Pra Eklamsia Kehamilan
1.1 Defenisi
Pre Eklamsia
1.
Pre eklamsia adalah keadaan dimana hipertensi disertai
dengan proteinuria, edema atau kedua-duanya yang terjadi akibat kehamilan
setelah minggu ke 20 atau kadang-kadang timbul lebih awal bila terdapat
perubahan hidatidiformis yang luas pada vili dan korialis (Mitayani, 2009).
2.
Preeklamsi adalah penyakit dengan tanda-tanda
hipertensi, proteinuria, dan edema yang timbul karena kehamilan. Penyakit ini
umumnya terjadi dalam triwulan ke tiga pada kehamilan, tetapi dapat terjadi
sebelumnya misalnya pada mola hidatidosa. (Rukiyah, 2010).
3.
Preeklampsia merupakan suatu kondisi spesifik
kehamilan dimana hipertensi terjadi setelah minggu ke-20 pada wanita yang
sebelumnya memiliki tekanan darah normal. (Bobak , 2004)
4.
Pre eklamsia adalah timbulnya hipertensi disertai
proteinnuria dan atau edema setelah umur kehamilan 20 minggu atau segera
setelah persalinan. Gejala ini dapat timbul sebelum umur kehamilan 20 minggu
pada penyakit trofoblas. (Sujiyatini, 2009).
5.
Pre eklamsia dapat dideskripsikan sebagai kondisi yang
tidak dapat diprediksi dan progresif serta berpotensi mengakibatkan disfungsi
dan gagal multi organ yang dapat mengganggu kesehatan ibu dan berdampak
negative pada lingkungan janin. (Boyle M, 2007).
1.2 Etiologi
Penyebab pre eklamsia saat ini tak bisa diketahui dengan pasti, walaupun penelitian yang dilakukan terhadap penyakit ini sudah sedemikian maju. Semuanya baru didasarkan pada teori yang dihubungkan dengan kejadian. Itulah sebab pre eklamsia disebut juga “disease of theory” (Rukiyah, 2010).
Teori yang dapat diterima haruslah dapat menerangkan hal-hal berikut :
(1) sebab bertambahnya frekuensi pada primigravida, kehamilan ganda, hidramnion, dan
Penyebab pre eklamsia saat ini tak bisa diketahui dengan pasti, walaupun penelitian yang dilakukan terhadap penyakit ini sudah sedemikian maju. Semuanya baru didasarkan pada teori yang dihubungkan dengan kejadian. Itulah sebab pre eklamsia disebut juga “disease of theory” (Rukiyah, 2010).
Teori yang dapat diterima haruslah dapat menerangkan hal-hal berikut :
(1) sebab bertambahnya frekuensi pada primigravida, kehamilan ganda, hidramnion, dan
molahidatidosa
(2)
sebab bertambahnya frekuensi dengan makin tuanya kehamilan
(3) sebab dapat terjadinya perbaiakan keadaan penderita dengan kematian janin dalam
(3) sebab dapat terjadinya perbaiakan keadaan penderita dengan kematian janin dalam
uterus
(4) sebab jarangnya terjadi eklamsia pada kehamilan-kehamilan berikutnya
(5) sebab timbulnya hipertensi, edema, proteinuria, kejang dan koma. (Hanifa W, 2006).
(4) sebab jarangnya terjadi eklamsia pada kehamilan-kehamilan berikutnya
(5) sebab timbulnya hipertensi, edema, proteinuria, kejang dan koma. (Hanifa W, 2006).
Dari hal-hal tersebut diatas, jelaslah bahwa bukan hanya satu faktor, melainkan banyak faktor yang menyebabkan pre-eklamsia dan eklamsia. Adapun teori-teori yang dihubungkan dengan terjadinya preeklamsia adalah:
1) Peran prostasiklin dan trombiksan
Pada preeklamsia didapatkan kerusakan pada endotel
vaskular, sehingga terjadi penurunan produksi prostsiklin (PGI 2) yang pada
kehamilan normal meningkat, aktifasi pengumpulan dan fibrinolisis, yang
kemudian akan digant trombin dan plasmin,trombin akan mengkonsumsi anti trombin
III, sehingga terjadi deposit fibrin. Aktifasi trombosit menyebabkan pelepasan
tromboksan (TXA2) dan serotonin, sehingga terjadi vasospasme dan kerusakan
endotel (Rukiyah, 2010).
2) Peran faktor imunologis
Preeklamsia sering terjadi pada kehamilan pertama dan tidak timbu lagi pada kehamilan berikutnya. Hal ini dapat ditererangkan bahwa pada kehamilan pertama pembentukan blocking antibodies terhadap antigen plasenta tidak sempurna, yang semakin sempurna pada kehamilan berikutnya. Beberapa data yang mendukung adanya sistem imun pada penderita PE-E, beberapa wanita dengan PE-E mempunyai komplek imun dalam serum, beberapa studi juga mendapatkan adanya aktifasi sistem komplemen pada PE-E diikuti proteinuria (Rukiyah, 2010).
3) Faktor genetik
Beberapa bukti menunjukkan peran faktor genetik pada kejadian PE-E antara lain
(1) preeklamsia hanya terjadi pada manusia
(2) terdapatnya kecenderungan meningkatnya frekuensi PE-E pada anak-anak dari ibu
2) Peran faktor imunologis
Preeklamsia sering terjadi pada kehamilan pertama dan tidak timbu lagi pada kehamilan berikutnya. Hal ini dapat ditererangkan bahwa pada kehamilan pertama pembentukan blocking antibodies terhadap antigen plasenta tidak sempurna, yang semakin sempurna pada kehamilan berikutnya. Beberapa data yang mendukung adanya sistem imun pada penderita PE-E, beberapa wanita dengan PE-E mempunyai komplek imun dalam serum, beberapa studi juga mendapatkan adanya aktifasi sistem komplemen pada PE-E diikuti proteinuria (Rukiyah, 2010).
3) Faktor genetik
Beberapa bukti menunjukkan peran faktor genetik pada kejadian PE-E antara lain
(1) preeklamsia hanya terjadi pada manusia
(2) terdapatnya kecenderungan meningkatnya frekuensi PE-E pada anak-anak dari ibu
yang menderita PE-E
(3) kescenderungan meningkatnya frekuensi PE-E pada anak dan cucu ibu hamil dengan
(3) kescenderungan meningkatnya frekuensi PE-E pada anak dan cucu ibu hamil dengan
riwayat PE-E dan bukan pada ipar mereka
(4)
peran renin-angiotensin-aldosteron sistem (RAAS) (Rukiyah, 2010).
Yang
jelas preeklamsia merupakan salah satu penyebab kematian pada ibu hamil,
disamping infeksi dan perdarahan, Oleh sebab itu, bila ibu hamil ketahuan
beresiko, terutama sejak awal kehamilan, dokter kebidanan dan kandungan akan
memantau lebih ketat kondisi kehamilan tersebut.
Beberapa penelitian menyebutkan ada beberapa faktor yang dapat menunjang terjadinya preeklamsia dan eklamsia. Faktor-faktor tersebut antara lain,gizi buruk, kegemukan, dan gangguan aliran darah kerahim. Faktor resiko terjadinya preeklamsia, preeklamsia umumnya terjadi pada kehamilan yang pertama kali, kehamilan di usia remaja dan kehamilan pada wanita diatas usia 40 tahun. Faktor resiko yang lain adalah riwayat tekanan darah tinggi yang kronis sebelum kehamilan, riwayat mengalami preeklamsia sebelumnya, riwayat preeklamsia pada ibu atau saudara perempuan, kegemukan,mengandung lebih dari satu orang bayi, riwayat kencing manis, kelainan ginjal, lupus atau rematoid artritis (Rukiyah 2010).
Sedangkan menurut Angsar (2008) teori – teorinya sebagai berikut:
1. Teori kelainan vaskularisasi plasenta
Pada kehamilan normal, rahim dan plasenta mendapatkan aliran darah dari cabang – cabang arteri uterina dan arteri ovarika yang menembus miometrium dan menjadi arteri arkuata, yang akan bercabang menjadi arteri radialis. Arteri radialis menembus endometrium menjadi arteri basalis memberi cabang arteri spiralis. Pada kehamilan terjadi invasi trofoblas kedalam lapisan otot arteri spiralis, yang menimbulkan degenerasi lapisan otot tersebut sehingga terjadi distensi dan vasodilatasi arteri spiralis, yang akan memberikan dampak penurunan tekanan darah, penurunan resistensi vaskular, dan peningkatan aliran darah pada utero plasenta. Akibatnya aliran darah ke janin cukup banyak dan perfusi jaringan juga meningkat, sehingga menjamin pertumbuhan janin dengan baik. Proses ini dinamakan remodelling arteri spiralis. Pada pre eklamsia terjadi kegagalan remodelling menyebabkan arteri spiralis menjadi kaku dan keras sehingga arteri spiralis tidak mengalami distensi dan vasodilatasi, sehingga aliran darah utero plasenta menurun dan terjadilah hipoksia dan iskemia plasenta.
Beberapa penelitian menyebutkan ada beberapa faktor yang dapat menunjang terjadinya preeklamsia dan eklamsia. Faktor-faktor tersebut antara lain,gizi buruk, kegemukan, dan gangguan aliran darah kerahim. Faktor resiko terjadinya preeklamsia, preeklamsia umumnya terjadi pada kehamilan yang pertama kali, kehamilan di usia remaja dan kehamilan pada wanita diatas usia 40 tahun. Faktor resiko yang lain adalah riwayat tekanan darah tinggi yang kronis sebelum kehamilan, riwayat mengalami preeklamsia sebelumnya, riwayat preeklamsia pada ibu atau saudara perempuan, kegemukan,mengandung lebih dari satu orang bayi, riwayat kencing manis, kelainan ginjal, lupus atau rematoid artritis (Rukiyah 2010).
Sedangkan menurut Angsar (2008) teori – teorinya sebagai berikut:
1. Teori kelainan vaskularisasi plasenta
Pada kehamilan normal, rahim dan plasenta mendapatkan aliran darah dari cabang – cabang arteri uterina dan arteri ovarika yang menembus miometrium dan menjadi arteri arkuata, yang akan bercabang menjadi arteri radialis. Arteri radialis menembus endometrium menjadi arteri basalis memberi cabang arteri spiralis. Pada kehamilan terjadi invasi trofoblas kedalam lapisan otot arteri spiralis, yang menimbulkan degenerasi lapisan otot tersebut sehingga terjadi distensi dan vasodilatasi arteri spiralis, yang akan memberikan dampak penurunan tekanan darah, penurunan resistensi vaskular, dan peningkatan aliran darah pada utero plasenta. Akibatnya aliran darah ke janin cukup banyak dan perfusi jaringan juga meningkat, sehingga menjamin pertumbuhan janin dengan baik. Proses ini dinamakan remodelling arteri spiralis. Pada pre eklamsia terjadi kegagalan remodelling menyebabkan arteri spiralis menjadi kaku dan keras sehingga arteri spiralis tidak mengalami distensi dan vasodilatasi, sehingga aliran darah utero plasenta menurun dan terjadilah hipoksia dan iskemia plasenta.
2. Teori
Iskemia Plasenta, Radikal bebas, dan Disfungsi Endotel
a.
skemia Plasenta dan pembentukan Radikal Bebas
Karena kegagalan Remodelling arteri spiralis akan berakibat plasenta mengalami iskemia, yang akan merangsang pembentukan radikal bebas, yaitu radikal hidroksil (-OH) yang dianggap sebagai toksin. Radiakl hidroksil akan merusak membran sel yang banyak mengandung asam lemak tidak jenuh menjadi peroksida lemak. Periksida lemak juga akan merusak nukleus dan protein sel endotel
Karena kegagalan Remodelling arteri spiralis akan berakibat plasenta mengalami iskemia, yang akan merangsang pembentukan radikal bebas, yaitu radikal hidroksil (-OH) yang dianggap sebagai toksin. Radiakl hidroksil akan merusak membran sel yang banyak mengandung asam lemak tidak jenuh menjadi peroksida lemak. Periksida lemak juga akan merusak nukleus dan protein sel endotel
b. Disfungsi Endotel
Kerusakan membran sel endotel mengakibatkan terganggunya fungsi endotel, bahkan rusaknya seluruh struktur sel endotel keadaan ini disebut disfungsi endotel, yang akan menyebabkan terjadinya:
a) Gangguan metabolisme prostalglandin, yaitu menurunnya produksi prostasiklin
Kerusakan membran sel endotel mengakibatkan terganggunya fungsi endotel, bahkan rusaknya seluruh struktur sel endotel keadaan ini disebut disfungsi endotel, yang akan menyebabkan terjadinya:
a) Gangguan metabolisme prostalglandin, yaitu menurunnya produksi prostasiklin
(PGE2) yang merupakan
suatu vasodilator kuat.
b) Agregasi sel-sel trombosit pada
daerah endotel yang mengalami kerusakan.
Agregasi
trombosit memproduksi tromboksan (TXA2) yaitu suatu vasokonstriktor kuat. Dalam
keadaan normal kadar prostasiklin lebih banyak dari pada tromboksan. Sedangkan
pada pre eklamsia kadar tromboksan lebih banyak dari pada prostasiklin,
sehingga menyebabkan peningkatan tekanan darah.
c) Perubahan khas pada sel endotel kapiler glomerulus (glomerular
endotheliosis) .
d) Peningkatan permeabilitas kapiler.
e) Peningkatan produksi bahan – bahan vasopresor, yaitu endotelin. Kadar NO
d) Peningkatan permeabilitas kapiler.
e) Peningkatan produksi bahan – bahan vasopresor, yaitu endotelin. Kadar NO
menurun sedangkan endotelin meningkat.
f) Peningkatan faktor koagulasi
f) Peningkatan faktor koagulasi
3. Teori
intoleransi imunologik ibu dan janin
Pada perempuan normal respon imun tidak menolak adanya hasil konsepsi yang bersifat asing. Hal ini disebabkan adanya Human Leukocyte Antigen Protein G (HLA-G) yang dapat melindungi trofoblas janin dari lisis oleh sel natural killer (NK) ibu. HLA-G juga akan mempermudah invasis el trofoblas kedalam jaringan desidua ibu. Pada plasenta ibu yang mengalami pre eklamsia terjadi ekspresi penurunan HLA-G yang akan mengakibatkan terhambatnya invasi trofoblas ke dalam desidua. Kemungkinan terjadi Immune-Maladaptation pada pre eklamsia.
Pada perempuan normal respon imun tidak menolak adanya hasil konsepsi yang bersifat asing. Hal ini disebabkan adanya Human Leukocyte Antigen Protein G (HLA-G) yang dapat melindungi trofoblas janin dari lisis oleh sel natural killer (NK) ibu. HLA-G juga akan mempermudah invasis el trofoblas kedalam jaringan desidua ibu. Pada plasenta ibu yang mengalami pre eklamsia terjadi ekspresi penurunan HLA-G yang akan mengakibatkan terhambatnya invasi trofoblas ke dalam desidua. Kemungkinan terjadi Immune-Maladaptation pada pre eklamsia.
4. Teori Adaptasi kardiovaskular
Pada kehamilan normal pembuluh darah refrakter terhadap bahan vasopresor. Refrakter berarti pembuluh darah tidak peka terhadap rangsangan vasopresor atau dibutuhkan kadar vasopresor yang lebih tinggi untuk menimbulkan respon vasokonstriksi. Refrakter ini terjadi akibat adanya sintesis prostalglandin oleh sel endotel. Pada pre eklamsia terjadi kehilangan kemampuan refrakter terhadap bahan vasopresor sehingga pembuluh darah menjadi sangat peka terhadap bahan vasopresor sehingga pembuluh darah akan mengalami vasokonstriksi dan mengakibatkan hipertensi dalam kehamilan.
5. Teori Genetik
Ada faktor keturunan dan familial dengan model gen tunggal. Genotype ibu lebih menentukan terjadinya hipertensi dalam kehamilan secara familial jika dibandingkan dengan genotype janin. Telah terbukti bahwa ibu yang mengalami pre eklamsia, 26% anak perempuannya akan mengalami pre eklamsia pula, sedangkan hanya 8% anak menantu mengalami pre eklamsia.
6. Teori Defisiensi Gizi
Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa defisiensi gizi berperan dalam terjadinya hipertensi dalam kehamilan. Penelitian terakhir membuktikan bahwa konsumsi minyak ikan dapat mengurangi resiko pre eklamsia. Minyak ikan banyak mengandung asam lemak tidak jenuh yang dapat menghambat produksi tromboksan, menghambat aktivasi trombosit, dan mencegah vasokonstriksi pembuluh darah.
7. Teori Stimulasi Inflamasi
Teori ini berdasarkan bahwa lepasnya debris trofoblas di dalam sirkulasi darah merupakan rangsangan utama terjadinya proses inflamasi. Berbeda dengan proses apoptosis pada pre eklamsia, dimana pada pre eklamsia terjadi peningkatan stres oksidatif sehingga produksi debris trofoblas dan nekrorik trofoblas juga meningkat. Keadaan ini mengakibatkan respon inflamasi yang besar juga. Respon inflamasi akan mengaktifasi sel endotel dan sel makrofag/granulosit yang lebih besar pula, sehingga terjadi reaksi inflamasi menimbulkan gejala-gejala pre eklamsia pada ibu.
1.3 Patofisiologi
Menurut Bobak (2004) adaptasi fisiologi normal pada kehamilan meliputi peningkatan volume plasma darah, vasodilatasi, penurunan resistensi vaskular sistemik (systemic vascular resistance [SVR]), peningkatan curah jantung dan penurunan tekanan osmotik koloid. Pada pre eklamsia, volume plasma yang beredar menurun, sehingga hemokonsentrasi dan peningkatan hematokrit maternal. Perubahan ini membuat perfusi organ maternal menurun, termasuk perfusi ke unit janin uteroplasenta. Vasospasme siklik lebih lanjut menurunkan perfusi organ dengan menghancurkan sel – sel darh merah, sehingga kapasitas oksigen maternal menurun.
Vasopasme merupakan sebagian mekanisme dasar tanda dan gejala yang menyertai pre eklamsia. Vasopasme merupakan akibat peningkatan sensitivitas terhadap tekanan peredaran darah, seperti angiotensin II dan kemungkinan suatu ketidak seimbangan abtara prostasiklin prostaglandin dan tromboksan A2. Selain kerusakan endotelil vasospasme arterial turut menyebabkan peningkatan permeabilitas kapiler. Keadaan ini meningkatkan edema dan lebih lanjut menurunkan volume intra vaskular, mempredisposisi pasien yang mengalami pre eklamsia mudah menderita edema paru.
Hubungan sistem imun dengan pre eklamsia menunjukkan bahwa faktor-faktor imunologi memainkan peran penting dalam perkembangan pre eklamsia. Keberadaan protein asing, plasenta, atau janin bisa membangkitkan responsimunologis lanjut. Teori ini di dukung oleh peningkatan insiden pre eklamsia-eklamsia pada ibu baru (pertama kali terpapar jaringan janin) dan pada ibu hamil dari pasangan yang baru (materi genetik yang berbeda).
Menurut Mochtar (2007) Pada preeklamsia terjadi spasme pembuluh darah disertai dengan retensi garam dan air. Pada biopsi ginjal ditemukan spasme hebat arteriola glomerolus. Pada beberapa kasus, lumen arteriola sedemikian sempitnya sehingga hanya dapat dilalui oleh satu sel darah merah. Jadi jika semua arteriola dalam tubuh mengalami spasme, maka tekanan darah akan naik, sebagai usaha untuk mengatasi kenaikan tekanan perifer agar oksigenasi jaringan dapat dicukupi. Sedangkan kenaikan berat badan dan edema yang disebabkan oleh penimbunan air yang berlebihan dalam ruangan intertisial belum diketahui penyebabnya, mungkin karena retensi air dan garam. Proteinuria dapat disebabkan oleh spasme arteriola sehingga terjadi perubahan glomerolus.
Menurut Bobak (2004) adaptasi fisiologi normal pada kehamilan meliputi peningkatan volume plasma darah, vasodilatasi, penurunan resistensi vaskular sistemik (systemic vascular resistance [SVR]), peningkatan curah jantung dan penurunan tekanan osmotik koloid. Pada pre eklamsia, volume plasma yang beredar menurun, sehingga hemokonsentrasi dan peningkatan hematokrit maternal. Perubahan ini membuat perfusi organ maternal menurun, termasuk perfusi ke unit janin uteroplasenta. Vasospasme siklik lebih lanjut menurunkan perfusi organ dengan menghancurkan sel – sel darh merah, sehingga kapasitas oksigen maternal menurun.
Vasopasme merupakan sebagian mekanisme dasar tanda dan gejala yang menyertai pre eklamsia. Vasopasme merupakan akibat peningkatan sensitivitas terhadap tekanan peredaran darah, seperti angiotensin II dan kemungkinan suatu ketidak seimbangan abtara prostasiklin prostaglandin dan tromboksan A2. Selain kerusakan endotelil vasospasme arterial turut menyebabkan peningkatan permeabilitas kapiler. Keadaan ini meningkatkan edema dan lebih lanjut menurunkan volume intra vaskular, mempredisposisi pasien yang mengalami pre eklamsia mudah menderita edema paru.
Hubungan sistem imun dengan pre eklamsia menunjukkan bahwa faktor-faktor imunologi memainkan peran penting dalam perkembangan pre eklamsia. Keberadaan protein asing, plasenta, atau janin bisa membangkitkan responsimunologis lanjut. Teori ini di dukung oleh peningkatan insiden pre eklamsia-eklamsia pada ibu baru (pertama kali terpapar jaringan janin) dan pada ibu hamil dari pasangan yang baru (materi genetik yang berbeda).
Menurut Mochtar (2007) Pada preeklamsia terjadi spasme pembuluh darah disertai dengan retensi garam dan air. Pada biopsi ginjal ditemukan spasme hebat arteriola glomerolus. Pada beberapa kasus, lumen arteriola sedemikian sempitnya sehingga hanya dapat dilalui oleh satu sel darah merah. Jadi jika semua arteriola dalam tubuh mengalami spasme, maka tekanan darah akan naik, sebagai usaha untuk mengatasi kenaikan tekanan perifer agar oksigenasi jaringan dapat dicukupi. Sedangkan kenaikan berat badan dan edema yang disebabkan oleh penimbunan air yang berlebihan dalam ruangan intertisial belum diketahui penyebabnya, mungkin karena retensi air dan garam. Proteinuria dapat disebabkan oleh spasme arteriola sehingga terjadi perubahan glomerolus.
Menurut
Rukiyah (2010) Vaskonstriksi merupakan dasar patogenesis PE-E. Vasokonstriksi
menimbulkan peningkatan total perifer resisten dan menimbulkan hipertensi .
adanya vasokonstriksi juga akan menimbulkan hipoksia pada endotel setempat,
sehingga terjadi kerusakan endotel setempat, sehingga terjadi kerusakan
endotel, kebocoran arteriol disertai perdarahan mikro pada tempat endotel.
Selain itu Hubel 1989 yang dikutip oleh Rukiyah (2010) mengatakan bahwa adanya
vasokonstriksi arteri spiralis akan menyebabkan terjadinya penurunan perfusi
utero plasenta yang selanjutnya akan menimbulkan maladaptasi plasenta.
Hipoksi/anoksia jaringan merupakan sumber reaksi hiperoksidase lemak, sedangkan prose hiperoksidase itu sendiri memerlukan peningkatan konsumsi oksigen, sehingga dengan demikian akan menggangu metabolisme di dalam sel peroksidase lemak adalah hasil proses oksidase lemak tak jenuh yang menghasilkan hiperoksidase lemak jenuh. Peroksidase lemak merupakan radikal bebas. Apabila keseimbangan antara peroksidase terganggu diman peroksidase dan oksidan lebih dominan maka akan timbul keadaan yang disebut stress oksidatif.
Pada PE-E serum anti oksidan kadarnya menurun dan plasenta menjadi sumber terjadinya peroksidase lemak. Sedangkan pada wanita hamil normal serumnya mengandung transferin, ion tembaga dan sulfhidril yang berperan sebagai antioksidan yang cukup kuat. Peroksidase lemak beredar dalam aliran darh melalui ikatan lipoprotein. Peroksidase lemak ini akan sampai kesemua komponen sel yang dilewati termasuk sel-sel endotel tersebut. Rusaknya sel-sel endotel tersebut. Rusaknya sel-sel endotel akan mengakibatkan antara lain: adhesi dan agresi trombosit, gangguan permeabilitas lapisan endotel terhadap plasma, terlepasnya enzim lisosom, tromboksan dan serotinin sebagai akibat rusaknya trombosit, produksi prostasiklin dan tromboksan, terjadi hipoksiaplasenta akibat konsumsi oksigen oleh peroksidase lemak.
Menurut Zweifel (1922) yang dikutip oleh Manuaba (2008) mengemukakan bahwa gejala gestosis tidak dapat diterangkan dengan satu faktor atau teori tetapi merupakan multifakor (teori yang menggambarkan berbagai manifestasi klinis yang kompleks yang oleh Zweifel disebut diseases of theory. Berbagai teori yang mencoba menerangkan gambaran klinis adalah genetic, teori imunologik, teori iskemia region uteroplasenter, teori kerusakan endotel pembuluh darah, teori radikal bebas adan kerusakan endotel, teori trombosit, dan teori diet yang diterangkan untuk kepentingan sehari-hari adalah teori diet dan teori yang diakui POGI.
Menurut teori diet ibu hamil, kebutuhan kalsium ibu hamil cukup tinggi untuk pembentukan tulang dan organ lain janin, yaitu 2-2,5 g/hari. Bila terjadi kekurangan kalsium, kalsium ibu hamil akan dikuras untuk memenuhi kebutuhan sehingga terjadi pengeluaran kalsium dari jaringan otot. Minyak ikan mengandung banyak asam lemak tak jenuh sehingga dapat menghindari dan menghambat pembentukan trombokson dan mengurangi aktivitas trombosit. Oleh karena itu, minyak ikan dapat menurunkan kejadian pre eklamasia / eklamasia. Diduga bahwa minyak ikan mengandung kalsium. Fungsi kalsium dalam otot jantung menimbulkan peningkatan kontraksi sehingga dapat mempertahankan dan meningkatkan volume sekuncup jantung dan tekanan darah dapat dipertahankan. Kalsium pada otot pembuluh darah mengendalikan dan mengurangi kontraksi-kontraksi sehingga tekanan darah dapat dikendalikan bersama dengan vasokontriktor lainnya.
Kekurangan kalsium yang terlalu lama menyebabkan dikeluarkannya kalsium dari jaringan otot sehingga menimbulkan manifestasi sebagai berikut : keluar dari otot jantung menimbulkan melemahnya kontraksi otot jantung dan menurunkan volume sekuncup sehingga aliran darah akan menurun; keluar dari otot pembuluh darah akan menimbulkan kontraksi, meningkatkan tekanan darah tinggi.
Dengan demikian ibu hamil memerlukan 2 – 2,5 g kalsium untuk mempertahankan konsentrasi dalam darah menjadi konstan, sehingga tidak akan menimbulkan peningkatan tekanan darah. Dalam praktik sehari-hari, bidan sudah dapat memberi kalsium pada ibu hamil yang merupakan otot polos dapat digambarkan sebagai berikut :
a. Ikatan antara myosin dan aktin menjadi dasar terjadinya kontraksi dengan peranan
Hipoksi/anoksia jaringan merupakan sumber reaksi hiperoksidase lemak, sedangkan prose hiperoksidase itu sendiri memerlukan peningkatan konsumsi oksigen, sehingga dengan demikian akan menggangu metabolisme di dalam sel peroksidase lemak adalah hasil proses oksidase lemak tak jenuh yang menghasilkan hiperoksidase lemak jenuh. Peroksidase lemak merupakan radikal bebas. Apabila keseimbangan antara peroksidase terganggu diman peroksidase dan oksidan lebih dominan maka akan timbul keadaan yang disebut stress oksidatif.
Pada PE-E serum anti oksidan kadarnya menurun dan plasenta menjadi sumber terjadinya peroksidase lemak. Sedangkan pada wanita hamil normal serumnya mengandung transferin, ion tembaga dan sulfhidril yang berperan sebagai antioksidan yang cukup kuat. Peroksidase lemak beredar dalam aliran darh melalui ikatan lipoprotein. Peroksidase lemak ini akan sampai kesemua komponen sel yang dilewati termasuk sel-sel endotel tersebut. Rusaknya sel-sel endotel tersebut. Rusaknya sel-sel endotel akan mengakibatkan antara lain: adhesi dan agresi trombosit, gangguan permeabilitas lapisan endotel terhadap plasma, terlepasnya enzim lisosom, tromboksan dan serotinin sebagai akibat rusaknya trombosit, produksi prostasiklin dan tromboksan, terjadi hipoksiaplasenta akibat konsumsi oksigen oleh peroksidase lemak.
Menurut Zweifel (1922) yang dikutip oleh Manuaba (2008) mengemukakan bahwa gejala gestosis tidak dapat diterangkan dengan satu faktor atau teori tetapi merupakan multifakor (teori yang menggambarkan berbagai manifestasi klinis yang kompleks yang oleh Zweifel disebut diseases of theory. Berbagai teori yang mencoba menerangkan gambaran klinis adalah genetic, teori imunologik, teori iskemia region uteroplasenter, teori kerusakan endotel pembuluh darah, teori radikal bebas adan kerusakan endotel, teori trombosit, dan teori diet yang diterangkan untuk kepentingan sehari-hari adalah teori diet dan teori yang diakui POGI.
Menurut teori diet ibu hamil, kebutuhan kalsium ibu hamil cukup tinggi untuk pembentukan tulang dan organ lain janin, yaitu 2-2,5 g/hari. Bila terjadi kekurangan kalsium, kalsium ibu hamil akan dikuras untuk memenuhi kebutuhan sehingga terjadi pengeluaran kalsium dari jaringan otot. Minyak ikan mengandung banyak asam lemak tak jenuh sehingga dapat menghindari dan menghambat pembentukan trombokson dan mengurangi aktivitas trombosit. Oleh karena itu, minyak ikan dapat menurunkan kejadian pre eklamasia / eklamasia. Diduga bahwa minyak ikan mengandung kalsium. Fungsi kalsium dalam otot jantung menimbulkan peningkatan kontraksi sehingga dapat mempertahankan dan meningkatkan volume sekuncup jantung dan tekanan darah dapat dipertahankan. Kalsium pada otot pembuluh darah mengendalikan dan mengurangi kontraksi-kontraksi sehingga tekanan darah dapat dikendalikan bersama dengan vasokontriktor lainnya.
Kekurangan kalsium yang terlalu lama menyebabkan dikeluarkannya kalsium dari jaringan otot sehingga menimbulkan manifestasi sebagai berikut : keluar dari otot jantung menimbulkan melemahnya kontraksi otot jantung dan menurunkan volume sekuncup sehingga aliran darah akan menurun; keluar dari otot pembuluh darah akan menimbulkan kontraksi, meningkatkan tekanan darah tinggi.
Dengan demikian ibu hamil memerlukan 2 – 2,5 g kalsium untuk mempertahankan konsentrasi dalam darah menjadi konstan, sehingga tidak akan menimbulkan peningkatan tekanan darah. Dalam praktik sehari-hari, bidan sudah dapat memberi kalsium pada ibu hamil yang merupakan otot polos dapat digambarkan sebagai berikut :
a. Ikatan antara myosin dan aktin menjadi dasar terjadinya kontraksi dengan peranan
kalsium.
b. Bila terjadi penurunan konsentrasi kalsium akan terjadi reaksi yang berlawanan
b. Bila terjadi penurunan konsentrasi kalsium akan terjadi reaksi yang berlawanan
sehingga kontraksi meurun dan akibat
terdapat penurunan volume sekuncup jantung dan seterusnya mengakibatkan iskemia
region. Penurunan kalsium dapat terjadi karena masukan yang kurang, kemampuan
resorbi menurun kalsium mengalami keterasingan (terisolasi)
Hal
ini menyebabkan mata rantai peranan terputus. Pemberian kalsium 22,5 g pada ibu
hamil akan menurunkan kejadian pre eklampsia / eklampsia yang bermakna terutama
melalui kerja pada miosis kinase rantai ringan. Dalam standar pendidikan
obstetric dan ginekologi, POGI tersurat teori yang dianut “iskemia region
uteroplasenter” dengan teori lainnya. Kejadian pre eklampsia/ eklampsia yaitu
antara antepartus, intrapartus dan pascapartus.
1.4 Klasifikasi
A. Pre Eklampsia Ringan
1.
Pengertian
Pre
eklampsia ringan adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan/atau
edema
setelah
umur kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. Gejala ini dapat
timbul
sebelum umur kehamilan 20 minggu pada penyakit trofoblas.
2.
Patofisiologi
Penyebab
pre eklampsia ringan belum diketahui secara jelas. Penyakit ini dianggap
sebagai
“maladaptation syndrome” akibat vasospasme general dengan segala akibatnya.
3.
Gejala Klinis
Gejala klinis pre eklampsia ringan meliputi
:
a. Kenaikan tekanan darah sistol 30 mmHg
atau lebih; diastol 15 mmHg atau lebih
dari tekanan darah sebelum hamil pada
kehamilan 20 minggu atau lebih atau
sistol 140 mmHg sampai kurang 160 mmHg;
diastol 90 mmHg sampai kurang
110 mmHg.
b. Proteinuria : secara kuantitatif lebih
0,3 gr/liter dalam 24 jam atau secara
kualitatif
positif 2 (+2).
c. Edema pada pretibia, dinding abdomen,
lumbosakral, wajah atau tangan.
4.
Pemeriksaan dan Diagnosis
a. Kehamilan lebih 20 minggu.
b. Kenaikan tekanan darah 140/90 mmHg atau
lebih dengan pemeriksaan 2 kali
selang 6 jam dalam keadaan istirahat
(untuk pemeriksaan pertama dilakukan 2
kali setelah istirahat 10 menit).
c. Edema tekan pada tungkai (pretibial),
dinding perut, lumbosakral, wajah atau
tungkai.
d. Proteinuria lebih 0,3 gram/liter/24
jam, kualitatif (++).
5.
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan rawat jalan pasien pre
eklampsia ringan :
a. Banyak istirahat (berbaring tidur /
mirring).
b. Diet : cukup protein, rendah
karbohidraat, lemak dan garam.
c. Sedativa ringan : tablet phenobarbital 3
x 30 mg atau diazepam 3 x 2 mg per oral
selama 7 hari.
d. Roborantia
e. Kunjungan ulang setiap 1 minggu.
f. Pemeriksaan laboratorium : hemoglobin,
hematokrit, trombosit, urine lengkap,
asam urat darah, fungsi hati, fungsi
ginjal.
Penatalaksanaan rawat tinggal pasien pre
eklampsia ringan berdasarkan criteria
a. Setelah 2 minggu pengobatan rawat jalan
tidak menunjukkan adanya perbaikan
dari gejala-gejala pre eklampsia.
b. Kenaikan berat badan ibu 1 kg atau lebih
per minggu selama 2 kali berturut-turut
(2 minggu).
c. Timbul salah satu atau lebih gejala atau
tanda-tanda pre eklampsia berat.
1) Bila setelah 1 minggu perawatan di
atas tidak ada perbaikan maka pre
eklampsia ringan dianggap sebagai
pre eklampsia berat.
2) Bila dalam perawatan di rumah sakit
sudah ada perbaikan sebelum 1 minggu
dan kehamilan masih preterm maka
penderita tetap dirawat selama 2 hari
lagi baru dipulangkan. Perawatan
lalu disesuaikan dengan perawatan rawat
jalan.
6. Perawatan
obstetri pasien pre eklampsia ringan :
a. Kehamilan preterm (kurang 37 minggu)
1) Bila desakan darah mencapai
normotensif selama perawatan, persalinan
ditunggu sampai aterm.
2) Bila desakan darah turun tetapi
belum mencapai normotensif selama
perawatan maka kehamilannya dapat
diakhiri pada umur kehamilan 37
minggu atau lebih.
b. Kehamilan aterm (37 minggu atau lebih)
Persalinan ditunggu sampai terjadi
onset persalinan atau dipertimbangkan
untuk melakukan persalinan pada
taksiran tanggal persalinan.
c. Cara persalinan
Persalinan dapat dilakukan secara
spontan. Bila perlu memperpendek kala II.
B. Pre Eklampsia Berat
1.
Pengertian
Pre eklampsia berat adalah suatu
komplikasi kehamilan yang ditandai dengan timbulnya hipertensi 160/110 mmHg
atau lebih disertai proteinuria dan/atau edema pada kehamilan 20 minggu atau
lebih.
2.
Penatalaksanaan
Ditinjau dari umur kehamilan dan
perkembangan gejala-gejala pre eklampsia berat
selama
perawatan maka perawatan dibagi menjadi :
a.
Perawatan aktif yaitu kehamilan segera diakhiri atau diterminasi ditambah
pengobatan medisinal.
b.
Perawatan konservatif yaitu kehamilan tetap dipertahankan ditambah
pengobatan medisinal.
Perawatan
Aktif
Sedapat
mungkin sebelum perawatan aktif pada setiap penderita dilakukan pemeriksaan
fetal
assesment (NST & USG).(3,4,5)
a.
Indikasi (salah satu atau lebih)
1) Ibu
a) Usia kehamilan 37 minggu atau lebih
b) Adanya tanda-tanda atau gejala impending
eklampsia, kegagalan terapi
konservatif yaitu setelah 6 jam
pengobatan meditasi terjadi kenaikan
desakan darah atau setelah 24 jam
perawatan medisinal, ada gejala-gejala
status quo (tidak ada perbaikan).
2) Janin
a) Hasil fetal assesment jelek (NST &
USG)
b) Adanya tanda IUGR
3) Laboratorium
a) Adanya “HELLP syndrome” (hemolisis dan
peningkatan fungsi hepar,
trombositopenia).
3.
Pengobatan Medisinal
Pengobatan medisinal pasien pre eklampsia
berat yaitu :
a. Segera masuk rumah sakit
b. Tirah baring miring ke satu sisi.
Tanda vital diperiksa setiap 30 menit, refleks
patella setiap jam.(3)
c. Infus dextrose 5% dimana setiap 1
liter diselingi dengan infus RL (60-125
cc/jam) 500 cc.
d. Antasida
e. Diet cukup protein, rendah karbohidrat,
lemak dan garam.
f. Pemberian obat anti kejang : magnesium
sulfat
g. Diuretikum tidak diberikan kecuali bila
ada tanda-tanda edema paru, payah
jantung kongestif atau edema anasarka.
Diberikan furosemid injeksi 40 mg/im.
h. Antihipertensi diberikan bila :
1) Desakan darah sistolis lebih 180
mmHg, diastolis lebih 110 mmHg atau MAP
lebih 125 mmHg. Sasaran
pengobatan adalah tekanan diastolis kurang 105
mmHg (bukan kurang 90 mmHg)
karena akan menurunkan perfusi plasenta.
(8,9)
2) Dosis antihipertensi sama dengan
dosis antihipertensi pada umumnya.
3) Bila dibutuhkan penurunan tekanan
darah secepatnya, dapat diberikan obatobat
antihipertensi parenteral
(tetesan kontinyu), catapres injeksi. Dosis yang
biasa dipakai 5 ampul dalam 500
cc cairan infus atau press disesuaikan
dengan tekanan darah.
4) Bila tidak tersedia antihipertensi
parenteral dapat diberikan tablet
antihipertensi secara sublingual
diulang selang 1 jam, maksimal 4-5 kali.
Bersama dengan awal pemberian
sublingual maka obat yang sama mulai
diberikan secara oral. (Syakib
Bakri, 1997)
i. Kardiotonika
Indikasinya bila ada tanda-tanda
menjurus payah jantung, diberikan digitalisasi
cepat dengan cedilanid D.
j. Lain-lain :
1) Konsul bagian penyakit dalam /
jantung, mata.
2) Obat-obat antipiretik diberikan bila
suhu rektal lebih 38,5 derajat celcius dapat
dibantu dengan pemberian kompres
dingin atau alkohol atau xylomidon 2 cc
IM.
3) Antibiotik diberikan atas indikasi.(4)
Diberikan ampicillin 1 gr/6 jam/IV/hari.
4) Anti nyeri bila penderita kesakitan
atau gelisah karena kontraksi uterus. Dapat
diberikan petidin HCL 50-75 mg
sekali saja, selambat-lambatnya 2 jam
sebelum janin lahir.
k. Pemberian Magnesium Sulfat
Cara pemberian magnesium sulfat :
1) Dosis awal sekitar 4 gram MgSO4 IV
(20 % dalam 20 cc) selama 1 gr/menit
kemasan 20% dalam 25 cc larutan
MgSO4 (dalam 3-5 menit). Diikuti segera 4 gr
di bokong kiri dan 4 gram di
bokong kanan (40 % dalam 10 cc) dengan jarum no
21 panjang 3,7 cm. Untuk
mengurangi nyeri dapat diberikan 1 cc xylocain 2%
yang tidak mengandung adrenalin
pada suntikan IM.(6)
2) Dosis ulangan : diberikan 4 gram
intramuskuler 40% setelah 6 jam pemberian
dosis awal lalu dosis ulangan
diberikan 4 gram IM setiap 6 jam dimana
pemberian MgSO4 tidak melebihi 2-3
hari.
3) Syarat-syarat pemberian MgSO4
a) Tersedia antidotum MgSO4 yaitu
calcium gluconas 10%, 1 gram (10% dalam
10 cc) diberikan intravenous
dalam 3 menit.
b) Refleks patella positif kuat
c) Frekuensi pernapasan lebih 16
kali per menit.
d) Produksi urin lebih 100 cc dalam
4 jam sebelumnya (0,5 cc/kgBB/jam).
4) MgSO4 dihentikan bila
a) Ada tanda-tanda keracunan yaitu kelemahan otot, hipotensi, refleks
fisiologis
menurun, fungsi jantung
terganggu, depresi SSP, kelumpuhan dan
selanjutnya dapat menyebabkan
kematian karena kelumpuhan otot-otot
pernapasan karena ada serum 10
U magnesium pada dosis adekuat adalah 4-7
mEq/liter. Refleks fisiologis
menghilang pada kadar 8-10 mEq/liter. Kadar 12-
15 mEq terjadi kelumpuhan
otot-otot pernapasan dan lebih 15 mEq/liter terjadi
kematian jantung.
b) Bila timbul tanda-tanda
keracunan magnesium sulfat
1) Hentikan pemberian
magnesium sulfat
2) Berikan calcium gluconase
10% 1 gram (10% dalam 10 cc) secara IV
dalam waktu 3 menit.
3) Berikan oksigen.
4) Lakukan pernapasan buatan.
c) Magnesium sulfat dihentikan
juga bila setelah 4 jam pasca persalinan sudah
terjadi perbaikan (normotensif).
l. Pengobatan Obstetrik
Cara Terminasi Kehamilan
yang Belum Inpartu
1) Induksi persalinan : tetesan oksitosin dengan syarat nilai Bishop 5
atau lebih dan dengan fetal
heart monitoring.
2) Seksio sesaria bila
:
a) Fetal
assesment jelek
b) Syarat tetesan
oksitosin tidak dipenuhi (nilai Bishop kurang dari 5) atau adanya kontraindikasi tetesan oksitosin.
c) 12 jam setelah
dimulainya tetesan oksitosin belum masuk fase aktif. Pada primigravida lebih diarahkan untuk dilakukan
terminasi dengan seksio sesaria.
Cara Terminasi Kehamilan yang Sudah Inpartu
Kala I
1) Fase laten : 6 jam belum masuk fase aktif maka dilakukan seksio sesaria.
2) Fase aktif :
a) Amniotomi saja
b) Bila 6 jam
setelah amniotomi belum terjadi pembukaan lengkap maka
dilakukan
seksio sesaria (bila perlu dilakukan tetesan oksitosin).
Kala II
Pada persalinan per
vaginam maka kala II diselesaikan dengan partus buatan.
Amniotomi dan tetesan oksitosin dilakukan sekurang-kurangnya 3 menit
setelah pemberian pengobatan medisinal. Pada kehamilan 32 minggu atau kurang
bila keadaan memungkinkan, terminasi ditunda 2 kali 24 jam untuk memberikan kortikosteroid.
Perawatan Konservatif
(1,2)
1) Indikasi : Bila kehamilan preterm kurang 37 minggu tanpa disertai
tanda- tanda inpending eklampsia dengan keadaan janin baik.
2) Pengobatan medisinal : Sama dengan perawatan medisinal pada pengelolaan aktif. Hanya loading dose MgSO4
tidak diberikan intravenous, cukup intramuskuler saja dimana 4 gram pada bokong
kiri dan 4 gram pada bokong kanan.
3) Pengobatan obstetri :
a) Selama perawatan
konservatif : observasi dan evaluasi sama seperti
perawatan aktif
hanya disini tidak dilakukan terminasi.
b) MgSO4 dihentikan bila ibu sudah mempunyai tanda-tanda pre eklampsia ringan,
selambat-lambatnya dalam 24 jam.
c) Bila setelah 24 jam tidak ada perbaikan maka dianggap pengobatan medisinal gagal dan harus diterminasi.
d) Bila sebelum 24 jam hendak dilakukan tindakan maka diberi lebih
dahulu MgSO4 20% 2 gram intravenous.
4) Penderita dipulangkan
bila :
a. Penderita
kembali ke gejala-gejala / tanda-tanda pre eklampsia ringan dan telah dirawat
selama 3 hari.
b. Bila selama 3
hari tetap berada dalam keadaan pre eklampsia ringan :
penderita dapat
dipulangkan dan dirawat sebagai pre eklampsia ringan
(diperkirakan
lama perawatan 1-2 minggu).
Eklampsia
2.1 Pengertian
Eklampsia
adalah kelainan akut pada wanita hamil, dalam persalinan atau masa nifas
yang ditandai dengan timbulnya kejang (bukan
timbul akibat kelainan neurologik)
dan/atau koma dimana sebelumnya sudah
menunjukkan gejala-gejala pre eklampsia.
2.2 Patofisiologi
Sama
dengan pre eklampsia dengan akibat yang lebih serius pada organ-organ hati,
ginjal, otak, paru-paru dan jantung yakni
terjadi nekrosis dan perdarahan pada organorgan
tersebut.
2.3 Gejala Klinis
a.
Kehamilan lebih 20 minggu atau persalinnan atau masa nifas
b.
Tanda-tanda pre eklampsia (hipertensi, edema dan proteinuria)
c.
Kejang-kejang dan/atau koma
d.
Kadang-kadang disertai gangguan fungsi organ.
2.4 Pemeriksaan dan diagnosis
a.
Berdasarkan gejala klinis di atas
b.
Pemeriksaan laboratorium
1) Adanya protein dalam urin
2) Fungsi organ hepar, ginjal, dan jantung
3) Fungsi hematologi / hemostasis.
2.5 Penatalaksanaan
Tujuan
pengobatan :
a.
Untuk menghentikan dan mencegah kejang.
b.
Mencegah dan mengatasi penyulit, khususnya hipertensi krisis
c.
Sebagai penunjang untuk mencapai stabilisasi keadaan ibu seoptimal mungkin
d.
Mengakhiri kehamilan dengan trauma ibu seminimal mungkin.
2.6 Pengobatan Medisinal
Sama
seperti pengobatan pre eklampsia berat kecuali bila timbul kejang-kejang lagi
maka dapat diberikan MgSO4 2 gram intravenous
selama 2 menit minimal 20 menit
setelah pemberian terakhir. Dosis tambahan 2
gram hanya diberikan 1 kali saja. Bila
setelah diberi dosis tambahan masih tetap
kejang maka diberikan amobarbital /
thiopental 3-5 mg/kgBB/IV perlahan-lahan.
Perawatan bersama : konsul bagian saraf,
penyakit dalam / jantung, mata, anestesi dan
anak. Perawatan pada serangan kejang : di
kamar isolasi yang cukup terang / ICU
2.7 Pengobatan Obstetrik
a.
Sikap dasar : Semua kehamilan dengan eklampsia harus diakhiri dengan tanpa
memandang umur kehamilan dan keadaan janin.
b.
Bilamana diakhiri, sikap dasar : Kehamilan diakhiri bila sudah terjadi
stabilisasi
(pemulihan) hemodinamik dan metabolisme ibu. Stabilisasi ibu dicapai
dalam 4-
8 jam setelah salah satu atau lebih keadaan dibawah :
1) Setelah pemberian obat anti kejang terakhir.
2) Setelah kejang terakhir
3) Setelah pemberian obat-obat antihipertensi terakhir
4) Penderita mulai sadar
(responsif dan orientasi)
2.8. Terminasi Kehamilan
a. Apabila pada pemeriksaan, syarat-syarat untuk mengakhiri persalinan
per
vaginam dipenuhi maka persalinan tindakan dengan trauma yang minimal.
b. Apabila penderita sudah inpartu pada fase aktif, langsung dilakukan
amniotomi
lalu diikuti partograf. Bila ada kemacetan dilakukan seksio sesar.
c.
Tindakan seksio sesar dilakukan pada keadaan :
1) Penderita belum inpartu
2) Fase laten
3) Gawat janin
4) Tindakan seksio sesar dikerjakan dengan mempertimbangkan keadaan atau
kondisi ibu.