Selamat Membaca & Semoga Bermanfaat.., *_*

Jumat, 20 Maret 2015

Konseptual Model Kebidanan



BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Bidan merupakan salah satu tenaga kesehatan yang memiliki posisi penting dan strategis terutama dalam penurunan angka kesakitan, Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Bidan memberikan pelayanan kebidanan yang berkesinambungan dan paripurna yang berfokus pada aspek pencegahan, promosi yang belandasan kemitraan. Bidan juga memberikan asuhan kebidanan yaitu bantuan yang di berikan oleh bidan kepada individu pasien ataupun klien yang pelaksanaannya dilakukan dengan cara bertahap, sistematis dan melalui suatu proses yang disebut manajemen kebidanan.
            Pelayanan serta asuhan kebidanan yang diberikan oleh bidan berdasarkan cara pandang atau pola pikir atau model pembangunan kesehatan yang memandang masalah kesehatan saling terkait yang disebut dengan Paradigma Kebidanan.
           Dalam makalah ini lebih menekankan pada Asuhan Kebidanan Ibu Hamil dan Asuhan Kebidanan Ibu Bersalin .

1.2    Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian Konseptual Model Kebidanan?
2.      Apa saja macam Model Kebidanan?
3.      Apa saja Teori Model Kebidanan?
4.      Apa saja Teori yang Mempengaruhi Model Kebidanan?
5.      Apa itu Paradigma Sehat?
6.      Apa itu Paradigma Kebidanan?

1.3    Tujuan dan Manfaat

·         Tujuan umum
Untuk menambah pengetahuan mahasiswi bidan tentang Konseptual Model Kebidanan yang menekankan pada Asuhan Kebidanan Ibu Hamil dan Asuhan Kebidanan Ibu Bersalin .
·         Manfaat Penulisan
Hasil dari penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada semua pihak, khususnya kepada mahasiswi kebidanan untuk menambah pengetahuan dan wawasan mengenai Asuhan Kebidanan Ibu Hamil dan Asuhan Kebidanan Ibu Bersalin .



BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pengertian Konseptual Model Kebidanan

1.Pengertian
a.   Konsep
adalah penopang sebuah teori yang menjelaskan tentang suatu teori yang dapat diuji melalui observasi atau penelitian.
b.  Model
     adalah contoh atau peraga untuk menggambarkan sesuatu.
c.   Model kebidanan
adalah suatu bentuk pedoman atau acuan yang merupakan kerangka kerja seorang      bidan dalam memberikan asuhan kebidanan.
       d.   Model konseptual kebidanan
1.Gambaran abstrak suatu ide yang menjadi dasar suatu disiplin ilmu.
2.Menunjukkan pada ide global tentang individu, kelompok, situasi, dan kejadian yang menarik untuk suatu ilmu.
3.Model memberi kerangka untuk memahami dan mengembangkan praktek untuk  membingbing tindakan dalam pendidikan untuk mengidentifikasi pertanyaan yang harus dijawab dalam penelitian
4.Model konseptual kebidanan biasanya berkembang dari teori dasar intuitif keilmuan yang sering kali disimpulkan dalam kerangka acuan disiplin ilmu yang bersangkutan (Fawcett, 1992)
Kegunaan model konseptual adalah :
1.    Untuk menggambarkan beberapa aspek (konkret maupun abstrak)
2.    Merupkana gagasan mental sebagai bagian deri teori yang membantu ilmu-    ilmu social mengonsep dalam menyamakan aspek-aspek proses social.
3.    Menggambarkan suatu kenyataan gambaran abstrak sehingga banyak
     digunakan disiplin ilmu lain sebagai parameter garis besar praktik.

2. Model dalam kebidanan berdasarkan pada 4 elemen:
a.       Orang (wanita, ibu, pasangan, dan orang lain)
b.      Kesehatan
c.       Lingkungan
d.      Kebidanan  

      3. Model kebidanan dapat digunakan untuk:
a.    Menyatukan data secara lengkap
1)      Tindakan sebagai bantuan dalam komunikasi antara bidan dan pemimpin
2)      Dalam pendidikan untuk mengorganisasikan program belajar
3)      Untuk komunikasi bidan dengan klien   
b.    Menjelaskan siapa itu bidan, apa yang dikerjakan, keinginan dan kebutuhan untuk:
1)      Mengembangkan profesi
2)      Mendidik  mahasiswa bidan
3)      Komunikasi dengan klien dan pimpinan

 4.  Komponen Model Kebidanan
Model Kebidanan dibagi menjadi 5 komponen, yaitu:
1.      Memonitor kesejahteraan ibu
2.      Mempersiapkan ibu dengan memberikan pendidikan dan konseling
3.      Intervensi teknologi seminimal mungkin
4.      Mengidentifikasi dan member bantuan obstetric
5.      Lakukan rujukan

2.2     Beberapa Macam Model Kebidanan
Model dalam mengkaji kebutuhan dalam praktek kebidanan
Model ini memiliki 4 unit yang penting, yaitu:
a.       Ibu dalam keluarga
b.      Konsep kebutuhan
c.       Partnership
d.      Faktor Kedokteran dan keterbukaan
1.   Model medical
Merupakan salah satu model yang dikembangkan untuk membantu manusia dalam memahami proses sehat sakit dalam arti kesehatan. Tujuannya adalah sebagai kerangka kerja untuk pemahaman dan tindakan sehingga dipertanyakan dalam model ini adalah “Dapatkah dengan mudah dipahami dan dapatkah dipakai dalam praktek?”
2.   Model sehat ini untuk semua (Health For All-HFA)
Model ini dicetuskan oleh WHO dalam Deklarasi Alma Ata tahun 1978. Fokus pelayanan ditujukan pada wanita, keluarga dan masyarakat serta sebagai sarana komunikasi dari bidan-bidan negara lain. Tema HFA menurut Euis dan Simmet (1992):
3.   Mengurangi ketidaksamaan kesehatan
4.    Perbaikan kesehatan melalui usaha promotif dan preventif
5.    Partisipasi masyarakat
6.    Kerjasama yang baik pemerintah dengan sektor lain yang terkait
7.    Primary Health Care (PHC) adalah dasar pelayanan utama dari sistem pelayanan kesehatan.
       PHC adalah pelayanan pelayanan kesehatan pokok yang didasarkan pada praktek, ilmu pengetahuan yang logis dan metode sosial yang tepat serta teknologi universal yang dapat diperoleh oleh individu dan keluarga dalam komunitas melalui partisipasi dan merupakan suatu value dalam masyarakat dan negara yang mampu menjaga setiap langkah perkembangan berdasarkan kepercayaan dan ketentuannya.
 Dari model HFA dan definisi PHC terdapat lima konsep (WHO, 1998):
a.       Hak penentuan kesehatan oleh cakupan populasi universal dengan penyedia asuhan berdasarkan kebutuhan
b.      Pelayanan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitative, dimana pelayanan dapat memenuhi segala macam tipe-tipe kebutuhan yang berbeda harus disediakan dalam satu kesatuan (semua pelayanan dalam satu tempat).
c.       Pelayanan harus efektif, dapat diterima oleh norma, dapat menghasilkan dan diatur, yaitu pelayanan harus dapat memenuhi kebutuhan yang dapat diterima oleh masyarakat dan pelayanan harus dimonitor dan diatur secara efektif.
d.      Komunitas harus terlibat dalam pengembangan, penentuan pemonitoran pelayanan, yaitu penentuan asuhan kesehatan merupakan tanggung jawab semua komunitas dan kesehatan dipandang sebagai faktor yang berperan untuk pengembangan selutuh lapisan masyarakat.
e.       Kolaborasi antar sekolah untuk kesehatan itu sendiri dan pelayanan kesehatan tidak dapat bergantung pada pelayanan kesehatan saja teapi juga dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti: perumahan, populasi lingkungan, persediaan makanan dan metode pubikasi.
       Delapan area untuk mencapai kesehatan bagi semua melalui PHC, delapan area ini adalah:
a.       Pendidikan tentang masalah kesehatan umum dan metode pencegahan dan    pengontrolannya.
b.      Promosi kesehatan tentang persediaan makanan dan nutrisi yang layak.
c.       Persediaan air yang sehat dan sanitasi dasar yang adekuat.
d.      Kesehatan ibu dan anak termasuk keluarga berencana
e.       Imunisasi
f.       Pencegahan dan pengawasan penyakit endemik
g.      Pengontrolan yang tepat terhadap kecelakaan dan penyakit umum
h.      Persediaan obat-obat essensial (Morley, et.al, 1989)

8.   Model sistem maternitas di komunitas yang ideal University of Southeer     Queensland.
a.    Model kurikulum konseptual partnership dalam praktek kebidanan berdasarkan pada model pelayanan kesehatan dasar (Guiililand dan Pairman, 1995)
b.    Partnership kebidanan adalah sebuah filosofi prospektif dan suatu model kepedulian (model of care) sebagai model filosogi prospektif berpendapat bahwa wanita dan bidan dapat berbagi pengalaman dalam proses persalinan
c.    Persalinan merupakan proses yang sangat normal
d.    Sebuah hubungan partnership menggambarkan dua orang yang bekerjasama dan saling menguntungkan
e.   Bidan bekerja keras bahwa bidan tidak memaksakan suatu tindakan melainkan membantu wanita untuk mengambil keputusan sendiri
f.     Konsep “wanita” dalam asuhan kebidanan meliputi mitra perempuan tersebut,   keluarga, kelompok dan budaya.
g.    Konsep bidan dalam asuhan kebidanan meliputi bidan itu sendiri, mitranya atau keluarga, budaya/sub kultur bidan tersebut dan wewenang professional bidan
h.   Dengan membentuk hubungan antara bidan dan wanita akan membawa mereka sendiri sebagai manusia kedalam suatu hubungan partnership yang mana akan mereka gunakan dalam teurapetik. Bidan harus mempunyai self knowing, self nursing, dan merupakan jaringan pribadi dan kolektif yang mendukung.
i.     Sebagai model of care the midwifery partnership didasarkan padda prinship midwifery care berikut ini:
1)   Mengakui dan mendukung adanya keterkaitan antara badan, pikiran,   jiwa, fisik, dan lingkungan kultur sosial (holism)
2)   Berasumsi bahwa mayoritas kasus wanita yang bersalin dapat ditolong tanpa adanya intervensi
3)   Mendukung dan meningkatkan proses persalinan alami tersebut
4)   Bidan menggunakan suatu pendekatan pemecahan masalah dengan  seni dan ilmu pengetahuan.
5)   Relationship-based dan kesinambungan dalam motherhood
6)   Woman centered dan bertukar pikiran antara wanita
7)    Kekuasaan wanita yaitu berdasarkan tanggung jawab bersama untuk suatu pengambilan suatu keputusan, tetapi wanita mempunyai control atas keputusan terakhir mengenai keadaan diri dan bayinya.
8)    Dibatasi oleh hukum dan ruang lingkup praktek individu: dengan persetujuan wanita bidan merujuk fassilitas pelayanan kesehatan yang lebuh berkualitas.
     Hubungan antara wanita, bidan dan dokter harus didasari oleh rasa hormat, timbal balik dan saling percaya, bidan boleh mempertanyakan masalah medis atau perlindungan hukum bagi wanita untuk alas anapapun, jika wanita tersebut tidak mampu berbicara atass namanya sendirinya
     Persepsi mahasiswa kebidanan ditentukan oleh bidan di bagian pelayanan  untuk mengantisipasi mahasiswa dalam  menghadapi kasus yang ditemukan di dalam tim, praktek mahasiswa akan dibatasi oleh bidan dan akan mengajarkan beberapa pelayanan khusus kebidananyang akan meningkatkan  kemampuan dan keterampilan mahasiswa , peran perseptor akan semakin berkurang dalam praktek dan hanya akan menjadi penasehat dan pendukung.

2.3   Teori Model Kebidanan
1.   Ruper, lagan dan Tietney Activity of living Model:
Model yang dipengaruhi oleh Virginia Henderson Model. Terdiri dari 5 elemen:
a.       Rentang Kehidupan
b.      Aktivitas Kehidupan
c.       Ketergantungan atau kebebasan individu
d.      Faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas individu
Dalam model ini diidentifikasi adanya 12 macam kebutuhan manusia bebagaia proses kehidupan yaitu:
a.       Mempertahankan lingkungan yang aman
b.      Komunikasi
c.       Bernafas
d.      Makanan dan minuman
e.       Eliminasi
f.       Berpakaian dan kebersihan diri
g.      Pengaturan suhu tubuh
h.      Mobilisasi
i.        Bekerja dan bermain
j.        Seksualitas
k.      Tidur

2.  Rosermary Methuen
Merupakan aplikasi dari Oream dan Kenderson, model terhadap asuhan kebidanan, dimana dalam sistem perawatan ada 5 metode pemberian bantuan yaitu:
a. Mengerjakan untuk klien
b. Membimbing klien
c. Mendukung klien (secara fisik dan psikologis)
d. Menyediakan lingkungan yang mendukung kemampuan klien untuk memenuhi kebutuhan sekarang dan massa akan datang
e.  Mengajarkan klien
Peran bidan adalah mengidentifikasi masalah klien dan melakukan sesuatu untuk membantu klien untuk memenuhi kebutuhannya. Manfaat dari model ini menurut Methuen adalah sebagai bukti praktek pengkajian kebidanan yang tidak didasarkan pada kerangka kerja dan tradisi manapun. Sebagai dasarnya adalah kesehatan bukan kesakitan sehingga asuhan yang diberikan efektif bagi ibu dan memberikan kebebasan  pada bidan untuk melakukan asuhan.

3.   Roy Adaption Model
Pencetusnya adalah suster Callista Roy (1960), sebagai dasarnya makhluk bio-psiko-sosial yang berhubungan dengan lingkungan. Dikemukakan tiga macam stimulasi yang mempengaruhi adaptasi kesehatan dari individu, yaitu:
a.   Vokal stimuli
Yaitu stimuli dari lingkungan di dekat individu, contohnya : kesehatan bayi akan mempengaruhi ibu yang baru saja melakukan fungsinya.
b.   Kontekstual stimuli
Yaitu faktor-faktor umum yang mempengaruhi wanita. Contohnya: kondisi kehidupan yang buruk
c.   Residual stimuli
Yaitu faktor internal meliputi kepercayaan, pengalaman dan sikap. Model kebidanan ini berguna bagi bidan dalam melakukan pengkajian secara menyeluruh (holistik).

4. Neman Sistem Model
Yaitu model yang merupakan awl dari kesehatan individu dan komunitass (sistem klien) yang di gambarkan sebagai pusat energi yang di kelilingi oleh garis kekuatan dan pertahanan.
a. Pusatnya adalah variable fisiologis, psikologis, sosial cultural dan spiritual.
b. Garis kekuatan adalah kemampuan sistem klien untuk mempertahankan    keseimbangan tubuh.
c.  Garis pertahanan menunjukkan status kesehatan umum dari individu.

2.4  Teori yang Mempengaruhi Model Kebidanan
Sejarah kebidanan berjalan panjang mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan serta kebutuhan masyarakat. Model dalam kebidanan mengadopsi dari beberapa model lainnya dan berdasarkan teori yang sudah ada. Model kebidanan ini sebagai tolak ukur bagi bidan dalam memberikan pelayanan kebidanan kepada klien sehingga akan terbina suatu partnership dalam asuhan kebidanan. Dengan ini diharapkan profesi kebidanan akan dapat memberikan sumbangan yang berarti dalam upaya menurunkan angka kematian ibu dan angka kematian bayi yang mengutamakan upaya-upaya promotif dan preventif. Teori yang mempengaruhi model kebidanan adalah
a.       Teori Reva Rubin mengenai pencapaian peran ibu.
b.      Teori Ramona Mercer mengenai stress antepartum dan pencapaian peran ibu.
c.       Teori Ernestine Wiedenbach mengenai model praktik kebidanan/keperawatan.
d.       Teori Ela Joy Lerhman dan Morten mengenai perawatan diri
e.       Teori Jean Ball “Kursi Goyang” mengenai keseimbangan emosional Ibu setelah  melahirkan.







2.5 Paradigma Sehat
      Dalam rangka meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan derajat kesehatan, pemerintah membuat satu model dalam pembangunan kesehatan yaitu PARADIGMA SEHAT.
Paradigma Sehat adalah cara pandang, pola pikir, atau model pembangunan kesehatan yang melihat masalah kesehatan saling berkait dan mempengaruhi dengan banyak faktor yang bersifat lintas sektor, dan upayanya lebih diarahkan pada peningkatan, pemeliharaan dan perlindungan kesehatan, bukan hanya penyembuhan orang sakit atau pemulihan kesehatan.
Secara MAKRO dengan adanya Paradigma sehat berarti pembangunan semua sektor harus memperhatikan dampaknya dibidang kesehatan. Secara MIKRO dengan adanya Paradigma sehat maka Pembangunan kesehatan lebih menekankan pada upaya promotif dan preventif.
Paradigma Sehat ini merupakan model dalam pembangunan kesehatan tetapi juga dijadikan model dalam Asuhan Kebidanan, hal ini karena :
1. Dengan Paradigma sehat akan merubah cara pandang masyarakat tentang kesehatan termasuk kesehatan reproduksi, dan mendorong masyarakat menjadi mandiri dan sadar akan pentingnya upaya promotif dan preventif.
2.  Mengingat paradigma sehat merupakan upaya untuk meningkaatkan derajat kesehatan di Indonesia yang utamanya dinilai dari AKI dan AKB, maka Bidan sebagai bagian dari tenaga yang turut bertanggung jawab terhadap menurunnya AKI dan AKB perlu menjadikan paradigma sehat sebagai model.
3.   Paradigma Sehat merupakan suatu gerakan nasional sehingga Bidan pun harus menjadikan paradigma sehat sebagai model atau acuan.
     Paradigma sehat dikatakan sebagai suatu perubahan sikap, orientasi atau MindSet, Beberapa pandangan yang berubah menjadi Paradigma Sehat, yaitu :
                    1. Kesehatan sebagai kebutuhan yang bersifat pasif dirubah menjadi pandangan bahwa Kesehatan bersifat aktif karena merupakan keperluan dan bagian dari HAM.
                    2. Kesehatan sebagai konsumtif dirubah menjadi pandangan bahwa Kesehatan merupakan suatu investasi karena menjamin adanya SDM yang berproduktif secara sosial dan ekonomi.
                    3. Kesehatan hanya bersifat penanggulangan jangka pendek dirubah menjadi pandangan bahwa kesehatan bagian upaya pengembangan SDM berjangka panjang.
                    4. Pelayanan kesehatan bukan hanya pelayanan medis dirubah menjadi pandangan bahwa Kesehatan pelayanan kesehatan paripurna, dengan memandang manusia sebagai manusia seutuhnya.
                    5.Pelayanan kesehatan terpecah-pecah dirubah menjadi pandangan bahwa Kesehatan terpadu.
                    6. Kesehatan hanya jasmani /fisik dirubah menjadi pandangan bahwa Kesehatan mencakup mental dan sosial.
                    7. Fokus pada penyakit dirubah menjadi pandangan bahwa Kesehatan tergantung segmen/permintaan pasar.
                    8. Sasaran pelayanan kesehatan masyarakat umum dirubah menjadi pandangan bahwa kesehatan tanggung jawab juga masyarakat swasta (private).
        9. Kesehatan merupakan urusan pemerintah dirubah menjadi pandangan bahwa    kesehatan juga menjadi urusan swasta.
                    10.Biaya kesehatan publik subsidi pemerintah dirubah menjadi pandangan bahwa Kesehatan ditanggung bersama pengguna jasa.
                    11.Pembayaran biaya setelah pelayanan dirubah menjadi pandangan bahwa Kesehatan dapat dibiaya dimuka (JPKM).
                    12.Kesehatan berfungsi sosial dirubah menjadi pandangan bahwa Kesehatan juga  berfungsi ekonomi.
                    13.Pengaturan secara sentralis dirubah menjadi pandangan bahwa pengaturan desentralisasi.
                    14. Pengaturan secara top down dirubah menjadi pandangan bahwa pengaturan bottom up.
                    15.Birokratis dirubah menjadi enterpreuner.
                    16.Masyarakat dibutuhkan peran sertanya, dirubah menjadi pandangan bahwa Kesehatan Kemitraan.


2.6 Paradigma Kebidanan
1. Pengertian Paradigma Kebidanan
       Paradigma kebidanan adalah suatu cara pandang bidan dalam memberikan pelayanan.  (Mustika Syofyan, et al, 2004; 18) .Paradigma berasal dari bahasa Latin/Yunani, paradigma yang berarti model/pola. Paradigma juga berarti pandangan hidup, pandangan suatu disiplin ilmu/profesi. Kebidanan dalam bekerja memberi pelayanan profesi berpegang pada paradigma berupa pandangan terhadap manusia/perempuan, lingkungan, perilaku, pelayanan kebidanan dan keturunan. (Atik Purwandari, 2008; 48)
Paradigma adalah cara pandang seseorang terhadap suatu objek. Paradigma kebidanan adalah suatu cara pandang bidan dalam memberikan pelayanan kebidanan. Paradigma atau cara pandang seseorang terhadap objek berpengaruh dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaan suatu tindakan. Begitu juga dalam kebidanan, paradigma seorang bidan sangat mempengaruhi pengambilan keputusan dan tindakan seorang bidan. Paradigma kebidanan sangat penting untuk diketahui agar para bidan mempunyai pandangan yang sama terhadap individu dan lingkungan yang akan dihadapinya.

     2. Komponen Paradigma Kebidanan
            Komponen paradigm kebidanan meliputi:
a. Wanita.
b. Lingkungan
c. Perilaku
d. Pelayanan Kebidanan
e. Keturunan

     3. Bentuk Asuhan Kebidanan
         Asuhan kebidanan adalah penerapan fungsi, kegiatan, dan tanggung jawab bidan dalam pelayanan yang diberikan kepada klien yang memiliki kebutuhan dan atau masalah kebidanan (kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, keluarga, kesehatan reproduksi, dan pelayanan kesehatan masyarakat).
(Suryani Soepardan, 2008; 5)
Asuhan kebidanan adalah fungsi dan kegiatan yang tanggung jawab bidan dalam memberi pelayanan kepada klien yang mempunyai kebutuhan/masalah dalam bidang kesehatan ibu di masa hamil, persalinan, nifas, bayi setelah lahir, serta keluarga berencana.(Atik Purwandari, 2008; 7)
Asuhan kebidanan mencakup asuhan kebidanan pada ibu hamil, asuhan kebidanan pada ibu bersalin, asuhan kebidanan bayi baru lahir, dan asuhan kebidanan pada ibu nifas.
Dalam makalah ini yang akan dibahas adalah Asuhan Kebinanan pada Ibu Hamil dan Asuhan Kebinanan pada Ibu Bersalin.
   1.Asuhan Kebidanan pada Ibu Hamil
       Asuhan kebidanan pada ibu hamil dilakukan dengan cara mengumpulkan dat, menetapkian diagnosis dan rencana tindakan serta melaksanakannya untuk menjamin keamanan, kepuasan dan kesejahteraan ibu dan janin selama periode kehamilan
Tujuan pemeriksaan dan pengawasan Ibu hamil
a. Tujuan umum
    Menyiapkan seoptimal mungkin fisik dan mental ibu dan anak selama dalam kehamilan, persalinan dan nifas, sehingga didapatkan ibu dan anak yang sehat.
b. Tujuan khusus
·         Mengenal dan menangani penyakit-penyakit yang mungkin dijumpai dalam kehamilan, persalinan dan nifas
·         Mengenal dan mengobati penyakit-penyakit yang mungkin diderita sedini mungkin
·         Menurunkan angka morbiditas dan mortalitas ibu dan anak
·         Memberikan nasehat-nasehat tentang cara hidup sehat sehari-hari

Standar Asuhan Kehamilan Kunjungan antenatal care (ANC) minimal :
1. Satu kali pada trimester 1 (usia kehamilan 0 – 13 minggu).
2. Satu kali pada trimester II (usia kehamilan 14 – 27 minggu)
3. Dua kali pada trimester III (usia kehamilan 18 – 40 minggu)

Kehamilan memberikan perubahan baik secara fisiologis maupun psikologis bagi ibu hamil. Perubahan-perubahan yang bersifat fisiologis misalnya; pusing, mual, tidak nafsu makan, BB bertambah dan sebagainya. Sedangkan perubahan psikologis yang menyertai ibu hamil diantaranya; ibu menjadi mudah tersinggung, bangga dan bergairah dengan kehamilannya dan sebagainya.
Adapun pelaksanaan komunikasi bagi ibu hamil, bidan diharapkan :(a) mampu melaksanakan asuhan dan tindakan pemeriksaan, pendidikan kesehatan dan segala bentuk pelayanan kebidanan ibu hamil; (b) dengan adanya komunikasi terapeutik diharapkan dapat meredam permasalahan psikososial yang berdampak negatif bagi kehamilan; (c) membantu ibu sejak pra konsepsi untuk mengorganisasikan perasaannya, pikirannya untuk menerima dan memelihara kehamilannya.

    2.Asuhan Kebidanan pada Ibu Bersalin

       Asuhan persalinan oleh bidan dimulai dengan mengumpulkan data, menginterpretasikan data untuk menentukan diagnosis persalinan dan mengidentifikasi masalah/kebutuhan, membuat rencana dan melaksanakan tindakan dengan memantau kemajuan persalinan serta menolong persalinan untuk menjamin keamanan dan kepuasan ibu selama periode persalinan.
       Asuhan yang di berikan Bidan pada Ibu Bersalin. Bidan melakukan Observasi pada Ibu Bersalin, yani pada Kala I, Kala II, kala III, Dan kala IV.
1. kala I: Pembukaan 0-10
    Pembukaan: 1. fase laten: 8jam : 0-3
                       2. fase Aktif: 6jam : 1. Akselerasi: (2jam) 3-4
                                                        2. Dilatasi max: (2jam) 4-9
                                                        3. Deselerasi: (2jam) 9-10
 Asuhan yang diberikan :
 1. memonitoring tekanan darah, suhu badan, denyut nadi setiap 4jam
 2. mendengarkan denyut jantung janin setiap jam pada fase laten dan 30    menit pada fase aktif.
 3. palpasi kontraksi uterus setiap jam setiap fase laten dan 30 menit pada fase aktif.
 4. memonitoring pembukaan servik penurunan bagian daerah terendah pada fase laten dan fase aktif setiap 4jam.
 5. memonitoring pengeluaran urine setiap 2jam
 6. menghadirkan orang yang dianggap penting oleh ibu seperti suami, keluarga atau  teman dekat untuk mendampingi ibu.
 7. Menginformasikan hasil pemeriksaan dan rencana asuhan selanjutnya serta kemajuan persalinan dan meminta persetujuan ibu untuk rencana asuhan selanjutnya.
 8. mengatur aktifitas dan posisi dan membimbing relaksasi sewaktu ada his.
 9. menjaga privasi ibu.
10. menjaga kebersihan diri
11. memberi rasa aman dan menghindari rasa panas, mengurangi rasa nyeri ketika his  misalnya dengan membuat rasa sejuk dan masase.
12. memberikan cukup minum dan makan
13. memastikan dan mempertahankan kandung kemih tetap kosong
14. menciptakan rasa kedekatan antara bidan dan ibu misalnya dengan sentuhan.

2. kala II: Lahirnya janin
   Asuhan yang diberikan :
1. memberikan dukungan terus menerus kepada ibu
2. memastikan kecukupan makan dan minum
3. mempertahankan kebersihan diri
4. mempersiapkan kelahiran bayi
5. membimbing meneran pada waktu his
6. melakukan pemantauan keadaan ibu dan denyut jantung bayi terus menerus
7. melakukan amniotomi
8. melakukan episiotomi jika diperlukan
9. melahirkan kepala sesuai mekanisme persalinan dan jalan lahir
10.melonggarkan atau melepaskannya, bila ada lilitan tali pusat pada kepala dan badan  bayi.
11. melahirkan bahu dan diikuti badan bayi
12. nilai tanda-tanda kehidupan bayi minimal 3 aspek adalah asuhan bernafas , denyut  jantung, warna kulit
13. klem/jepit tali pusat didua tempat dan potong dengan gunting steril/DTT
14. menjaga kehangatan bayi
15. merangsang pernafasan bayi bila diperlukan

3. kala III: Lahirnya Plasenta
Asuhan yang diberikan :
1. melaksanakan menagemen aktif kala III
   a. melakukan palpasi uterus untuk memastikan tidak ada bayi laindalam 2menit
   b. memberikan suntikan oksitosin 10 im
       - segera diberikan dalam 2 menit setelah kelahiran bayi, jika bayi tunggal
       - pemberian oksitosin 10 unit im dapat diulangi setelah 15 jika plasenta
         masih belum lahir.
       - jika oksitosin tidak tersedia, rangsang putting payudara ibu dan susukan
          bayi segera guna menghasilkan oksitosin alamiah.
    c. melakukan penegangan tali pusat terkendali (PTT)
    d. setelah ada tanda-tanda pelepasan plasenta, plasenta dilahirkan dengan
        perasat brandt Andrew.
    e. setelah kelahiran plasenta, lakukan masase fundus uteri
2. memotong dan mengikat tali pusat
3. memperlihatkan/mendekatkan bayi dengan ibunya.
4. meletakkan bayi segera mungkin, kurang dari 30 menit setelah lahir bila
                Memungkinkan.

4. kala IV: 2jam Post partum
Asuhan yang diberikan :
1. lanjutkan pemantauan kontraksi uterus, pengeluaran darah, tanda-tanda
    Vital
   a. 2-3 kali selama 10 menit pertama
   b. setiap  15 menit selam 1 jam
   c. setiap 20-30 menit selama jam kedua
   d. jika uters tidak berkontraksi dengan baik, lakukan masase fundus dan
      berikan methyl-ergometrine 0,2 mg IM (jika ibu tidak mengalami
      hipertensi).
2. melakukan pemeriksaan jalan lahir dan perineum
3. melakukan pemeriksaan kelengkapan plasenta dan selaputnya
4. ajarkan ibu/keluarga tentang cara mengecek/meraba uterus dan
    memasasenya.
5. evaluasi darah yang hilang.
6. memantau pengeluaran klohkea (biasanya tidak lebih dari darah haid )
7. mempertahankan kandung kemih tetep kosong (tidak dengan kateterisasi).

    3.Manfaat Paradigma Dikaitkan dengan Asuhan Kebidanan
        Dengan paradigma kebidanan maka asuhan yang diberikan bidan harus berdasarkan pemikiran kritis, pengambilan keputusan yang bertanggung jawab dengan ukuran rasional untuk menghindari intervensi yang tidak perlu sehingga praktik kebidanan harus berdasarkan bukti (evidence based).
Salah satu manifestasi dari evidence based dalam Asuhan Sayang Ibu (ASI) selama persalinan termasuk antara lain:
a. Memberikan dukungan emosional
b. Membantu pengaturan posisi
c. Memberikan cairan dan nutrisi
d. Memperbolehkan ke kamar mandi secara teratur
e. Pencegahan terjadinya infeksi (Susanti, dkk, 2009; 55)
Asuhan Kebidanan adalah penerapan fungsi dan kegiatan yang menjadi tanggung jawab dalam memberikan pelayanan kepada klien yang mempunyai kebutuhan/masalah dalam bidang kesehatan ibu pada masa hamil, masa bersalin, nifas, bayi setelah lahir serta keluarga berencana. Paradigma kebidanan bermanfaat bagi bidan dalam memberikan asuhan kebidanan antara lain :
            a. Manfaat Bagi Bidan
1) Membantu bidan dalam mengkaji kondisi klien
2) Membantu bidan dalam memahami masalah dan kebutuhan klien
3) Memudahkan dalam merencanakan dan melaksanakan asuhan yang berkualitas sesuai dengan kondisi klien.
            b. Manfaat Bagi Pasien
1) Membantu klien untuk mendapatkan rasa nyaman dan aman dalam menerima asuhan kebidanan
2) Membantu klien dalam meningkatkan kemampuan berperan serta sebagai individu yang bertanggungjawab atas kesehatannya
3) Meningkatkan perilaku positif klien yang akan meningkatkan kesehatan ibu dan anak

     4. Manfaat paradigma dikaitkan dengan asuhan kebidanan
a. Orang/individu/manusia adalah fokus paradigma.
b. Orang/manusia harus bertanggung jawab terhadap kesehatan sendiri.
c. Manusia berinteraksi dengan lingkungan/masyarakat.
d. Lingkungan /masyarakat dapat mempengaruhi kesehatan.
e. Bidan sebagai manusia harus memiliki ilmu pengetahuan untuk mengetahui bagaimana diri       sendiri.
f. Dengan mengetahui bagaimana diri sendiri diharapkan bidan dapat memahami orang lain/manusia lain, sehingga bidan harus bersikap objektif dalam memberikan pelayanan kebidanan kepada wanita-wanita.
g. Sifat-sifat manusia harus diperhatikan, keterbukaan dan kesabaran antara hubungan bidan dan wanita sangat dibutuhkan.
h. Interaksi antara bidan dan pasien mendorong keterbukaan hubungan bidan dengan wanita.
i. Bidan–pasien saling membutuhkan.
j. Bidan harus menganggap pekerjaan sebagai suatu hal yang menarik, menumbuhkan ketertarikan dalam aspek kesehatan, contohnya saja dalam interaksi bidan–pasien dan dalam bekerja dengan teman-teman dan tim kesehatan lain.


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

     Model konseptual kebidanan biasanya berkembang dari teori dasar intuitif keilmuan yang sering kali disimpulkan dalam kerangka acuan disiplin ilmu yang bersangkutan (Fawcett, 1992)
Kegunaan model konseptual adalah :
Untuk menggambarkan beberapa aspek (konkret maupun abstrak), Merupkana gagasan mental sebagai bagian deri teori yang membantu ilmu-    ilmu social mengonsep dalam menyamakan aspek-aspek proses social, Menggambarkan suatu kenyataan gambaran abstrak sehingga banyak digunakan disiplin ilmu lain sebagai parameter garis besar praktik.
 Asuhan kebidanan adalah penerapan fungsi, kegiatan, dan tanggung jawab bidan dalam pelayanan yang diberikan kepada klien yang memiliki kebutuhan dan atau masalah kebidanan (kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, keluarga, kesehatan reproduksi, dan pelayanan kesehatan masyarakat).
(Suryani Soepardan, 2008; 5)
Asuhan kebidanan adalah fungsi dan kegiatan yang tanggung jawab bidan dalam memberi pelayanan kepada klien yang mempunyai kebutuhan/masalah dalam bidang kesehatan ibu di masa hamil, persalinan, nifas, bayi setelah lahir, serta keluarga berencana.(Atik Purwandari, 2008; 7)
Asuhan kebidanan mencakup asuhan kebidanan pada ibu hamil, asuhan kebidanan pada ibu bersalin, asuhan kebidanan bayi baru lahir, dan asuhan kebidanan pada ibu nifas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar