Selamat Membaca & Semoga Bermanfaat.., *_*

Kamis, 19 Maret 2015

KDK (Konsep Dasar Kebidanan) Istirahat Tidur



BAB I
PENDAHULUAN

1.1ATARBELAKANG  
Setiap orang membutuhkan istirahat dan tidur agar dapat mempertahankan status kesehatan pada tingkat optimal. Selain itu proses tidur dapat memperbaiki berbagai sel dalam tubuh. Pemenuhan kebutuhan istirahat dan tidur terutama sangat penting bagi orang yang sedang sakit agar lebih cepat sembuh dan memperbaiki kerusakan sel. Apabila kebutuhan istirahat cukup maka jumlah energy yang dibutuhkan dapat terpenuhi, sehingga status kesehatan dan kegiatan sehari-hari pulih kembali. Selain itu orang yang mengalami kelelahan juga memerlukan istirahat dan tidur lebih banyak dari biasa.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1.      Apa itu tidur?
2.      Apa itu istirahat?
3.      Bagaiman fisiologi tidur terjadi?
4.      Apa saja jenis-jenis tidur?
5.      Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan tidur?
6.      Apa saja gangguan dan masalah dalam tidur dan bagaimana cara mengatasinya?

1.3  TUJUAN DAN MANFAAT
1.3.1  TUJUAN
Untuk mengetahui dengan jelas bagaimana proses,siklus dan berbagai gangguan tidur yang dapat terjadi bagi seseorang.
1.3.2  MANFAAT
Adapun mafaat dari penulisan makalah ini adalah sebagai acuhan dalam mengatur jadwal tidur dengan baik dan benar agar berbagai macam kelainan tidur tidak dapat terjadi pada diri seseorang yang sehat maupun pasien yang sakit.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1  PENGERTIAN
Istirahat dan tidur merupakan kebutuhan dasar yang mutlak harus dipenuhi oleh semua orang. Dengan istirahat dan tidur yang cukup,tubuh baru dapat berfungsi secara optimal. Istirahat dan tidur sendiri memiliki makna yang berbeda pada setiap individu.
a)    Description: D:\Semester 1\MAKALAH I\pengertian tidur.jpgPengertian Tidur
·                                                                                                                                                                     Tidur adalah proses fisiologis yang bersiklus yang bergantian dengan periode yang lebih lama dari keterjagaan (poterperry edisi 4 vol.2)
·                                                                                                                                                                     Tidur merupakan suatu kondisi tidak sadar dimana individu dapat dibangunkan oleh stimulus atau sensori yang sesuai (Guyton 1986)
b)   Pengertian Istirahat
§  Suatu keadaan relaks secara mental bebas dari kecemasan, dan tenang secara fisik
§  Jadi,beristirahat bukan berarti tidak melakukan aktivitas sama sekali. Terkadang,berjalan-jalan di taman juga bisa dikatakan sebagai suatu bentuk istirahat.

2.2  FISIOLOGI TIDUR
Tidur adalah proses yang bersiklus yang bergantian dengan periode yang lebih lama dari keterjagaan. Siklus tidur-terjaga mempengaruhi dan mengatur fungsi fisiologis dan respons pelaku.
Aktivitas tidur diatur dan dikontrol oleh dua system pada batang otak, yaitu : Reticular Activating System (RAS) dan Bulbar Synchronizing Region(BSR). RAS di bagian atas batang otak diyakini memiliki sel-sel khusus yang dapat mempertahankan kewaspadaan dan kesadaran  memberi Stimulus visual, pendengaran, nyeri, dan sensori raba. serta emosi dan proses berfikir. Pada saat sadar,  RAS melepaskan katekolamin, sedangkan pada saat tidur terjadi pelepasan serum serotonin dari BSR. (Hidayat, 2008).
KONDISI UNTUK ISTIRAHAT YANG CUKUP
KENYAMANAN FISIK
Ø  Eliminasi sumber-sumber yang mengiritasi fisik
Ø  Kontrol sumber nyeri
Ø  Kontrol suhu ruangan
Ø  Pertahankan kesejajaran anatomis yang tepat atau posisi yang sesuai
Ø  Pindahkan dikstrasi lingkungan
Ø  Sediakan ventilasi yang cukup
BEBAS DARI KECEMASAN
Ø Buat keputusa sendiri
Ø Berpartisipasi didalam pelayanan kesehatan pribadi
Ø Mempunyai pengetahuan yang dibutuhkan untuk memahami masalah dan implikasi kesehatan
Ø Praktikkan aktivitas yang mengistirahatkan secara teratur
Ø Mengetahui bahwa lingkungan aman
TIDUR YANG CUKUP
Ø Memeperoleh cukup jam tidur yang dibutuhkan untuk merasa segar kembali
Ø ikuti


2.3  FUNGSI TIDUR
Kegunaan tidur masih tetap belum jelas (Hodgson 1991). Tidur dipercaya mengkontribusi pemulihan fisiologis dan psikologis (Oswald, 1984 Anch dkk,1988).

2.4  JENIS-JENIS TIDUR
1.      Tidur Gelombang Lambat(Slow Wave Sleep) / nonrapid eye movement (NREM)
Description: D:\Semester 1\MAKALAH I\tahap-tidur.jpgJenis tidur ini dikenal dengan tidur yang dalam , istirahat penuh dengan gelombang otak yang lebih lambat atau dikenal dengan tidur nyenyak. Ciri-ciri tidur nyenyak : menyegarkan tanpa mimpi, tidur dengan glombang delta. Cirri lainnya keadaan istirahat penuh, tekanan darah menurun, frekuensi nafas menurun, pergerakan bola mata melambat, mimpi berkurang dan metabolism tubuh menurun.

Tahapan Tidur NREM :
a)      Tahap I
Tahap ini adalah tahap transisi antara bangun dan tidur dengan cirri sebagai berikut :
Rileks, masih sadar dengan lingkungan, merasa mengantuk, bola mata bergerak dari samping kesamping, frekwensi nadi dan nafas sedikit menurun, serta dapat bangun segera selama tahap ini berlangsung sekitar 5 menit.
b)      Tahap II
Tahap II merupakan tahap tidur ringan dengan proses tubuh terus menurun dengan ciri sebagai berikut : mata pada umumnya menetap, denyut jantung dan frekwensi nafas menurun, temperature tubuh menurun, metabolism menurun, serta berlangsung pendek dan berakir 10-15 menit
c)      Tahap III
Tahap ini merupakan tahap tidur, dengan cirri denyut nadi, frekwensi nafas, dan proses tubuh lainnya lambat. Hal ini disebabkan oleh adanya dominasi siistem saraf parasimpatis sehingga sulit untuk bangun.
d)     Tahap IV
Tahap ini merupakan tahap tidur dalam dengan cirri kecepatan  jantung dan pernapasan turun, jarang bergerak, sulit dibangunkan, gerak  bola mata cepat, sekresi lambung menurun, dan tonus otot menurun.
2.      Tidur paradok/tidur REM (rapid eye movement)
Jenis tidur ini dapat berlangsung pada tidur malam, yang terjadi selama 5-20 menit, rata-rata timbul 90 menit.

Ciri-ciri tidur REM adalah sebagai berikut :
a.       Biasanya disertai dengana mimpi aktif
b.      Lebih sulit dibangunkan daripada tidur sebelum nyenyak NREM.
c.       Tonus otot selama tidur nyenyak sangat tertekan, menimbulkan inhibisi kuat proyeksi spinal atas sistem pengaktifasi retikularis.
d.      Frekuensi jantung dan pernafasan menjadi tidak teratur.
e.       Pada otot perifer, terjadi beberapa gerakan otot yang tidak teratur.
f.       Mata cepat tertutup dan terbuka, nadi cepat dan tidak teratur, tekanan darah meningkat atau berfluktuasi, sekresi gaster meningkat, dan metabolisme meningkat.
g.      Tidur ini penting keseimbangan mental, emosi, juga berperan dalam belajar, memori, dan adaptasi.

2.5  Faktor Faktor yang mempengaruhi kebutuhan tidur
Sejumlah faktor mempengaruhi kuantitas dan kualitas tidur. Faktor psikologis, fisiologis dan lingkungan dapat mengubah kualitas dan kuantitas tidur. Beberapa faktor tersebut antara lain :
1.      Penyakit Fisik
Ada beberapa contoh penyakit yang sangat mempengaruhi siklus tidur seseorang, mulai dari penyakit fisik maupun psikologis.
Setiap penyakit yang menyebabkan nyeri, ketidaknyamanan fisik (kesulitan bernafas), atau masalah suasana hati, seperti kecemasan atau depresi, dapat menyebabkan masalah tidur.
Penyakit bernafas seringkali mempengaruhi tidur. Klien yang berpenyakit paru kronik sepeerti emfisema, dengan nafas pendek dan sering tidak dapat tidur tanpa dua atau tiga bantal untuk meninggikan kepala mereka.
Klien yang berpenyakit jantung koroner sering dikarakteristikkan dengan episode nyeri pada dada yang tiba-tiba dan denyut jantung yang tidak teratur. Klien yang berpenyakit ini seringkali mengalami frekuensi terbangun yang sering dan prerubahan tahapan selama tidur (sering berpindah dari tahap III dan IV ketidur tahap II yang dangkal) seperti perubahan yang bermakna dalam semua tahap tidur, contoh seperti supresi tidurREM dan tahap III dan IV (Landis,1988).
Hipertensi menyebabkan seringkali terbangun pada pagi hari dan kelemahan. Hipotirodisme menurunkan tidur tahap IV, sebaliknya Hipertirodisme menyebabkan seseorang memeerlukan watu yang banyak untuk tertidur.
Lansia seringkali mengalami “sindrom kaki tak berdaya” yang terjadi pada saat sebelum tidur. Mereka mengalami berulangkali kambuh, gerakan berirama pada kaki dan tungkai. Sinsasi sering gatal sangat dirasakan diotot.
2.      Obat-Obatan Dan Subtansi
Dari daftar obat di PDR (1990) , dengan 584 obat resep atau obat bebas menuliskan bahwa mengantuk sebagai salah satu efek samping , 486 menulis insomnia , 281 menyebabkan kelelahan (Buysse,1991). mengantuk dan depripasi tidur adalah efek samping mediksi yang umum . medikasi yang diresepkan untuk tidur sering kali memberi banyak masalah dari pada keuntungan.
3.      Gaya Hidup
Rutinitas harian seseorang, mempengaruhi pola tidur. Individu yang bekerja bergantian (mis.2 minggu siang diikuti oleh 1 minggu malam) seringkali mempuyai kesulitan menyesuaian operubahan jadwal tidur. Perubahan lain dalam rutinitas yang mengganggu pola tidur meliputi kerja berat yang biasanya, terlibat dalam aktifitas sosial pada larut malam, dan perubahan waktu makan malam.
4.      Pola Tidur Yang Biasa Dan Mengantuk Yang Berlebihan Pada Siang Hari (EDS)
Pada abad lampau. Jumlah tidur yang diperoleh pada malam hari oleh penduduk AS telah menurun lebih dari 20 % (National Commisstion on Sleep Disorder Research 1993), menunjukan bahwa banyak orang amerika kehilangan tidur dan mengalami ngantuk yang berlebihan pada siang hari. Sebagai contoh, kecelakaan kendaraan tunggal yang berhubungan dengan pengemudi yang tertidur dikendaraan paling sering terjadi ditengah malam dan pukul 04.00 yang disebabkan mengantuk, yaitu terjadi ketika orang terjaga selama waktu yang merupakan periode normal tidur mereka (Mitler dkk,1988;Leger,1994)
5.      Stress Emosioal
Stress emosional menyebabkan seseorang menjadi tegang dan seringkali mengarah frustasi apabila tidak tidur. Stress juga menyebabkan seseorang terlalu keras untuk tertidur, sering terbangun selama siklus tidur, atau terlalu banyak tidur. Lansia, dan juga seperti individu yang lain yang mengalami perasaan depresi, sering juga mengalami perlambatan untuk jatuh tertidur, munculnya tidur REM secara dini, seringkali terjaga, peningkatan total waktu tidur, perasaan tidur yang kurang, dan terbanun cepat (Bliwise,1993).
6.      Lingkungan
Lingkungan fisik tempat seseorang tidur berpengaruh penting pada kemampuan untuk tidur dan tetap tidur.
Suara juga mempengaruhi tidur. Tingkat suara yang diperlukan uantuk membangunkan orang tergantung pada tahap tidur (Webster dan Thompson,1986). Percakapan normal mengukur sekitar 50 desibel. Hilton (1987) menemukan bahwa alaram-pengontrol intravena menciptakan suara 44 sampai 80 desibel, pembilasan toilet 44 sampai 76 desibel.
Suhu rungan juga sangat berpengaruh bagi kenyamanan klien saat tidur. Ruangan yang terlalu hangat atau terlalu dingin seringkali menyebabkan klien gelisah.
7.      Latihan Fisik Dan Kelelahan
Seseorang yang kelelahan menengah (moderate) biasanya memperoleh tidur uang mengistirahatkan, khususnya jika kelelahan adalah hasil dari kerja atau latihan yang menyenangkan. Akan tetapi, kelelahan yang berlebihan yang dihasilkan oleh kerja yang meletihkan atatu penuh stress membuat sulit tidur. Hal ini biasanya terjadi pada anak-anak usia sekolah.
8.      Asupan Makanan Dan Kalori
Orang tidur lebih baik ketika sehat sehingga mengikuti kebiasaan makan yang baik adalah penting untuk kesehatan yang tepat dan tidur (Hauri dan Linde,1990).

2.6  GANGGUAN ATAU MASALAH TIDUR
 Gangguan tidur adalah kondisi yang jika tidak diobati secara umum akan menyebabkan gangguan tidur malam yang mengakibatkan munculnya salah satu dari ketiga masalah berikut : Insomnia; gerakan atau sensasi abnormal di kala tidur atau ketika terjaga ditengah malam; atau rasa mengantuk yang berlebihan disiang hari (Naylor dan Aldrich, 1994).
Gangguan tidur telah diklasifikasikan menjadi empat kategori utama (Thorpy,1994). Disomnia adalah gangguan primer yang berasal dari system tubuh yang berbeda dan dibagi lagi menjadi tiga kelompok besar. Gangguan tidur Intrinsik meliputi gangguan untuk memulai dan mempertahankan tidur.  Gangguan tidur Ekstrinsik terjadi akibat beberapa faktor eksternal, yang jika dihilangkan menyebabkan hilangnya gangguan tidur . Gangguan Irama Sirkadian sewaktu tidur terjadi karena ketidaksejajaran antara waktu tidur dan apa yang diinginkan oleh individu atau norma social. Parasomnia adalah perilaku tidak diiinginkan yang terjadi terutama saat tidur: gangguan terjaga , terjaga sebagian , atau selama transisi dalam siklus tidur atau dari tidur ke terbangun. Banyak gangguan tidur medis dan psikiatrik yang berhubungan dengan gangguan tidur dan bangun. Gangguan tidur yang masih bersifat usulan adalah gangguan baru yang belum memiliki banyak informasi yang adekuat menganai ke beradaan gangguan tersebut.
1.Insomnia
   Insomnia adalah gejala yang dialami oleh klien yang mengalami kesulitahn kronis untuk tidur, sering terbangun dari tidur , dan atau tidur singkat  atau tidur Nonrestoratif (Zorick,1994).
Description: D:\Semester 1\MAKALAH I\insomnia.jpgInsomnia sering berkaitan dengan kebiasaan tidur yang buruk. Apabila kondisi berlanjut , ketakutan tidak dapat tidur dapat cukup menyebabkan keterjagaan. Disiang hari, seseorang dengan insomnia kronik dapat merasa mengantuk , letih , dapresi , dan cemas. 
Karena terdapat banyak penyebab insomnia , penatalaksanaannya melibatkan beberapa pendekatan (Walsh, Hartman dan Kowall, 1994). Misalnya pada insomnia bergantung obat , klien tidak dapat tidur karena penggunaan obat hipnotik yang berlebihan. Klien ini biasanya akan sangat terbantu dengan menghentikan pemberian hipnotik tersebut secara bertahap.
Ada tiga jenis insomnia:
a)      Insomnia inisial           : Kesulitan untuk memulai tidur.
b)     Insomnia intermiten    : Kesulitan untuk tetap tertidur karena seringnya terjaga.
c)      Insomnia terminal       : Bangun terlalu dini dan sulit untuk tidur kembali.
Beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasi insomnia antara lain dengan mengembangkan pola tidur-istirahat yang efektif melalui olahraga rutin, menghindari ransangan tidur di sore hari, melakukan relaksasi sebelum tidur (misalnya: membaca, mendengarkan musik,dan tidur jika benar-benar mengantuk).
2.Apnea Tidur
   Apenea tidur adalah gangguan yang dicirikan dengan kurangnya aliran udara melalui hidung dan mulut selama periode 10 detik atau lebih pada saat tidur. Ada tiga jenis apnea tidur: apnea sentral, obstruktif, dan campuran. Bentuk yang paling banyak terjadi, apnea tidur obstruktif. Apnea Obstruktif menyebabkan penurunan kadar oksigen arteri yang serius.
  Klien yang mengalami apnea tidur seringkali tidak memiliki tidur dalam yang signifikan. Pada kasus – kasus apnea tidur yang parah , tonsil , uvula , atau bagian dari palatum mole dapat diangkat melalui pembedahan. Keberhasilan prosedur bedah sangat bervariasi.
3.Narkolepsi
Narkolepsi adalah gelombang kantuk yang tak tertahankan yang muncul secara tiba-tiba pada siang hari. Gangguan ini disebut juga sebagai “serangan tidur” atau sleep attack. Penyebab pastinya belum diketahui. Diduga karena kerusakan genetik system saraf pusat yang menyebabkan tidak terkendali lainnya periode tidur REM. Masalah signifikan untuk individu yang menderita narkolepsi adalah bahwa orang tersebut jatuh tertidur tanpa bisa dikendalikan pada waktu yang tidak tepat. Penderita narkolepsi diobati dengan stimulan yang hanya dapat meningkatkan sebagian kesiagaan dan mengurangi serangan tidur, serta obat yang menekan katapleksi dan gejala lain yang terkait dengan REM.
Contoh alternatife pencegahannya adalah dengan obat-obatan, seperti: amfetamin atau metilpenidase, hidroklorida, atau dengan antidepresan seperti imipramin hidroklorida.
4.Deprivasi Tidur
   Deprivasi tidur adalah masalah yang dihadapi banyak klien sebagai akibat disomnia. Deprivasi tidur melibatkan penurunan kuantitas dan kualitas tidur serta ketidak konsistenan waktu tidur. Terapi yang paling efektif untuk deprivasi tidur adalah menghilangkan atau memperbaiki faktor-faktor yang menggangu pola tidur.
5.Parasomnia             
   Parasomnia adalah masalah tidur yang lebih banyak terjadi pada anak-anak dari pada orang dewasa. Beberapa turunan parasomnia antara lain yang terjadi pada anak-anak meliputi somnambulisme sering terjaga (misalnya: tidur berjalan, night terror) terjaga malam, mimpi buruk, enuresis nokturnal (ngompol) , dan menggeretakkan gigi (bruksisme)(Mindell, 1993). gangguan transisi bangun-tidur (misalnya: mengigau), parasomnia yang terkait dengan tidur REM (misalnya: mimpi buruk),dan lainnya (misalnya: bruksisme). Contoh : Orang yang berjalan dalam tidur tidak menyadari lingkungan disekitarnya dan lambat bereaksi. Oleh karena itu risiko jatuh sangatlah besar.

6. Hipersomnia
Hipersomnia adalah kebalikan dari insomnia, yaitu tidur yang berkelebihan terutama pada siang hari. Gangguan ini dapat disebabkan oleh kondisi tertentu, seperti kerusakan system saraf, gangguan pada hati atau ginjal, atau karena gangguan metabolisme (misalnya: hipertiroidisme). Pada kondisi tertentu, hipersomnia dapat digunakan sebagai mekanisme koping untuk  menghindari tanggung jawab pada siang hari.











BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Tidur adalah proses fisiologis yang bersiklus yang bergantian dengan periode yang lebih lama dari keterjagaan .Tidur dikarakteristikkan dengan aktifitas fisik yang minimal,tingkat kesadaran yang bervariasi,perubahan proses fsiologis tubuh,dan penurunan respons terhadap stimulus eksternal.
Aktivitas tidur diatur dan dikontrol oleh dua system pada batang otak, yaitu Reticular Activating System (RAS) dan Bulbar Synchronizing Region (BSR). RAS di  bagian atas batang otak diyakini memiliki sel-sel khusus yang dapat mempertahankan kewaspadaan dan kesadaran,memberi Stimulus visual,pendengaran,nyeri,dan sensori raba;serta emosi dan proses berfikir. Tahapan tidur, yaitu non-rapid eye movement(NREM) dan rapid eye movement (REM).
Jenis-jenis tidur ada 2 , yaitu : Tidur Gelombang Lambat(Slow Wave Sleep) / nonrapid eye movement (NREM) dan Tidur paradok/tidur REM (rapid eye movement) . Faktor yang mempengaruhi kualitas maupun kuantitas tidur,di antaranya adalah Penyakit Fisik , Obat-Obatan Dan Subtansi , Gaya Hidup , Pola Tidur Yang Biasa Dan Mengantuk Yang Berlebihan Pada Siang Hari (EDS) , Stress Emosioal , Lingkungan , Latihan Fisik Dan Kelelahan , Asupan Makanan dan Kalori. Gangguan dalam tidur dapat berupa Insomnia , Apnea tidur , Narkolepsi , Deprivasi tidur , Parasomnia , Hipersomnia


B. Saran
Setiap individu harus menjaga kecukupan kebutuhan istirahat dan tidurnya sesuai kebutuhannya. Dengan kondisi jiwa dan fisik yang sehat maka dapat melakukan berbagai kegiatan dengan baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar