BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Angka kematian bagi bayi khususnya neonatus
merupakan indikator dalam menilai status kesehatan masyarakat suatu bangsa dan
kini digunakan juga sebagai ukuran untuk menilai kualitas pengawasan antenatal.
Mengingat
masa neonata/bayi baru lahir adalah masa penentu. Perkembangan dan pertumbuhan
bayi/anak selanjutnya serta diperlukan perhatian dan penanganan yang terpadu
dan berkesinambungan,maka makalah yang kami buat menekankan pada asuhan
pada Bayi Baru Lahir.
1.2
Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Bayi Baru Lahir?
2. Apa saja cir-ciri dari Bayi Baru Lahir?
3. Apa saja reflek – reflek fisiologis pada Bayi Baru
Lahir?
4. Bagaimana penanganan segera pada Bayi Baru Lahir ?
1.3 Tujuan dan Manfaat
1. Tujuan umum
Untuk menambah pengetahuan mahasiswi bidan
tentang Bayi Baru Lahir dan cara penanganannya.
2.
Manfaat
Penulisan
Hasil dari penulisan ini diharapkan
dapat memberikan manfaat kepada semua pihak, khususnya kepada mahasiswi
kebidanan untuk menambah pengetahuan dan wawasan mengenai Bayi Baru Lahir atau
BBL.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Bayi Baru Lahir (BBL) Normal
Menurut Saifuddin,
(2002) Bayi baru lahir adalah bayi yang baru lahir selama satu jam pertama kelahiran.
Menurut Donna L. Wong, (2003) Bayi baru lahir
adalah bayi dari lahir sampai usia 4 minggu. Lahirrnya biasanya dengan usia
gestasi 38 – 42 minggu.
Menurut Dep. Kes. RI, (2005) Bayi baru lahir
normal adalah bayi yang lahir dengan umur kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu
dan berat lahir 2500 gram sampai 4000 gram.
Menurut M. Sholeh Kosim, (2007) Bayi baru
lahir normal adalah berat lahir antara 2500 – 4000 gram, cukup bulan, lahir
langsung menangis, dan tidak ada kelainan congenital (cacat bawaan) yang berat.
2.2 Ciri –
Ciri Bayi Baru Lahir
1. Berat badan Bayi Baru Lahir
Bayi
baru lahir normal memiliki berat badan 2500 – 4000 gram. Bayi baru lahir akan
mengalami penurunan berat badan fisiologis sampai dengan 10 %, pada hari kedua
dan ketiga. Hal ini disebabkan oleh karena pengeluaran meconium dan penggunaan
energi dan asupan kalori yang relatif rendah (bayi hanya mendapatkan asupan
ASI). Pada hari kesepuluh sampai keempat belas akan tercapai kembali berat
badan lahir (Jumiarni 1995:56)
2. Panjang badan BBL
Panjang
badan bayi baru lahir normal, diukur dari puncak kepala sampai tumit adalah 48
– 50 cm (Jumiarni 1995:56)
3. Lingkar dada 32– 34 cm
BBL mempunyai ukuran lingkar dada antara
32 – 34 cm, (Jumiarni dkk, 1995:156). Payudara pada bayi laki – laki maupun
perempuan mungkin terlihat membesar karena banyaknya hormon estrogen pada ibu.
Payudara mungkin mensekresi sustansi seperti kolostrum tetapi tanpa kelanjutan.
Rangsangan hormon respon tersebut hilang segera setelah lahir.Hamilton,
1995:221).
4. Lingkar kepala 33 – 35 cm
Lingkar kepala normal adalah 32 – 35 cm
( Jumiarni, dkk. 1995:56). Tulang kepala bayi tidak menyatu yang menyebabkan
molase dan sering betumpuk sebagai upaya untuk memfasilitasi pergerakan kepala
pada persalinan yang menyebabkan kepala bayi tidak simetris. (Pusdiknakes,
2003:17)
Caput dapat melewati garis sutura sedang
cepal hematom cairn tidak dapat melewati sutura. Cairan ini akan diserap
kembali dalam waktu 12 jam. (Pusdiknakes, 2003:17).
5. Frekuensi jantung Bayi Baru Lahir
120 – 160 kali/menit
Detak
jantung bayi
dan anak-anak memang lebih cepat ketimbang anak besar
dan orang dewasa. Ini karena kebutuhan akan suplai darah lebih tinggi
dibandingkan anak
besar. Untuk memenuhi kebutuhan suplai darah yang lebih banyak itulah, jantung
harus berdetak lebih cepat.
Denyut
jantung juga tergantung pada aktivitas bayi dan anak. Misalnya, ketika
menangis atau kesakitan, denyut jantung bisa mencapai 180 kali/menit. Ketika anak demam
atau dehidrasi, denyut jantung juga meningkat.
6. Pernafasan ± 40-60 kali/menit
Nafas
bayi baru lahir normalnya berkisar antara 40-60 tarikan per menit. Bayi akan
bernafas lebih cepat ketika dia kepanasan atau menangis dana akan turun lagi
ketika dia sudah tidak merasa panas atau selesai menangis
7. Kulit kemerah – merahan dan licin
karena jaringan sub kutan cukup
8. Rambut lanugo tidak terlihat,
rambut kepala biasanya telah sempurna
9. Kuku agak panjang dan lemas
10. Genitalia:
Perempuan labia mayora sudah menutupi labia minora
Laki – laki testis sudah turun, skrotum sudah ada
11. Reflek hisap dan menelan sudah
terbentuk dengan baik
12. Reflek morrow atau gerak memeluk
bila dikagetkan sudah baik
13. Reflek graps atau menggenggan
sudah baik
14. Eliminasi baik, mekonium akan
keluar dalam 24 jam pertama, mekonium berwarna hitam kecoklatan
2.3 Reflek – Reflek
Fisiologis
1.
Mata
a. Berkedip atau reflek corneal
Bayi berkedip
pada pemunculan sinar terang yang tiba – tiba atau pada pandel atau obyek
kearah kornea, harus menetapkan sepanjang hidup, jika tidak ada maka
menunjukkan adanya kerusakan pada saraf cranial.
b. Pupil
Pupil kontriksi bila sinar terang diarahkan padanya, reflek ini harus
sepanjang hidup.
c. Glabela
Ketukan halus
pada glabela (bagian dahi antara 2 alis mata) menyebabkan mata menutup dengan rapat.
2. Mulut
dan tenggorokan
a. Menghisap
Bayi harus memulai
gerakan menghisap kuat pada area sirkumoral sebagai respon terhadap rangsangan,
reflek ini harus tetap ada selama masa bayi, bahkan tanpa rangsangan sekalipun,
seperti pada saat tidur.
b. Muntah
Stimulasi terhadap faring
posterior oleh makanan, hisapan atau masuknya selang harus menyebabkan bayi mengalami reflek
muntah, reflek ini harus menetap sepanjang
hidup.
c. Rooting
Menyentuh dan menekan dagu sepanjang sisi mulut akan menyebabkan bayi membalikkan kepala kearah sisi tersebut dan mulai
menghisap, harus hilang pada usia kira – kira 3 -4 bulan
d. Menguap
Respon spontan terhadap panurunan oksigen dengan maningkatkan jumlah udara inspirasi, harus menetap sepanjang hidup
e. Ekstrusi
Bila lidah
disentuh atau ditekan bayi merespon dengan mendorongnya keluar harus menghilang pada usia 4 bulan
f. Batuk
Iritasi membrane
mukosa laring menyebabkan batuk, reflek ini harus terus ada sepanjang hidup, biasanya ada setelah hari
pertama lahir.
3. Ekstrimitas
a. Menggenggam
Lenganya membuka sempurna setelah
relaksasi dan akan menutup secara reflek apabila telapak tangan disentuh,
tangannya montok dan telapak kaki terlihat datar, tungkai montok pendek kecil.
b. Babinski
Tekanan di telapak
kaki bagian luar kearah atas dari tumit dan menyilang bantalan kaki menyebabkan
jari kaki hiperektensi dan haluks dorso fleksi
c. Masa tubuh
1. Reflek moro
Kejutan atau
perubahan tiba – tiba dalam ekuilibrium yang menyebabkan ekstensi dan abduksi
ekstrimitas yang tiba –tiba serta mengisap jari dengan jari telunjuk dan ibu
jari membentuk “C” diikuti dengan fleksi dan abduksi ekstrimitas, kaki dapat
fleksi dengan lemah.
2. Startle
Suara keras yang
tiba – tiba menyebabkan abduksi lengan dengan fleksi siku tangan tetap
tergenggam
3. Tonik leher
Jika kepala bayi
dimiringkan dengan cepat ke salah sisi, lengan dan kakinya akan berekstensi
pada sisi tersebut dan lengan yang berlawanan dan kaki fleksi.
4. Neck – righting
Jika bayi
terlentang, kepala dipalingkan ke salah satu sisi, bahu dan batang tubuh
membalik kearah tersebut dan diikuti dengan pelvis
5. Inkurvasi batang tubuh (gallant)
Sentuhan pada
punggung bayi sepanjang tulang belakang menyebabkan panggul bergerak kea rah
sisi yang terstimulasi.
2.4 Penanganan Segera Bayi
Baru Lahir
Menurut JNPK-KR/POGI,
APN, (2007) asuhan segera, aman dan bersih untuk bayi baru lahir ialah :
1. Pencegahan Infeksi
·
Cuci tangan dengan seksama sebelum dan setelah
bersentuhan dengan bayi
·
Pakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi
yang belum dimandikan
·
Pastikan semua peralatan dan bahan yang digunakan,
terutama klem, gunting, penghisap lendir
DeLee dan benang tali pusat telah didesinfeksi tingkat tinggi atau steril.
·
Pastikan semua pakaian, handuk, selimut dan kain yang
digunakan untuk bayi, sudah dalam keadaan bersih. Demikin pula dengan
timbangan, pita pengukur, termometer, stetoskop.
2. Melakukan penilaian
·
Apakah bayi menangis kuat dan/atau bernafas tanpa
kesulitan
·
Apakah bayi bergerak dengan aktif atau lemas
Jika bayi tidak
bernapas atau bernapas megap – megap atau lemah maka segera lakukan tindakan resusitasi bayi baru lahir.
3. Mempertahankan suhu tubuh bayi
Pada waktu lahir,
bayi belum mampu mengatur tetap suhu badannya, dan membutuhkan pengaturan dari
luar untuk membuatnya tetap hangat. Bayi baru lahir harus di bungkus hangat.
Suhu tubuh bayi merupakan tolok ukur kebutuhan akan tempat tidur yang hangat
sampai suhu tubuhnya sudah stabil. Suhu bayi harus dicatat (Prawiroharjo, 2002).
Bayi baru lahir tidak dapat mengatur temperatur tubuhnya secara memadai dan
dapat dengan cepat kedinginan jika kehilangan panas tidak segera dicegah. Bayi
yang mengalami kehilangan panas (hipotermi) beresiko tinggi untuk jatuh sakit
atau meninggal, jika bayi dalam keadaan basah atau tidak diselimuti mungkin
akan mengalami hipoterdak, meskipun berada dalam ruangan yang relatif hangat.
Bayi prematur atau berat lahir rendah sangat rentan terhadap terjadinya
hipotermia.
§
Mekanisme kehilangan panas
a. Evaporasi
Penguapan cairan
ketuban pada permukaan tubuh oleh panas tubuh bayi sendiri karena setelah
lahir, tubuh bayi tidak segera dikeringkan.
b. Konduksi
Kehilangan panas
tubuh melalui kontak langsung antara tubuh bayi dengan permukaan yang dingin,
co/ meja, tempat tidur, timbangan yang temperaturnya lebih rendah dari tubuh
bayi akan menyerap panas tubuh bayi bila bayi diletakkan di atas benda – benda
tersebut
c. Konveksi
Kehilangan panas
tubuh terjadi saat bayi terpapar udara sekitar yang lebih dingin, ruangan yang
dingin, adanya aliran udara dari kipas angin, hembusan udara melalui ventilasi,
atau pendingin ruangan.
d. Radiasi
Kehilangan panas
yang terjadi karena bayi ditempatkan di dekat benda – benda yang mempunyai suhu
tubuh lebih rendah dari suhu tubuh bayi, karena benda – benda tersebut menyerap
radiasi panas tubuh bayi (walaupun tidak bersentuhan secara langsung)
§
Mencegah kehilangan panas
Cegah terjadinya kehilangan panas melalui
upaya berikut :
a. Keringkan bayi dengan seksama
Mengeringkan
dengan cara menyeka tubuh bayi, juga merupakan rangsangan taktil untuk membantu
bayi memulai pernapasannya.
b. Selimuti bayi
dengan selimut atau kain bersih dan hangat
Ganti handuk
atau kain yang telah basah oleh cairan ketuban dengan selimut atau kain yang
baru (hanngat, bersih, dan kering)
c. Selimuti
bagian kepala bayi
Bagian kepala
bayi memiliki luas permukaan yg relative luas dan bayi akan dengan cepat
kehilangan panas jika bagian tersebut tidak tertutup.
d. Anjurkan ibu
untuk memeluk dan menyusui bayinya
Pelukan ibu pada
tubuh bayi dapat menjaga kehangatan tubuh dan mencegah kehilangan panas.
Sebaiknya pemberian ASI harus dimulai dalam waktu satu (1) jam pertama
kelahiran
e. Jangan segera
menimbang atau memandikan bayi baru lahir
Karena bayi baru
lahir cepat dan mudah kehilangan panas tubuhnya, sebelum melakukan penimbangan,
terlebih dahulu selimuti bayi dengan kain atau selimut bersih dan kering. Berat
badan bayi dapat dinilai dari selisih berat bayi pada saat
berpakaian/diselimuti dikurangi dengan berat pakaian/selimut. Bayi sebaiknya
dimandikan sedikitnya enam (^) jam setelah lahir.
Praktik memandikan bayi yang dianjurkan
adalah :
(1). Tunggu sedikitnya 6 jam setelah lahir sebelum memandikan bayi (lebih
lama jika bayi mengalami asfiksia atau hipotermi)
(2). Sebelum memandikan bayi, periksa bahwa suhu tubuh stabil (suhu aksila
antara 36,5º C – 37º C). Jika suhu tubuh bayi masih dibawah 36,5º C, selimuti
kembali tubuh bayi secara longgar, tutupi bagian kepala dan tempatkan bersama ibunya
di tempat tidur atau lakukan persentuhan kuli ibu – bayi dan selimuti keduanya.
Tunda memandikan bayi hingga suhu tubuh bayi tetap stabil dalam waktu (paling
sedikit) satu (1) jam.
(3). Tunda untuk
memandikan bayi yang sedang mengalami masalah pernapasan
(4). Sebelum bayi dimandikan, pastikan ruangan mandinya hangat dan tidak
ada tiupan angin. Siapkan handuk bersih dan kering untuk mengeringkan tubuh
bayi dan siapkan beberapa lembar kain atau selimut bersih dan kering untuk
menyelimuti tubuh bayi setelah dimandikan.
(5). Memandikan
bayi secara cepat dengan air bersih dan hangat
(6). Segera
keringkan bayi dengan menggunakan handuk bersih dan kering
(7). Ganti handuk yang basah dengan selimut bersih dan kering, kemudian
selimuti tubuh bayi secara longgar. Pastikan bagian kepala bayi diselimuti
dengan baik
(8). Bayi dapat
diletakkan bersentuhan kulit dengan ibu dan diselimuti dengan baik
(9). Ibu dan
bayi disatukan di tempat dan anjurkan ibu untuk menyusukan bayinya
f. Tempatkan
bayi di lingkungan yang hangat
g. Idealnya bayi baru lahir ditempatkan di tempat tidur yang sama dengan
ibunya, untuk menjaga bayi tetap hangat dan mendorong ibu untuk segera
memberikan ASI.
4. Membebaskan Jalan Nafas nafas
Dengan cara
sebagai berikut yaitu bayi normal akan menangis spontan segera setelah lahir,
apabila bayi tidak langsung menangis, penolong segera membersihkan jalan nafas
dengan cara sebagai berikut :
§
Letakkan bayi pada posisi terlentang di tempat yang
keras dan hangat.
§
Gulung sepotong kain dan letakkan di bawah bahu
sehingga leher bayi lebih lurus dan kepala tidak menekuk. Posisi kepala diatur
lurus sedikit tengadah ke belakang.
§
Bersihkan hidung, rongga mulut dan tenggorokkan bayi
dengan jari tangan yang dibungkus kassa steril.
§
Tepuk kedua telapak kaki bayi sebanyak 2-3 kali atau
gosok kulit bayi dengan kain kering dan kasar.
§
Alat penghisap lendir mulut (De Lee) atau alat
penghisap lainnya yang steril, tabung oksigen dengan selangnya harus sudah
ditempat
§
Segera lakukan usaha menghisap mulut dan hidung
§
Memantau dan mencatat usaha bernapas yang pertama
(Apgar Score)
§
Warna kulit, adanya cairan atau mekonium dalam hidung
atau mulut harus diperhatikan.
5. Pemotong tali pusat dan Merawat tali pusat
a. Klem tali pusat
dengan 2 buah klem pada klem pertama kira-kira 2 dan 3 cm dari pangkal pusat bayi
b. Potonglah tali
pusat diantara kedua klem sambil melindungi bayi dari gunting dengan tangan
kiri
c. Pertahankan
kebersihan pada saat memotong tali pusat. Potong tali pusat dengan gunting yang
perawatan alat steril atau desinfeksi tingkat tinggi
d. Periksa tali pusat
setiap 15 menit, apabila masih terjadi perdarahan pengikatan ulang yang lebih
ketat.perawatan tali pusat , jangan membungkus punting tali pusat atau perut
bayi atau mengoleskan cairan atau bahan apapun ke punting tali pusat (JNPK-KR/
POGI,APN, 2007)
Merawat tali pusat
·
Setelah plasenta dilahirkan dan kondisi ibu dianggap
stabil, ikat atau jepitkan klem plastik tali pusat pada puntung tali pusat.
·
Celupkan tangan yang masih menggunakan sarung tangan
ke dalam larutan klonin 0,5 % untuk membersihkan darah dan sekresi tubuh
lainnya.
·
Bilas tangan dengan air matang atau disinfeksi tingkat
tinggi
·
Keringkan tangan (bersarung tangan) tersebut dengan handuk
atau kain bersih dan kering.
·
Ikat ujung tali pusat sekitar 1 cm dari pusat bayi
dengan menggunakan benang disinfeksi tingkat tinggi atau klem plastik tali
pusat (disinfeksi tingkat tinggi atau steril). Lakukan simpul kunci atau
jepitankan secara mantap klem tali pusat tertentu.
·
Jika menggunakan benang tali pusat, lingkarkan benang
sekeliling ujung tali pusat dan dilakukan pengikatan kedua dengan simpul kunci
dibagian tali pusat pada sisi yang berlawanan.
·
Lepaskan klem penjepit tali pusat dan letakkan di
dalam larutan klonin 0,5%
·
Selimuti ulang bayi dengan kain bersih dan kering,
pastikan bahwa bagian kepala bayi tertutup dengan baik..(Dep. Kes. RI, 2002)
6. Pencegahan infeksi
1)
Memberikan vitamin K
Untuk mencegah
terjadinya perdarahan karena defisiensi vitamin K pada bayi baru lahir normal
atau cukup bulan perlu di beri vitamin K per oral 1 mg / hari selama 3 hari,
dan bayi beresiko tinggi di beri vitamin K parenteral dengan dosis 0,5 – 1 mg
IM.
2)
Memberikan obat tetes atau salep mata
Untuk pencegahan
penyakit mata karena klamidia (penyakit menular seksual) perlu diberikan obat
mata pada jam pertama persalinan, yaitu pemberian obat mata eritromisin 0.5 %
atau tetrasiklin 1 %, sedangkan salep mata biasanya diberikan 5 jam setelah
bayi lahir.
3)
Pemberian imunisasi Hepatitis B
Pemberian imunisasi Hepatitis B ini untuk mencegah
infeksi Hepatitis B di berikan pada usia 0 (segera setelah lahir
menggunakan uniject) di suntik, IM dipaha kanan dan selanjutnya di berikan
ulangan sesuai imunisasi dasar lengkap.
Perawatan mata harus segera dikerjakan, tindakan ini
dapat dikerjakan setelah bayi selesai dengan perawatan tali pusat.Yang lazim
dipakai adalah larutan perak nitrat atau neosporin dan langsung diteteskan pada
mata bayi segera setelah lahir
Bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi,
pastikan untuk melakukan tindakan pencegahan
infeksi berikut ini :
1.Cuci tangan secara
seksama sebelum dan setelah melakukan kontak dengan bayi.
2.Pakai sarung tangan
bersih pada saat menangani bayi yang belum dimandikan.
3.Pastikan
bahwa semua peralatan, termasuk klem gunting dan benang tali pusat telah
didinfeksi tingkat tinggi atau steril, jika menggunakan bola karet penghisap,
pakai yang bersih dan baru.
4.Pastikan
bahwa semua pakaian, handuk, selimut serta kain yang digunakan untuk bayi telah dalam keadaan bersih.
5.Pastikan
bahwa timbangan, pipa pengukur, termometer, stetoskop dan benda-benda lainnya
yang akan bersentuhan dengan bayi dalam keadaan bersih (dekontaminasi dan cuci
setiap setelah digunakan). (Dep.kes.RI, 2002)
7. Identifikasi bayi
·
Alat pengenal untuk memudahkan identifikasi bayi perlu
di pasang segera pasca persalinan. Alat pengenal yang efektif harus
diberikan kepada bayi setiap bayi baru lahir dan harus tetap ditempatnya sampai
waktu bayi dipulangkan.
·
Peralatan identifikasi bayi baru lahir harus selalu
tersedia di tempat penerimaan pasien, di kamar bersalin dan di ruang rawat bayi
·
Alat yang digunakan, hendaknya kebal air, dengan tepi
yang halus tidak mudah melukai, tidak mudah sobek dan tidak mudah lepas
·
Pada alat atau gelang identifikasi harus tercantum
nama (bayi, nyonya), tanggal lahir, nomor bayi, jenis kelamin, unit, nama
lengkap ibu
·
Di setiap tempat tidur harus diberi tanda dengan
mencantumkan nama, tanggal lahir, nomor identifikasi. (Saifudin,, 2002)
8.Pemberian ASI dini
Memberikan ASI dini (dalam 1 jam
pertama setelah bayi baru lahir) akan memberikan keuntungan yaitu:
a. Merangsang produksi ASI
Rangsangan isapan bayi pada puting susu ibu akan diteruskan oleh serabut
syaraf ke hipofise anterior untuk mengeluarkan hormon prolaktin (hormon
ini yang memacu payudara untuk menghasilkan ASI.
b. Memperkuat reflek menghisap
1).
Reflek rooting (reflek mencari putting susu)
2).
Reflek suckling (reflek menghisap)
3).
Reflek swallowing (reflek menelan)
c. Mempercepat
hubungan batin ibu dan bayi (membina ikatan emosional dan kehangatan ibu-bayi).
d. Memberikan kekebalan
pasif yang segera kepada bayi melalui kolostrum.
e. Merangsang kontraksi
uterus dan mencegah terjadi perdarahan pada ibu.
9. Pemantauan lanjutan
Tujuan pemantauan bayi baru lahir yaitu untuk mengetahui aktifitas bayi normal
atau tidak dan identifikasi masalah kesehatan bayi baru lahir yang memerlukan
perhatian dan tindak lanjut dari petugas kesehatan.
Dua jam pertama sesudah lahir
Hal-hal yang di nilai waktu pemantauan bayi pada
jam pertama sesudah kelahiran yaitu:
1). Kemampuan menghisap kuat
atau lemah
2). Bayi tampak aktif atau lunglai
3). Bayi tampak kemerahan atau biru
Masa transisi adalah waktu ketika bayi melakukan
stabilitasi dan penyusaian terhadap kehidupan diluar uterus. Ada 3 priode
transisi, yaitu:
1) Tahap pertama /periode
reaktif adalah dimulai segera setelah lahir dan berakhir
setelah 30 menit.
2) Tahap kedua/ periode interval
adalah berlangsung mulai menit 30 sampai 2 jam setelah lahir (biasanya pada
priode ini banyak tidur).
3) Tahap ketiga /periode reaktif
kedua adalah yang berlanjut dari dua jam sampai enam jam.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Bayi baru lahir normal adalah berat lahir antara 2500 – 4000 gram, cukup
bulan, lahir langsung menangis, dan tidak ada kelainan congenital (cacat
bawaan) yang berat.Ciri – Ciri Bayi Baru Lahir adalah Berat
badan Bayi Baru Lahir adalah 2500-4000 gram, Panjang badan Bayi Baru Lahir
sekitar 48-50 cm, Lingkar dada Bayi Baru Lahir 32 – 34 cm, Lingkar kepala 32 –
35 cm, Frekuensi jantung Bayi Baru Lahir
120 – 160 kali/menit, Pernafasan ±
40-60 kali/menit, Kulit kemerah – merahan dan licin karena jaringan sub
kutan cukup, Rambut lanugo tidak terlihat, rambut kepala biasanya telah
sempurna, Kuku agak panjang dan lemas, Genitalia: Perempuan labia mayora sudah
menutupi labia minora dan pada Laki – laki testis sudah turun, skrotum sudah
ada, Reflek hisap dan menelan sudah terbentuk dengan baik, Reflek morrow atau
gerak memeluk bila dikagetkan sudah baik, Reflek graps atau menggenggan sudah
baik, Eliminasi baik, mekonium akan keluar dalam 24 jam pertama, mekonium
berwarna hitam kecoklatan
Reflek – Reflek Fisiologis pada Bayi Baru Lahir terdiri dari reflek pada mata, reflek pada mulut dan tenggorokan, dan reflek
ekstrimitas. Dan juga untuk penanganan
segera pada Bayi Baru Lahir ada: Pencegahan
Infeksi, Melakukan penilaian, Mempertahankan suhu tubuh bayi, Membebaskan Jalan
Nafas nafas, Pemotong tali pusat dan Merawat
tali pusat, Pencegahan infeksi, Identifikasi bayi, Pemberian ASI dini, dan Pemantauan lanjutan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar