Selamat Membaca & Semoga Bermanfaat.., *_*

Rabu, 18 Maret 2015

BAYI BARU LAHIR (BBL)





BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang
Angka kematian bagi bayi khususnya neonatus merupakan indikator dalam menilai status kesehatan masyarakat suatu bangsa dan kini digunakan juga sebagai ukuran untuk menilai kualitas pengawasan antenatal.
Mengingat masa neonata/bayi baru lahir adalah masa penentu. Perkembangan dan pertumbuhan bayi/anak selanjutnya serta diperlukan perhatian dan penanganan yang terpadu dan berkesinambungan,maka makalah yang kami buat menekankan pada asuhan pada Bayi Baru Lahir.

1.2 Rumusan Masalah
1.       Apa yang dimaksud dengan Bayi Baru Lahir?
2.       Apa saja cir-ciri dari Bayi Baru Lahir?
3.       Apa saja reflek – reflek fisiologis pada Bayi Baru Lahir?
4.       Bagaimana penanganan segera pada Bayi Baru Lahir ?

1.3     Tujuan dan Manfaat
1.       Tujuan umum
Untuk menambah pengetahuan mahasiswi bidan tentang Bayi Baru Lahir dan cara     penanganannya.
2.       Manfaat Penulisan
Hasil dari penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada semua pihak, khususnya kepada mahasiswi kebidanan untuk menambah pengetahuan dan wawasan mengenai Bayi Baru Lahir atau BBL.


















BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Bayi Baru Lahir (BBL) Normal
 Menurut Saifuddin, (2002) Bayi baru lahir adalah bayi yang baru lahir selama satu jam pertama kelahiran.
 Menurut Donna L. Wong, (2003) Bayi baru lahir adalah bayi dari lahir sampai usia 4 minggu. Lahirrnya biasanya dengan usia gestasi 38 – 42 minggu.
 Menurut Dep. Kes. RI, (2005) Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dengan umur kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu dan berat lahir 2500 gram sampai 4000 gram.
 Menurut M. Sholeh Kosim, (2007) Bayi baru lahir normal adalah berat lahir antara 2500 – 4000 gram, cukup bulan, lahir langsung menangis, dan tidak ada kelainan congenital (cacat bawaan) yang berat.
2.2  Ciri  – Ciri Bayi Baru Lahir
1.      Berat badan Bayi Baru Lahir
Bayi baru lahir normal memiliki berat badan 2500 – 4000 gram. Bayi baru lahir akan mengalami penurunan berat badan fisiologis sampai dengan 10 %, pada hari kedua dan ketiga. Hal ini disebabkan oleh karena pengeluaran meconium dan penggunaan energi dan asupan kalori yang relatif rendah (bayi hanya mendapatkan asupan ASI). Pada hari kesepuluh sampai keempat belas akan tercapai kembali berat badan lahir (Jumiarni 1995:56)
2.      Panjang badan BBL
Panjang badan bayi baru lahir normal, diukur dari puncak kepala sampai tumit adalah 48 – 50 cm (Jumiarni 1995:56)
3.      Lingkar dada 32– 34 cm
BBL mempunyai ukuran lingkar dada antara 32 – 34 cm, (Jumiarni dkk, 1995:156). Payudara pada bayi laki – laki maupun perempuan mungkin terlihat membesar karena banyaknya hormon estrogen pada ibu. Payudara mungkin mensekresi sustansi seperti kolostrum tetapi tanpa kelanjutan. Rangsangan hormon respon tersebut hilang segera setelah lahir.Hamilton, 1995:221).
4.      Lingkar kepala 33 – 35 cm
Lingkar kepala normal adalah 32 – 35 cm ( Jumiarni, dkk. 1995:56). Tulang kepala bayi tidak menyatu yang menyebabkan molase dan sering betumpuk sebagai upaya untuk memfasilitasi pergerakan kepala pada persalinan yang menyebabkan kepala bayi tidak simetris. (Pusdiknakes, 2003:17)
Caput dapat melewati garis sutura sedang cepal hematom cairn tidak dapat melewati sutura. Cairan ini akan diserap kembali dalam waktu 12 jam. (Pusdiknakes, 2003:17).
5.      Frekuensi jantung Bayi Baru Lahir  120 – 160 kali/menit
Detak jantung bayi dan anak-anak memang lebih cepat ketimbang anak besar dan orang dewasa. Ini karena kebutuhan akan suplai darah lebih tinggi dibandingkan anak besar. Untuk memenuhi kebutuhan suplai darah yang lebih banyak itulah, jantung harus berdetak lebih cepat.
Denyut jantung juga tergantung pada aktivitas bayi dan anak. Misalnya, ketika menangis atau kesakitan, denyut jantung bisa mencapai 180 kali/menit. Ketika anak demam atau dehidrasi, denyut jantung juga meningkat.
6.      Pernafasan ±  40-60 kali/menit
Nafas bayi baru lahir normalnya berkisar antara 40-60 tarikan per menit. Bayi akan bernafas lebih cepat ketika dia kepanasan atau menangis dana akan turun lagi ketika dia sudah tidak merasa panas atau selesai menangis
7.      Kulit kemerah – merahan dan licin karena jaringan sub kutan cukup
8.      Rambut lanugo tidak terlihat, rambut kepala biasanya telah sempurna
9.      Kuku agak panjang dan lemas
10.  Genitalia:
Perempuan labia mayora sudah menutupi labia minora
Laki – laki testis sudah turun, skrotum sudah ada
11.  Reflek hisap dan menelan sudah terbentuk dengan baik
12.  Reflek morrow atau gerak memeluk bila dikagetkan sudah baik
13.  Reflek graps atau menggenggan sudah baik
14.  Eliminasi baik, mekonium akan keluar dalam 24 jam pertama, mekonium berwarna hitam kecoklatan
2.3 Reflek – Reflek Fisiologis
1.      Mata
a.    Berkedip atau reflek corneal
Bayi berkedip pada pemunculan sinar terang yang tiba – tiba atau pada pandel atau obyek kearah kornea, harus menetapkan sepanjang hidup, jika tidak ada maka menunjukkan adanya kerusakan pada saraf cranial.
b. Pupil
Pupil kontriksi bila sinar terang diarahkan padanya, reflek ini harus sepanjang   hidup.
c. Glabela
Ketukan halus pada glabela (bagian dahi antara 2 alis mata) menyebabkan mata menutup  dengan rapat.

 2.  Mulut dan tenggorokan
a. Menghisap
Bayi harus memulai gerakan menghisap kuat pada area sirkumoral sebagai respon terhadap rangsangan, reflek ini harus tetap ada selama masa bayi, bahkan tanpa rangsangan sekalipun, seperti pada saat tidur.
b. Muntah
    Stimulasi terhadap faring posterior oleh makanan, hisapan atau masuknya selang    harus menyebabkan bayi mengalami reflek muntah, reflek ini harus menetap  sepanjang hidup.
c. Rooting
Menyentuh dan menekan dagu sepanjang sisi mulut akan menyebabkan bayi    membalikkan kepala kearah sisi tersebut dan mulai menghisap, harus hilang pada usia kira – kira 3 -4 bulan
d. Menguap
Respon spontan terhadap panurunan oksigen dengan maningkatkan jumlah udara    inspirasi, harus menetap sepanjang hidup

e. Ekstrusi
Bila lidah disentuh atau ditekan bayi merespon dengan mendorongnya keluar harus       menghilang pada usia 4 bulan
f. Batuk
Iritasi membrane mukosa laring menyebabkan batuk, reflek ini harus terus ada    sepanjang hidup, biasanya ada setelah hari pertama lahir.

 3. Ekstrimitas
            a. Menggenggam
Lenganya membuka sempurna setelah relaksasi dan akan menutup secara reflek apabila telapak tangan disentuh, tangannya montok dan telapak kaki terlihat datar, tungkai montok pendek kecil.
b. Babinski
Tekanan di telapak kaki bagian luar kearah atas dari tumit dan menyilang bantalan kaki menyebabkan jari kaki hiperektensi dan haluks dorso fleksi
c. Masa tubuh
    1. Reflek moro
Kejutan atau perubahan tiba – tiba dalam ekuilibrium yang menyebabkan ekstensi dan abduksi ekstrimitas yang tiba –tiba serta mengisap jari dengan jari telunjuk dan ibu jari membentuk “C” diikuti dengan fleksi dan abduksi ekstrimitas, kaki dapat fleksi dengan lemah.
     2. Startle
Suara keras yang tiba – tiba menyebabkan abduksi lengan dengan fleksi siku tangan tetap tergenggam
     3. Tonik leher
Jika kepala bayi dimiringkan dengan cepat ke salah sisi, lengan dan kakinya akan berekstensi pada sisi tersebut dan lengan yang berlawanan dan kaki fleksi.
     4. Neck – righting
Jika bayi terlentang, kepala dipalingkan ke salah satu sisi, bahu dan batang tubuh membalik kearah tersebut dan diikuti dengan pelvis
     5. Inkurvasi batang tubuh (gallant)
Sentuhan pada punggung bayi sepanjang tulang belakang menyebabkan panggul bergerak kea rah sisi yang terstimulasi.
2.4 Penanganan Segera Bayi Baru Lahir
Menurut JNPK-KR/POGI, APN, (2007) asuhan segera, aman dan bersih untuk bayi baru lahir ialah :
1. Pencegahan Infeksi
·         Cuci tangan dengan seksama sebelum dan setelah bersentuhan dengan bayi
·         Pakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi yang belum dimandikan
·         Pastikan semua peralatan dan bahan yang digunakan, terutama klem, gunting,  penghisap lendir DeLee dan benang tali pusat telah didesinfeksi tingkat tinggi atau steril.
·         Pastikan semua pakaian, handuk, selimut dan kain yang digunakan untuk bayi, sudah dalam keadaan bersih. Demikin pula dengan timbangan, pita pengukur, termometer, stetoskop.



2. Melakukan penilaian
·         Apakah bayi menangis kuat dan/atau bernafas tanpa kesulitan
·         Apakah bayi bergerak dengan aktif atau lemas
Jika bayi tidak bernapas atau bernapas megap – megap atau lemah maka segera   lakukan tindakan resusitasi bayi baru lahir.

3.  Mempertahankan suhu tubuh bayi
Pada waktu lahir, bayi belum mampu mengatur tetap suhu badannya, dan membutuhkan pengaturan dari luar untuk membuatnya tetap hangat. Bayi baru lahir harus di bungkus hangat. Suhu tubuh bayi merupakan tolok ukur kebutuhan akan tempat tidur yang hangat sampai suhu tubuhnya sudah stabil. Suhu bayi harus dicatat (Prawiroharjo, 2002). Bayi baru lahir tidak dapat mengatur temperatur tubuhnya secara memadai dan dapat dengan cepat kedinginan jika kehilangan panas tidak segera dicegah. Bayi yang mengalami kehilangan panas (hipotermi) beresiko tinggi untuk jatuh sakit atau meninggal, jika bayi dalam keadaan basah atau tidak diselimuti mungkin akan mengalami hipoterdak, meskipun berada dalam ruangan yang relatif hangat. Bayi prematur atau berat lahir rendah sangat rentan terhadap terjadinya hipotermia.

§  Mekanisme kehilangan panas
a. Evaporasi
Penguapan cairan ketuban pada permukaan tubuh oleh panas tubuh bayi sendiri karena setelah lahir, tubuh bayi tidak segera dikeringkan.
b. Konduksi
Kehilangan panas tubuh melalui kontak langsung antara tubuh bayi dengan permukaan yang dingin, co/ meja, tempat tidur, timbangan yang temperaturnya lebih rendah dari tubuh bayi akan menyerap panas tubuh bayi bila bayi diletakkan di atas benda – benda tersebut
c. Konveksi
Kehilangan panas tubuh terjadi saat bayi terpapar udara sekitar yang lebih dingin, ruangan yang dingin, adanya aliran udara dari kipas angin, hembusan udara melalui ventilasi, atau pendingin ruangan.
d. Radiasi
Kehilangan panas yang terjadi karena bayi ditempatkan di dekat benda – benda yang mempunyai suhu tubuh lebih rendah dari suhu tubuh bayi, karena benda – benda tersebut menyerap radiasi panas tubuh bayi (walaupun tidak bersentuhan secara langsung)
§  Mencegah kehilangan panas
      Cegah terjadinya kehilangan panas melalui upaya berikut :
    a. Keringkan bayi dengan seksama
Mengeringkan dengan cara menyeka tubuh bayi, juga merupakan rangsangan taktil untuk membantu bayi memulai pernapasannya.
b. Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih dan hangat
Ganti handuk atau kain yang telah basah oleh cairan ketuban dengan selimut atau kain yang baru (hanngat, bersih, dan kering)
c. Selimuti bagian kepala bayi
Bagian kepala bayi memiliki luas permukaan yg relative luas dan bayi akan dengan cepat kehilangan panas jika bagian tersebut tidak tertutup.
d. Anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusui bayinya
Pelukan ibu pada tubuh bayi dapat menjaga kehangatan tubuh dan mencegah kehilangan panas. Sebaiknya pemberian ASI harus dimulai dalam waktu satu (1) jam pertama kelahiran
e. Jangan segera menimbang atau memandikan bayi baru lahir
Karena bayi baru lahir cepat dan mudah kehilangan panas tubuhnya, sebelum melakukan penimbangan, terlebih dahulu selimuti bayi dengan kain atau selimut bersih dan kering. Berat badan bayi dapat dinilai dari selisih berat bayi pada saat berpakaian/diselimuti dikurangi dengan berat pakaian/selimut. Bayi sebaiknya dimandikan sedikitnya enam (^) jam setelah lahir.
  Praktik memandikan bayi yang dianjurkan adalah :
(1). Tunggu sedikitnya 6 jam setelah lahir sebelum memandikan bayi (lebih lama jika   bayi mengalami asfiksia atau hipotermi)
(2). Sebelum memandikan bayi, periksa bahwa suhu tubuh stabil (suhu aksila antara 36,5º C – 37º C). Jika suhu tubuh bayi masih dibawah 36,5º C, selimuti kembali tubuh bayi secara longgar, tutupi bagian kepala dan tempatkan bersama ibunya di tempat tidur atau lakukan persentuhan kuli ibu – bayi dan selimuti keduanya. Tunda memandikan bayi hingga suhu tubuh bayi tetap stabil dalam waktu (paling sedikit) satu (1) jam.
(3). Tunda untuk memandikan bayi yang sedang mengalami masalah pernapasan
(4). Sebelum bayi dimandikan, pastikan ruangan mandinya hangat dan tidak ada tiupan angin. Siapkan handuk bersih dan kering untuk mengeringkan tubuh bayi dan siapkan beberapa lembar kain atau selimut bersih dan kering untuk menyelimuti tubuh bayi setelah dimandikan.
(5). Memandikan bayi secara cepat dengan air bersih dan hangat
(6). Segera keringkan bayi dengan menggunakan handuk bersih dan kering
(7). Ganti handuk yang basah dengan selimut bersih dan kering, kemudian selimuti tubuh bayi secara longgar. Pastikan bagian kepala bayi diselimuti dengan baik
(8). Bayi dapat diletakkan bersentuhan kulit dengan ibu dan diselimuti dengan baik
(9). Ibu dan bayi disatukan di tempat dan anjurkan ibu untuk menyusukan bayinya
f. Tempatkan bayi di lingkungan yang hangat
g. Idealnya bayi baru lahir ditempatkan di tempat tidur yang sama dengan ibunya, untuk menjaga bayi tetap hangat dan mendorong ibu untuk segera memberikan ASI.

4. Membebaskan Jalan Nafas nafas
Dengan cara sebagai berikut yaitu bayi normal akan menangis spontan segera setelah lahir, apabila bayi tidak langsung menangis, penolong segera membersihkan jalan nafas dengan cara sebagai berikut :
§  Letakkan bayi pada posisi terlentang di tempat yang keras dan hangat.
§  Gulung sepotong kain dan letakkan di bawah bahu sehingga leher bayi lebih lurus dan kepala tidak menekuk. Posisi kepala diatur lurus sedikit tengadah ke belakang.
§  Bersihkan hidung, rongga mulut dan tenggorokkan bayi dengan jari tangan yang dibungkus kassa steril.
§  Tepuk kedua telapak kaki bayi sebanyak 2-3 kali atau gosok kulit bayi dengan kain kering dan kasar.
§  Alat penghisap lendir mulut (De Lee) atau alat penghisap lainnya yang steril, tabung oksigen dengan selangnya harus sudah ditempat
§  Segera lakukan usaha menghisap mulut dan hidung
§  Memantau dan mencatat usaha bernapas yang pertama (Apgar Score)
§  Warna kulit, adanya cairan atau mekonium dalam hidung atau mulut harus diperhatikan.

5. Pemotong tali pusat dan Merawat tali pusat
a.  Klem tali pusat dengan 2 buah klem pada klem pertama kira-kira 2 dan 3 cm dari  pangkal pusat bayi
b.  Potonglah tali pusat diantara kedua klem sambil melindungi bayi dari gunting dengan tangan kiri
c.  Pertahankan kebersihan pada saat memotong tali pusat. Potong tali pusat dengan gunting yang perawatan alat steril atau desinfeksi tingkat tinggi
d.  Periksa tali pusat setiap 15 menit, apabila masih terjadi perdarahan pengikatan ulang yang lebih ketat.perawatan tali pusat , jangan membungkus punting tali pusat atau perut bayi atau mengoleskan cairan atau bahan apapun ke punting tali pusat (JNPK-KR/ POGI,APN, 2007)

Merawat tali pusat
·         Setelah plasenta dilahirkan dan kondisi ibu dianggap stabil, ikat atau jepitkan klem plastik tali pusat pada puntung tali pusat.
·         Celupkan tangan yang masih menggunakan sarung tangan ke dalam larutan klonin 0,5 % untuk membersihkan darah dan sekresi tubuh lainnya.
·         Bilas tangan dengan air matang atau disinfeksi tingkat tinggi
·         Keringkan tangan (bersarung tangan) tersebut dengan handuk atau kain bersih dan kering.
·         Ikat ujung tali pusat sekitar 1 cm dari pusat bayi dengan menggunakan benang disinfeksi tingkat tinggi atau klem plastik tali pusat (disinfeksi tingkat tinggi atau steril). Lakukan simpul kunci atau jepitankan secara mantap klem tali pusat tertentu.
·         Jika menggunakan benang tali pusat, lingkarkan benang sekeliling ujung tali pusat dan dilakukan pengikatan kedua dengan simpul kunci dibagian tali pusat pada sisi yang berlawanan.
·         Lepaskan klem penjepit tali pusat dan letakkan di dalam larutan klonin 0,5%
·         Selimuti ulang bayi dengan kain bersih dan kering, pastikan bahwa bagian kepala bayi tertutup dengan baik..(Dep. Kes. RI, 2002)

6. Pencegahan infeksi
1)      Memberikan vitamin K
Untuk mencegah terjadinya perdarahan karena defisiensi vitamin K pada bayi baru lahir normal atau cukup bulan perlu di beri vitamin K per oral 1 mg / hari selama 3 hari, dan bayi beresiko tinggi di beri vitamin K parenteral dengan dosis 0,5 – 1 mg IM.
2)      Memberikan obat tetes atau salep mata
Untuk pencegahan penyakit mata karena klamidia (penyakit menular seksual) perlu diberikan obat mata pada jam pertama persalinan, yaitu pemberian obat mata eritromisin 0.5 % atau tetrasiklin 1 %, sedangkan salep mata biasanya diberikan 5 jam setelah bayi lahir.
3)      Pemberian imunisasi Hepatitis B
Pemberian imunisasi Hepatitis B ini untuk mencegah infeksi Hepatitis  B di berikan pada usia 0 (segera setelah lahir menggunakan uniject) di suntik, IM dipaha kanan dan selanjutnya di berikan ulangan sesuai imunisasi dasar lengkap.
Perawatan mata harus segera dikerjakan, tindakan ini dapat dikerjakan setelah bayi selesai dengan perawatan tali pusat.Yang lazim dipakai adalah larutan perak nitrat atau neosporin dan langsung diteteskan pada mata bayi segera setelah lahir
Bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi, pastikan untuk melakukan tindakan pencegahan infeksi berikut ini :
1.Cuci tangan secara seksama sebelum dan setelah melakukan kontak dengan bayi.
2.Pakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi yang belum dimandikan.
3.Pastikan bahwa semua peralatan, termasuk klem gunting dan benang tali pusat telah didinfeksi tingkat tinggi atau steril, jika menggunakan bola karet penghisap, pakai yang bersih dan baru.
4.Pastikan bahwa semua pakaian, handuk, selimut serta kain yang digunakan untuk  bayi telah dalam keadaan bersih.
5.Pastikan bahwa timbangan, pipa pengukur, termometer, stetoskop dan benda-benda lainnya yang akan bersentuhan dengan bayi dalam keadaan bersih (dekontaminasi dan cuci setiap setelah digunakan). (Dep.kes.RI, 2002)
7. Identifikasi bayi
·         Alat pengenal untuk memudahkan identifikasi bayi perlu di pasang segera pasca persalinan. Alat pengenal yang efektif harus diberikan kepada bayi setiap bayi baru lahir dan harus tetap ditempatnya sampai waktu bayi dipulangkan.
·         Peralatan identifikasi bayi baru lahir harus selalu tersedia di tempat penerimaan pasien, di kamar bersalin dan di ruang rawat bayi
·         Alat yang digunakan, hendaknya kebal air, dengan tepi yang halus tidak mudah melukai, tidak mudah sobek dan tidak mudah lepas
·         Pada alat atau gelang identifikasi harus tercantum nama (bayi, nyonya), tanggal lahir, nomor bayi, jenis kelamin, unit, nama lengkap ibu
·         Di setiap tempat tidur harus diberi tanda dengan mencantumkan nama, tanggal lahir, nomor identifikasi. (Saifudin,, 2002)

8.Pemberian ASI dini
   Memberikan ASI dini (dalam 1 jam pertama setelah bayi baru lahir) akan memberikan keuntungan yaitu:
a. Merangsang produksi ASI
Rangsangan isapan bayi pada puting susu ibu akan diteruskan oleh serabut syaraf ke hipofise anterior untuk mengeluarkan hormon  prolaktin (hormon ini yang memacu payudara untuk menghasilkan ASI.
     b. Memperkuat  reflek  menghisap
1).    Reflek rooting (reflek mencari putting susu)
2).    Reflek suckling (reflek menghisap)
3).    Reflek  swallowing (reflek menelan)
c. Mempercepat  hubungan batin ibu dan bayi (membina ikatan emosional dan kehangatan   ibu-bayi).
     d. Memberikan kekebalan pasif  yang segera kepada bayi melalui kolostrum.
     e. Merangsang kontraksi uterus dan mencegah terjadi perdarahan  pada ibu.

9.  Pemantauan lanjutan
       Tujuan pemantauan bayi baru lahir yaitu untuk mengetahui aktifitas bayi normal atau tidak dan identifikasi masalah kesehatan bayi baru lahir yang memerlukan perhatian dan tindak lanjut dari petugas kesehatan.
  Dua jam pertama sesudah lahir
Hal-hal yang di nilai  waktu pemantauan bayi pada jam pertama sesudah kelahiran yaitu:
1). Kemampuan menghisap kuat atau lemah
2). Bayi tampak aktif atau lunglai
3). Bayi tampak kemerahan atau biru
Masa transisi adalah waktu ketika bayi melakukan stabilitasi dan penyusaian terhadap kehidupan diluar uterus. Ada 3 priode transisi, yaitu:
1) Tahap pertama /periode reaktif  adalah dimulai segera setelah lahir  dan berakhir  setelah 30 menit.
2) Tahap kedua/ periode interval adalah berlangsung mulai menit 30 sampai 2 jam setelah lahir (biasanya pada priode ini banyak tidur).
3) Tahap ketiga /periode reaktif kedua adalah yang berlanjut dari dua jam sampai enam jam.





















BAB III
PENUTUP

3.1    Kesimpulan
          Bayi baru lahir normal adalah berat lahir antara 2500 – 4000 gram, cukup bulan, lahir langsung menangis, dan tidak ada kelainan congenital (cacat bawaan) yang berat.Ciri  – Ciri Bayi Baru Lahir adalah Berat badan Bayi Baru Lahir adalah 2500-4000 gram, Panjang badan Bayi Baru Lahir sekitar 48-50 cm, Lingkar dada Bayi Baru Lahir 32 – 34 cm, Lingkar kepala 32 – 35 cm, Frekuensi jantung Bayi Baru Lahir  120 – 160 kali/menit, Pernafasan ±  40-60 kali/menit, Kulit kemerah – merahan dan licin karena jaringan sub kutan cukup, Rambut lanugo tidak terlihat, rambut kepala biasanya telah sempurna, Kuku agak panjang dan lemas, Genitalia: Perempuan labia mayora sudah menutupi labia minora dan pada Laki – laki testis sudah turun, skrotum sudah ada, Reflek hisap dan menelan sudah terbentuk dengan baik, Reflek morrow atau gerak memeluk bila dikagetkan sudah baik, Reflek graps atau menggenggan sudah baik, Eliminasi baik, mekonium akan keluar dalam 24 jam pertama, mekonium berwarna hitam kecoklatan
Reflek – Reflek Fisiologis pada Bayi Baru Lahir terdiri dari reflek pada mata, reflek pada mulut dan tenggorokan, dan reflek ekstrimitas. Dan juga untuk penanganan segera pada Bayi Baru Lahir ada: Pencegahan Infeksi, Melakukan penilaian, Mempertahankan suhu tubuh bayi, Membebaskan Jalan Nafas nafas, Pemotong tali pusat dan Merawat tali pusat, Pencegahan infeksi, Identifikasi bayi, Pemberian ASI dini, dan Pemantauan lanjutan.
















Tidak ada komentar:

Posting Komentar