ini merupakan suatu
bentuk insufisiensi paru pada bayi premature. Keadaan ini pertama kali di
kemkakan oleh Wilson dan Mikity pada tahun 1960. Mereka memperkenalkan suatu
kelainan paru kronik pada bayi premature dengan gambaran rontgen paru yang
spesifik. Etiologi kelainan ini belum diketahui dengan pasti,tetapi setiap
penderita merupakan bayi premature ,dengan perawatan yang baik mungkin dapat
sembuh sempurna,penyakit berlangsung lama dan kronik,tidak ditemukan peninggian
jumlah leukosit dan bakteri dalam kultur, terdapat sianosis yang menetap dan
foto rontgen toraks memperlihatkan bagian paru yang hiperaerasi
1. Gambaran
Klinis
Sindrom ini biasanya
ditemukan ditemukan pada bayi dengan berat badan lahir kurang dari 1500 gram
atau masa gestasi kurang dari 30-32 minggu.kelainan obstetric yang mungkin
mempunyai hubungan dengan penyakit ini ialah perdarahan antepartum. Gejala ini
mungkin timbul pada hari-hari pertama kelahiran, tetapi dapat pula terjadi setelah
bulan pertama. Tanda karakteristik sianosis,sesak nafas dan retraksi dinding
thoraxs pada pernafasan. Kadang-kadang ditemukan pula pernafasan periodic atau
episode apnu. Demikian pula mungkin terdengar ronki pada bagian bagian basal
paru. Gangguan fungsionil yang sering di temukan ialah pirau intrapulmonary dan
meningginya resistensi vascular paru.
2. Diagnosis
Dibuat atas dasar
gambaran radiologis paru yang spesifik pada penyakit yang telah lanjut. Pada
hari-hari pertama tampak gambaran difus infiltrate retikulogranular yang
disertai dengan ‘air bronchogram’pada kedua paru.
3. Patologi
Pada otopsi ditemukan
paru yang membesar dwngan beberapa daerah alveoli yang tidak mengembang.
Gambaran histopatologis menunjukkan penebalan septa,atelektasis disertai infiltrasi
sel mononukleus dan makrofag ke dalam alveoli.
4. Prognosis
Mortalitas ditemukan
pada 25-50% penderita dan kematian dapat terjadi secara tiba-tiba karena
kegagalan,pernafasan . Perbaikan pada sebagian penderita mungkin dapat terjadi
secara berangsur-angsur dalam waktu yang lama(6-12 bulan)
5. Pengobatan
Tidak ada pengobatan
yang spesifik. Pemberian oksigen yang teratur merupakan satu-satunya jalan yang
dapat membantu kelangsungan hidup bayi.
Pada beberapa pendrrita diperlukan pengawasan keseimbangan asam-basa yang
teliti.
BAB III
PENUTUP
3.1
KESIMPULAN
Gangguan
pernafasan dapat di bagi menjadi 2 yaitu gangguan irama pernafasan dan sindrom
gangguan pernafasan . gangguan irama pernafasan juga dapat di bagi lagi menjadi
Serangan Apnu (episode apnu)Keadaan ini merupakan persoalan pelik yang sering
ditemukan pada bayi premature . Serangan apnu di katakana abnormal bila
berlangsung lebih dari 20 detik serta disertai adanya sianosis dan bradikardia
dan serangan Pernafasan Periodik,Bentuk pernafasan ini sering ditemukan pada
bayi dengan berat badan kurang dari 2.000 gram atau masa gestasi kurang dari 36
minggu .
Sindrom irama pernafasan,Sindrom ini
merupakan kumpulan gejala yang terdiri dari dispnu atau hiperpnu, dengan
frekuensi pernafasan lebih dari 60 kali/menit , sianosis , expiratory grunting
, retraksi daerah epigastrium , supratermal , interkostal pada saat inspirasi
dan terdapat penurunan ‘air entry’ dalam paru. Beberapa kelaian dalam paru yang
sering memperlihatkan sindrom ini misalnya ialah pneumotraks/pneumomediastinum,
penyakit membrane hialin pneumonia aspirasi ,sindrom Wilson Mikity.
3.2 SARAN
Saran
yang dapat kami sampaikan bagi pembaca adalah diharapkan :
1. Memberikan
perawatan yang ekstensif pada bayi yang
mendrita gangguan pernafasan
2. Mengawasi
dengan teliti bayi yang mengidap gejala-gejala gangguan nafas dengan cara
mengukur frekuensi pernafasan dan nadi bayi yang di nilai secara teratur
3. Pemberian O2
dengan cepat dan tepat dengan gejala yang ditimbulkan pada bayi.
Kita memiliki hidung berlubang disebelah kiri dan kanan, apakah fungsinya sama?
BalasHapusSebenarnya fungsinya tidak sama dan dapat kita rasakan bedanya dan bisa merubah sifat seseorang
Hidung berkaitan dengan pernafasan, pada titik tertentu apa bila diklik akan merubah karakter seseorang, sifat wanita bisa berubah menjadi pria dan yang pria bisa berubah menjadi wanita
Di Aktivasi Hidung diseimbangkan agar tidak dominan menggunakan nafas kiri atau kanan saja, pada intinya semua bisa disetting Sesuai keinginan dan kebutuhan anda
Hidung yang diaktivasi akan merasakan sensasi nafas sangat lancar seperti tidak memiliki hidung dan ada hawa dingin dingin hangat seperti menggunkan inhaler
Manfaat Aktivasi Hidung :
Merubah yang tomboy menjadi wanita feminin
Merubah sifat pria yang kewanitaan menjadi pria sejati
Meredakan emosi
Membuat hati menjadi tenang
Melancarkan pernafasan dan menyembuhkan asma
Melancarkan peredaran darah ke otak
Menyembuhkan sakit kepala menahun
Melancarkan fungsi jantung dan paru - paru
Membuat tubuh fresh seketika
Bisa diaplikasikan untuk anak - anak atau orang dewasa
http://pelatihanintienergi.com/aktivasi-hidung.php
0812 8202 7639 / 085 777 269 266
Anak ku baru lahir....pas lahir menangis tapi selang beberapa menit kurang menangis....dokter sarankan untuk masuk inkuabator dan pakai 02....apakah bayi saya bermasalah paru paru ya?makcih
BalasHapus