BIOLOGI DASAR
“PERUBAHAN FISIOLOGI PADA IBU MASA NIFAS”

DISUSUN OLEH :
1.
(14150001) ROMADHONA
2.
(14150002) ROSA
WAHYU SAMAPTA
3.
(14150006) SILFI
SETIA RAMADANI
4.
(14150012) VIVI
DAMAYANTI PATAHA
5.
(14150022) DEWI
NURROHMAH
6.
(14150023) AISA
RATNA SARI
7.
(14150026) WURY
ROHMIAWATI
8.
(14150030) REDEMTHA
ESTYANA BEBHE
9.
(14150035) DEVI
CRISTIANI
10.
(14150036) SRI
LESTARI DOMINGGUS
11.
(14150039) NI MADE ITA PRASTIKA DEWI
12.
(14150082) MENNY
KRISTEPHENI
13.
(14150084) NI
KADEK BADACI DEWI
14.
(14150085) KIKI
DWI INDAH S.
KELAS : A11.1
PROGRAM STUDI D3-KEBIDANAN
FAKULTAS
ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS
RESPATI YOGYAKARTA
TAHUN AKADEMIK 2014-2015
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Seperti yang kita ketahui masa nifas adalah suatu
rentang waktu yang amat penting bagi kesehatan ibu dan anak,setelah melewati
masa hamil dan melahirkan. Pada masa ini terjadi banyak sekali
perubahan-perubahan penting seperti perubahan fisiologi yang berpengaruh sekali
pada Ibu. Perubahan pada ibu memerlukan adaptasi yang harus dijalani.
Tanggung-jawab bertambah dengan hadirnya bayi yang baru lahir. Dorongan serta
perhatian anggota keluarga lainnya merupakan dukungan positif untuk ibu. Dalam
menjalani adaptasi setelah melahirkan.
Adapun peran dan tanggung jawab bidan dalam asuhan
masa nifas antara lain :
1. Mengidentifikasi dan merespon terhadap
kebutuhan dan komplikasi yang terjadi pada saat-saat penting yaitu 6 jam, 6 hari, 2
minggu dan 6 minggu.
2. Mengadakan kolaborasi antara orangtua dan
keluarga.
3. Membuat kebijakan, perencanaan kesehatan dan
administrator.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang
dimaksud dengan masa Nifas?
2. Apa saja
perubahan dalam sistem reproduksi pada ibu masa nifas?
3. Apa saja
perubahan dalam sistem kardiovaskuler pada ibu masa nifas?
4. Apa saja
perubahan dalam sistem hematologi pada ibu masa nifas?
5. Apa saja
perubahan dalam sistem pencernaan pada ibu masa nifas?
6. Apa saja
perubahan dalam sistem ekskresi pada ibu masa nifas?
7. Apa saja
perubahan dalam sistem endoktrin pada ibu masa nifas?
8. Apa saja
perubahan dalam sistem musculokeletal pada ibu masa nifas?
9. Bagaimana
tanda-tanda vital pada ibu masa nifas?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari
Masa Nifas (Puerperium)
2. Untuk mengetahui tahapan-tahapan dari Masa
Nifas
3. Untuk mengetahui perubahan-perubahan fisiologis pada ibu Masa Nifas
1.4 Manfaat
Hasil
dari penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada semua pihak,
khususnya kepada mahasiswi kebidanan untuk menambah pengetahuan dan wawasan
mengenai perubahan Fisiologis pada ibu nifas.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Masa nifas disebut juga masa post partum atau
puerperium adalah masa atau waktu sejak bayi dilahirkan dan plasenta keluar
lepas dari rahim,sampai enam minggu berikutnya, disertai dengan pulihnya
kembali organ – organ yang berkaitan dengan kandungan, yang mengalami perubahan
seperti perlukaan dan lain sebagainya berkaitan saat melahirkan.
Tahap Masa Nifas
Tahapan yang terjadi pada masa nifas adalah sebagai
berikut :
1.Periode immediate postpartum
Masa segera setelah plasenta lahir sampai dengan 24
jam. Pada masa ini sering terdapat banyak masalah, misalnya pendarahan
karena atonia uteri. Oleh karena itu, bidan dengan teratur harus melakukan
pemeriksaan kontraksi uterus, pengeluaran lokia, tekanan darah, dan suhu.
2.Periode early postpartum (24 jam-1 minggu)
Pada fase ini bidan memastikan involusi uteri dalam
keadaan normal, tidak ada perdarahan, lokia tidak berbau busuk, tidak demam,
ibu cukup mendapatkan makanan dan cairan, serta ibu dapat menyusui dengan baik.
3.Periode late postpartum (1 minggu- 5 minggu)
Pada periode ini bidan tetap melakukan perawatan dan
pemeriksaan sehari-hari serta konseling.
2.2 Sistem Reproduksi Pada Masa Nifas
1. Involusi menurut para ahli:
·
Involusi uteri
adalah pengecilan yang normal dari suatu organ setelah organ tersebut memenuhi fungsinya, misalnya pengecilan uterus
setelah melahirkan ( hincliff, 1999 )
·
Involusi uteri
adalah mengecilnya kembali rahim setelah persalinan kembali kebentuk asal (
Ramali, 2003 )
A.
Proses Involusi Uteri
Proses involusi uterus dalah sebagai berikut:
Proses involusi uterus dalah sebagai berikut:
·
Autolysis
Merupakan proses penghancuran diri sendiri yang tejadi di dalam otot uterin. Enzim proteolitik akan memendekkan jaringan otot yang telah sempat mengendur sehingga 10 kali panjangnya dari semula dan lima kali lebar dari semula selama kehamilan.Sitoplasma sel yang berlebihan akan tercerna sendiri sehingga tertinggal jaringan fibro elastic dalam jumlah renik sebagai bukti kehamilan.
Merupakan proses penghancuran diri sendiri yang tejadi di dalam otot uterin. Enzim proteolitik akan memendekkan jaringan otot yang telah sempat mengendur sehingga 10 kali panjangnya dari semula dan lima kali lebar dari semula selama kehamilan.Sitoplasma sel yang berlebihan akan tercerna sendiri sehingga tertinggal jaringan fibro elastic dalam jumlah renik sebagai bukti kehamilan.
·
Atrofi Jaringan
Jaringan yang berfoliferasi karena adanya estrogen yang sangat besar kemudian mengalami atrofi sebagai reaksi terhadap penghentian produksi estrogen yang menyertai pelepasan plasenta, lapisan desidua akan mengalami atrofi dan terlepas dengan meninggalkan lapisan basal yang akan beregenerasi menjadi endonetrium yang baru.
Jaringan yang berfoliferasi karena adanya estrogen yang sangat besar kemudian mengalami atrofi sebagai reaksi terhadap penghentian produksi estrogen yang menyertai pelepasan plasenta, lapisan desidua akan mengalami atrofi dan terlepas dengan meninggalkan lapisan basal yang akan beregenerasi menjadi endonetrium yang baru.
·
Efek oksitosin
Intensitas kontraksi uterus meningkat setelah bayi lahir diduga terjadi sebagai respon terhadap penurunan volume intra uterin.Hormon oksitosin memperkuat dan mengatur kontraksi uterus, mengkompresi pembuluh darah dan membantu proses homeostatis. Kontraksi dan retraksi otot uterin akan mengurangi suplai darah ke uterus sehingga akan mengurangi bekas luka tempat implantasi plasenta dan mengurangi pendarahan
Intensitas kontraksi uterus meningkat setelah bayi lahir diduga terjadi sebagai respon terhadap penurunan volume intra uterin.Hormon oksitosin memperkuat dan mengatur kontraksi uterus, mengkompresi pembuluh darah dan membantu proses homeostatis. Kontraksi dan retraksi otot uterin akan mengurangi suplai darah ke uterus sehingga akan mengurangi bekas luka tempat implantasi plasenta dan mengurangi pendarahan
B. Involusi alat-alat kandungan :
1.Uterus
Setelah bayi dilahirkan, uterus yang selama
persalinan mengalami kontraksi dan retraksi akan menjadi keras sehingga dapat
menutup pembuluh darah besar yang bermuara pada bekas implantasi plasenta.
(Sarwono, 2002). Pada hari pertama ibu post partum tinggi fundus uteri
kira-kira satu jari bawah pusat (1 cm). Pada hari kelima post partum uterus
menjadi 1/3 jarak antara symphisis ke pusat. Dan hari ke 10 fundus sukar diraba
di atas symphisis. (Prawirohardjo, 2002). tinggi fundus uteri menurun 1 cm tiap
hari. (Reader, 1997). Secara berangsur-angsur menjadi kecil (involusi) hingga
akhirnya kembali seperti sebelum hamil.
2. Bekas implantasi uteri
Plasenta
mengecil karena kontraksi dan menonjol ke ovum uteri dengan diameter 7,5 cm.
Sesudah 2 minggu menjadi 3,5 cm. Pada minggu ke 6 2,4 cm dan akhirnya pulih.
(Mochtar, 1998).Otot-otot
uterus berkontraksi segera post partum. Pembuluh-pembuluh darah yang berada
diantara anyaman-anyaman otot uterus akan terjepit. Proses ini akan
menghentikan perdarahan setelah plasenta lahir. Bagian bekas plasenta merupakan
suatu luka yang kasar dan menonjol ke dalam kavum uteri segera setelah
persalinan. Penonjolan tersebut dengan diameter 7,5 sering disangka sebagai
suatu bagian plasenta yang tertinggal, setelah 2 minggu diameternya menjadi 3,5
cm dan pada 6 minggu 2,4 cm dan akhirnya pulih. (Sarwono, 2002)
3. Servik
Setelah persalinan, bentuk servik agak menganga
seperti corong. Bentuk ini disebabkan oleh korpus uteri yang dapat mengandakan
kontraksi, sedangkan servik tidak berkontraksi, sehingga seolah-olah pada
berbatasan antara korpus dan servik uteri berbentuk, semacam cincin. Warna
servik sendiri merah kehitam-hitaman karena penuh pembuluh darah,
konsistensinya lunak, segera setelah janin dilahirkan. Tangan pemeriksa masih
dapat dimasukkan 2-3 jari dan setelah 1 minggu hanya dapat dimasukkan 1 jari ke
dalam kavum uteri. (Sarwono, 2002)
4. Ligamen-ligamen
Ligamen-ligamen dan diafragma pelvis serta fasia yang
meregang sewaktu kehamilan dan persalinan setelah jalan lahir berangsur-angsur
mengecil kembali seperti sedia kala tidak jarang ligamentum rotundum menjadi
kendor mengakibatkan uterus jatuh kebelakang, untuk memulihkan kembali
jaringan-jaringan penunjang alat genetalia tersebut juga otot-otot dinding
perut dan dasar panggul dianjurkan untuk melakukan latihan-latihan tertentu.
Pada hari ke 2 post partum sudah dapat diberikan fisioterapi. (Sarwono, 2002)
D.Faktor-faktor yang mempengaruhi Involusi
Proses involusi dapat terjadi secara
cepat atau lambat, faktor yang mempengaruhi involusi uterus antara lain :
1. Mobilisasi dini
Aktivitas otot-otot ialah kontraksi dan retraksi dari
otot-otot setelah anak lahir, yang diperlukan untuk menjepit pembuluh darah
yang pecah karena adanya pelepasan plasenta dan berguna untuk mengeluarkan isi
uterus yang tidak diperlukan, dengan adanya kontraksi dan retraksi yang terus
menerus ini menyebabkan terganggunya peredaran darah dalam uterus yang
mengakibatkan jaringan otot kekurangan zat-zat yang diperlukan, sehingga ukuran
jaringan otot-otot tersebut menjadi kecil.
2. Status gizi
Status gizi adalah tingkat kecukupan gizi seseorang
yang sesuai dengan jenis kelamin dan usia. Status gizi yang kurang pada ibu
post partum maka pertahanan pada dasar ligamentum latum yang terdiri dari
kelompok infiltrasi sel-sel bulat yang disamping mengadakan pertahanan terhadap
penyembuhan kuman bermanfaat pula untuk menghilangkan jaringan nefrotik, pada
ibu post partum dengan status gizi yang baik akan mampu menghindari serangan
kuman sehingga tidak terjadi infeksi dalam masa nifas dan mempercepat proses
involusi uterus.
3. Menyusui
Pada
proses menyusui ada reflek let down dari isapan bayi merangsang hipofise
posterior mengeluarkan hormon oxytosin yang oleh darah hormon ini diangkat
menuju uterus dan membantu uterus berkontraksi sehingga proses involusi uterus
terjadi.
4. Usia
Pada
ibu yang usianya lebih tua banyak dipengaruhi oleh proses penuaan, dimana
proses penuaan terjadi peningkatan jumlah lemak. Penurunan elastisitas otot dan
penurunan penyerapan lemak, protein, serta karbohidrat. Bila proses ini
dihubungkan dengan penurunan protein pada proses penuaan, maka hal ini akan
menghambat involusi uterus.
5. Parietas
Parietas mempengaruhi involusi uterus,
otot-otot yang terlalu sering tereggang memerlukan waktu yang lama. (Sarwono,
2002)
2. Tahapan Perubahan Lochea
Lochea merupakan ekskresi cairan rahim selama masa
nifas. Lochea berupa darah dimana di dalamnya mengandung trombosit, sel-sel
tua, sisa jaringan desidua yang nekrotik (sel-sel mati) dari uterus.
Proses keluarnya lochea terdiri atas 4 tahapan :
1. Lochia lubra ( cruenta ) : berisi darah segar dan sisa
– sisa selaput ketuban, sel –sel desidua ( decidua, yaitu selaput lendir rahim
dalam keadaan hamil ), vernix caseosa ( yaitu palit bayi, zat seperti
salep terdiri atas palit atau semacam noda dan sel – sel epitel, yang
menyelimuti kulit janin ), lanugo ( yaitu bulu halus pada anak yang baru lahir
), dan meconium ( yaitu isi usus janin cukup bulan yang terdiri atas getah
kelenjar usus dan air ketuban, berwarna hijau kehitaman ), selama 2 hari pasca
persalinan.
2. Lochia
sanguinolenta : warnanya merah kuning berisi darah dan lendir. Ini terjadi pada
hari ke 3 -7 pasca persalinan.
3. Lochia serosa : berwarna kuning dan cairan ini tidak
berdarah lagi pada hari ke 7 – 14 pasca persalinan.
4. Lochia alba: cairan putih yang terjadi pada hari
setelah 2 minggu.
Lochia mempunyai bau yang khas, tidak seperti bau
menstruasi. Bau ini lebih terasa tercium pada lokia serosa, bau ini juga akan
semakin lebih keras jika bercampur dengan keringat dan harus cermat
membedakannya dengan bau busuk yang menandakan adanya infeksi.
Selain itu, kita juga harus bisa mengenali jika
terjadi tanda ketidak normalan pada Lochia yaitu berupa keluarnya cairan
seperti nanah dan berbau busuk, Lochia yang seperti ini disebut Lochea
Purulenta. Loche Purulenta ini muncul jika terjadi infeksi. Di samping Lochea
Purulenta dapat juga terjadi suatu keadaan dimana pengeluaran Lochea tidak
lancar. Lochea ini disebut Lochea statis.
Klasifikasi Lochea :
Lokia
|
Waktu
|
Warna
|
Ciri-ciri
|
Rubra
|
1-4 hari
|
Merah kehitaman
|
Terdiri dari sel desidua, verniks caseosa, rambut
lanugo, sisa mekoneum dan sisa darah
|
Sanguilenta
|
4-7 hari
|
Putih bercampur merah
|
Sisa darah bercampur lendir
|
Serosa
|
7-14 hari
|
Kekuningan/ kecoklatan
|
Lebih sedikit darah dan lebih banyak serum, juga
terdiri dari leukosit dan robekan laserasi plasenta
|
Alba
|
>14 hari
|
Putih
|
Mengandung leukosit, selaput lendir serviks dan
serabut jaringan yang mati.
|
3.
Vulva dan Vagina
Vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan yang sangat besar selama proses melahirkan bayi, dan dalam beberapa hari pertama sesudah proses tersebut, kedua organ ini tetap berada dalam keadaan kendur. Setelah 3 minggu vulva dan vagina kembali kepada keadaan tidak hamil dan rugae dalam vagina secara berangsur-angsur akan muncul kembali sementara labia menjadi lebih menonjol.
Vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan yang sangat besar selama proses melahirkan bayi, dan dalam beberapa hari pertama sesudah proses tersebut, kedua organ ini tetap berada dalam keadaan kendur. Setelah 3 minggu vulva dan vagina kembali kepada keadaan tidak hamil dan rugae dalam vagina secara berangsur-angsur akan muncul kembali sementara labia menjadi lebih menonjol.
4.Perineum
Segera setelah melahirkan, perineum menjadi kendur karena sebelumnya teregang oleh tekanan kepala bayi yang bergerak maju. Pada post natal hari ke 5, Perineum sudah mendapatkan kembali sebagian besar tonusnya sekalipun tetap kendur dari pada keadaan sebelum melahirkan.
Segera setelah melahirkan, perineum menjadi kendur karena sebelumnya teregang oleh tekanan kepala bayi yang bergerak maju. Pada post natal hari ke 5, Perineum sudah mendapatkan kembali sebagian besar tonusnya sekalipun tetap kendur dari pada keadaan sebelum melahirkan.
5.
Payudara
Perubahan pada payudara dapat meliputi :
Perubahan pada payudara dapat meliputi :
·
Penurunan kadar progesterone secara
tepat dengan peningkatan hormone prolaktin setelah persalinan.
·
Kolostrum sudah ada saat persalinan.
Produksi ASI terjadi pada hari ke-2 atau hari ke-3 setelah persalinan.
·
Payudara menjadi besar dan keras sebagai
tanda mulainya proses laktasi.
2.3 Perubahan Sistem Kardiovaskuler Pada Masa Nifas
Selama kehamilan
volume darah normal digunakan untuk menampung aliran darah yang meningkat, yang
diperlukan oleh plasenta dan pembuluh darah uterin. Penarikan kembali esterogen
menyebabkan diuresis terjadi, yang secara cepat mengurangi volume plasma
kembali pada proporsi normal. Aliran ini terjadi dalam 2-4 jam pertama setelah
kelahiran bayi. Selama masa ini ibu mengeluarkan banyak sekali jumlah urin.
Hilangnya progesteron membantu mengurangi retensi cairan yang melekat dengan
meningkatnya vaskuler pada jaringan tersebut selama kehamilan bersama-sama
dengan trauma selama persalinan.
Pada persalinan
pervaginam kehilangan darah sekitar 300 – 400 cc. Bila kelahiran melalui seksio
sesarea, maka kehilangan darah dapat dua kali lipat. Perubahan terdiri dari
volume darah (blood volume) dan hematokrit (haemoconcentration).
Bila persalinan pervaginam, hematokrit akan naik dan pada seksio sesaria,
hematokrit cenderung stabil dan kembali normal setelah 4-6 minggu.
Setelah persalinan, shunt akan hilang dengan
tiba-tiba. Volume darah ibu relatif akan bertambah. Keadaan ini akan
menimbulkan beban pada jantung, dapat menimbulkan decompensation cordia
pada penderita vitum cordia. Keadaan ini dapat diatasi dengan mekanisme
kompensasi dengan timbulnya haemokonsentrasi sehingga volume darah kembali
seperti sediakala, umumnya hal ini terjadi pada hari 3-5 postpartum.
2.4 Perubahan Sistem Hematologis Pada Masa Nifas
Selama
minggu-minggu terakhir kehamilan, kadar fibrinogen dan plasma serta
faktor-faktor pembekuan darah meningkat. Pada hari pertama postpartum, kadar
fibrinogen dan plasma akan sedikit menurun tetapi darah lebih mengental dengan
peningkatan viskositas sehingga meningkatkan faktor pembekuan darah.
Leukositosis yang meningkat dimana jumlah sel darah putih dapat mencapai 15000
selama persalinan akan tetap tinggi dalam beberapa hari pertama dari masa
postpartum. Jumlah sel darah putih tersebut masih bisa naik lagi sampai 25000
atau 30000 tanpa adanya kondisi patologis jika wanita tersebut mengalami
persalinan lama. Jumlah hemoglobine, hematokrit dan erytrosyt akan sangat
bervariasi pada awal-awal masa postpartum sebagai akibat dari volume darah,
volume plasenta dan tingkat volume darah yang berubah-ubah. Semua tingkatan ini
akan dipengaruhi oleh status gizi dan hidrasi wanita tersebut. Kira-kira selama
kelahiran dan masa postpartum terjadi kehilangan darah sekitar 200-500 ml.
Penurunan volume dan peningkatan sel darah pada kehamilan diasosiasikan dengan
peningkatan hematokrit dan hemoglobine pada hari ke 3-7 postpartum dan akan
kembali normal dalam 4-5 minggu postpartum.
2.5 Perubahan Sistem Pencernaan Pada Masa Nifas
Sering terjadi
konstipasi pada ibu setelah melahirkan. Hal ini umumnya disebabkan karena
makanan padat dan kurangnya berserat selama persalinan. Di samping itu rasa
takut untuk buang air besar, sehubungan dengan jahitan pada perineum, jangan
sampai lepas dan juga takut akan rasa nyeri. Buang air besar harus dilakukan 3
– 4 hari setelah persalinan. Apabila masih juga terjadi konstipasi dan buang
air besarnya mungkin keras dapat diberikan obat laksan per oral atau per
rektal. Dan jika masih juga belum berhasil, dilakukan klysma ( klisma ), enema
( ing ) artinya suntikan urus – urus.
2.6 Perubahan Sistem Ekskresi
Pasca persalinan
ada suatu peningkatan kapasitas kandung kemih, pembengkakan dan trauma
jaringan sekitar uretra yang terjadi selama proses melahirkan. Ini terjadi
akibat kelahiran dan efek konduksi anestesi yang menghambat fungsi neural pada
kandung kemih.Distensi yang berlebihan pada kandung kemih dapat
mengakibatkan perdarahan dan kerusakan lebih lanjut. Pengosongan kandung
kemih harus diperhatikan. Kandung kemih biasanya akan pulih dalam waktu 5-7
hari pasca melahirkan sedangkan saluran kemih normal dalam waktu 2-8 minggu
tergantung pada keadaan/ status sebelum persalinan, lamanya kala II yang
dilalui, besarnya tekanan kepala janin saat keluar.
Dinding kandung kencing memperlihatkan oedem dan
hyperemia.
Kadang-kadang
oedema trigonum, menimbulkan abstraksi dari uretra sehingga terjadi retensio
urine. Kandung kencing dalam puerperium kurang sensitif dan kapasitasnya
bertambah, sehingga kandung kencing penuh atau sesudah kencing masih tertinggal
urine residual (normal + 15 cc). Sisa urine dan trauma pada kandung
kencing waktu persalinan memudahkan terjadinya infeksi.
Dilatasi ureter
dan pyolum normal dalam waktu 2 minggu. Urine biasanya berlebihan (poliurie)
antara hari kedua dan kelima, hal ini disebabkan karena kelebihan cairan
sebagai akibat retensi air dalam kehamilan dan sekarang dikeluarkan.
Kadang-kadang hematuri akibat proses katalitik involusi. Acetonurie terutama
setelah partus yang sulit dan lama yang disebabkan pemecahan karbohidrat yang
banyak, karena kegiatan otot-otot rahim dan karena kelaparan. Proteinurine
akibat dari autolisis sel-sel otot.
Pada masa
hamil, perubahan hormonal yaitu kadar steroid tinggi yang berperan meningkatkan
fungsi ginjal. Begitu sebaliknya, pada pasca melahirkan kadar steroid menurun
sehingga menyebabkan penurunan fungsi ginjal. Fungsi ginjal kembali normal
dalam waktu satu bulan setelah wanita melahirkan. Urin dalam jumlah yang besar
akan dihasilkan dalam waktu 12 – 36 jam sesudah melahirkan.
Buang air kecil sering sulit selama 24 jam
pertama.kemungkinan terdapat spasine sfingter dan edema leher buli-buli sesudah
bagian ini mengalami kompresi antara kepala janin dan tulang pubis selama
persalinan.
Urin dalam jumlah yang besar akan dihasilkan dalam waktu
12 – 36 jam sesudah melahirkan. Setelah plasenta dilahirkan, kadar hormon
estrogen yang bersifat menahan air akan memgalami penurunan yang mencolok.
Keadaan ini menyebabkan diuresis. Ureter yang berdilatasi akan kembali normal
dalam tempo 6 minggu.
Hal yang berkaitan dengan fungsi sistem perkemihan,
antara lain:
1. Hemostatis internal
Tubuh, terdiri dari air dan unsur-unsur yang larut di
dalamnya, dan 70% dari cairan tubuh terletak di dalam sel-sel, yang disebut
dengan cairan intraselular. Cairan ekstraselular terbagi dalam plasma darah,
dan langsung diberikan untuk sel-sel yang disebut cairan interstisial. Beberapa
hal yang berkaitan dengan cairan tubuh antara lain edema dan dehidrasi. Edema
adalah tertimbunnya cairan dalam jaringan akibat gangguan keseimbangan cairan
dalam tubuh. Dehidrasi adalah kekurangan cairan atau volume air yang terjadi
pada tubuh karena pengeluaran berlebihan dan tidak diganti.
2. Keseimbangan asam basa tubuh
Keasaman dalam tubuh disebut PH. Batas normal PH
cairan tubuh adalah 7,35-7,40. Bila PH >7,4 disebut alkalosis dan jika PH <
7,35 disebut asidosis.
3. Pengeluaran sisa metabolisme
Zat toksin ginjal mengekskresi hasil akhir dari
metabolisme protein yang mengandung nitrogen terutama urea, asam urat dan
kreatinin.
Ibu post partum dianjurkan segera buang air kecil,
agar tidak mengganggu proses involusi uteri dan ibu merasa nyaman. Namun
demikian, pasca melahirkan ibu merasa sulit buang air kecil.
Hal yang menyebabkan kesulitan buang air kecil pada
ibu post partum, antara lain:
1. Adanya odema
trigonium yang menimbulkan obstruksi sehingga terjadi retensi urin.
2. Diaforesis yaitu
mekanisme tubuh untuk mengurangi cairan yang teretansi dalam tubuh, terjadi
selama 2 hari setelah melahirkan.
3. Depresi dari sfingter
uretra oleh karena penekanan kepala janin dan spasme oleh iritasi muskulus
sfingter ani selama persalinan, sehingga menyebabkan miksi.
Setelah plasenta dilahirkan, kadar hormon estrogen
akan menurun, hilangnya peningkatan tekanan vena pada tingkat bawah, dan
hilangnya peningkatan volume darah akibat kehamilan, hal ini merupakan
mekanisme tubuh untuk mengatasi kelebihan cairan. Keadaan ini disebut dengan
diuresis pasca partum. Ureter yang berdilatasi akan kembali normal dalam tempo
6 minggu.
Kehilangan cairan melalui keringat dan peningkatan
jumlah urin menyebabkan penurunan berat badan sekitar 2,5 kg selama masa pasca
partum. Pengeluaran kelebihan cairan yang tertimbun selama hamil kadang-kadang
disebut kebalikan metabolisme air pada masa hamil (reversal of the water
metabolisme of pregnancy).
Bila wanita pasca persalinan tidak dapat berkemih
dalam waktu 4 jam pasca persalinan mungkin ada masalah dan sebaiknya segera
dipasang dower kateter selama 24 jam. Bila kemudian keluhan tak dapat berkemih
dalam waktu 4 jam, lakukan kateterisasi dan bila jumlah residu > 200 ml maka
kemungkinan ada gangguan proses urinasinya. Maka kateter tetap terpasang dan
dibuka 4 jam kemudian , bila volume urine < 200 ml, kateter dibuka dan
pasien diharapkan dapat berkemih seperti biasa.
2.7 Perubahan Sistem Endokrin Pada Masa Nifas
Setelah
melahirkan, sistem endokrin kembali kepada kondisi seperti sebelum hamil.
Hormon kehamilan mulai menurun segera setelah plasenta keluar. Turunnya
estrogen dan progesteron menyebabkan peningkatan prolaktin dan menstimulasi air
susu. Perubahan fisioligis yang terjadi pada wanita setelah melahirkan
melibatkan perubahan yang progresif atau pembentukan jaringan-jaringan baru.
Selama proses kehamilan dan persalinan terdapat perubahan pada sistem endokrin,
terutama pada hormon-hormon yang berperan dalam proses tersebut.
Hormon yang berperan dalam sistem endokrin
sebagai berikut :
a.Oksitosin
Oksitosin disekresikan dari kelenjar otak bagian belakang. Selama tahap kala III persalinan, hormon oksitosin berperan dalam pelepasan plasenta dan mempertahankan kontraksi, sehingga mencegah pendarahan. Isapan bayi dapat merangsang produksi ASI dan sekresi oksitosin yang dapat membantu uterus kembali kebentuk normal.
Oksitosin disekresikan dari kelenjar otak bagian belakang. Selama tahap kala III persalinan, hormon oksitosin berperan dalam pelepasan plasenta dan mempertahankan kontraksi, sehingga mencegah pendarahan. Isapan bayi dapat merangsang produksi ASI dan sekresi oksitosin yang dapat membantu uterus kembali kebentuk normal.
b. Prolaktin
Menurunnya kadar estrogen menimbulkan terangsangnya kelenjar pituitari bagian belakang untuk mengeluarkan prolaktin. Hormon ini berperan dalam pembesaran payudara untuk merangsang produksi susu. Pada wanita yang menyusui bayinya, kadar prolaktin tetap tinggi dan pada permulaan ada rangsangan folikel dalam ovarium yang ditekan. Pada wanita yang tidak menyusui tingkat sirkulasi prolaktin menurun dalam 14 sampai 21 hari setelah persalinan, sehingga merangsang kelenjar bawah depan otak yang mengontrol ovarium kearah permulan pola produksi estrogen dan progesteron yang normal, pertumbuhan folikel ovulasi dan menstruasi.
Menurunnya kadar estrogen menimbulkan terangsangnya kelenjar pituitari bagian belakang untuk mengeluarkan prolaktin. Hormon ini berperan dalam pembesaran payudara untuk merangsang produksi susu. Pada wanita yang menyusui bayinya, kadar prolaktin tetap tinggi dan pada permulaan ada rangsangan folikel dalam ovarium yang ditekan. Pada wanita yang tidak menyusui tingkat sirkulasi prolaktin menurun dalam 14 sampai 21 hari setelah persalinan, sehingga merangsang kelenjar bawah depan otak yang mengontrol ovarium kearah permulan pola produksi estrogen dan progesteron yang normal, pertumbuhan folikel ovulasi dan menstruasi.
c. Estrogen
dan progesteron
Selama hamil
volume darah normal meningkat walaupun mekanismenya secara penuh belum
dimengerti. Diperkirakan bahwa tingkat estrogen yang tinggi memperbesar hormon
antidiuretik yang meningkatkan volume darah. Disamping itu, progesteron
mempengaruhi otot halus yang mengurangi perangsangan dan peningkatan pembuluh
darah yang sangat mempengaruhi saluran kemih, ginjal, usus, dinding vena, dasar
panggul, perineum dan vulva, serta vagina.
d. Hormon plasenta
Hormon plasenta menurun dengan
cepat setelah persalinan. Human chorionic gonadotropin (HCG) menurun dengan
cepat dan menetap sampai 10% dalam 3 jam hingga hari ke 7 postpartum dan
sebagai omset pemenuhan mammae pada hari ke 3 postpatum. Penurunan hormone
human plecenta lactogen (Hpl), estrogen dan kortiosol, serta placenta enzyme
insulinasi membalik efek diabetogenik kehamilan, sehingga kadar gula darah
menurun secara yang bermakna pada masa puerperium. Kadar estrogen dan
progesterone menurun secara mencolok setelah plasenta keluar, kadar terendahnya
di capai kira-kira satu minggu pasca partum. Penurunan kadar ekstrogen
berkaitan dengan pembekakan payudara dan dieresis ekstraseluler berlebih yang
terakumulasi selama masa hamil. Pada wanita yang tidak melahirkan tidak
menyusui kadar ekstrogen mulai meningkat pada minggu ke 2 setelah melahirkan
dan lebih tinggi dari pada wanita yang menyusui pada postpartum hari ke 17.
e. Hormon hipofisis dan fungsi ovarium
Waktu
mulainya ovulasi dan menstruasi pada wanita menyusui dan tidak menyusui
berbeda. Kadar proklatin serum yang tinggi pada wanita menyusui berperan dalam
menekan ovulasi karena kadar hormone FSH terbukti sama pada wanita menyusui dan
tidak menyusui, di simpulkan ovarium tidak berespon terhadap stimulasi FSH
ketika kadar prolaktin meningkat. Kadar prolaktin meningkat secara pogresif
sepanjang masa hamil. Pada wanita menyusui kadar prolaktin tetap meningkat
sampai minggu ke 6 setelah melahirkan. Kadar prolaktin serum dipengaruhi oleh
kekerapan menyusui, lama setiap kali menyusui dan banyak makanan tambahan yang
diberikan. Untuk wanita yang menyusui dan tidak menyusui akan mempengaruhi
lamanya ia mendapatkan menstruasi. Sering kali menstruasi pertama itu bersifat
anovulasi yang dikarenakan rendahnya kadar estrogen dan progesteron. Di antara
wanita laktasi sekitar 15 % memperoleh menstruasi selama 6 minggu dan 45%
setelah 12 minggu dan 90% setelah 24 minggu. Untuk wanita laktasi 80%
menstruasi pertama anovulasi dan untuk wanita yang tidak laktasi 50% siklus
pertama anovulasi.
2.8 Perubahan Sistem Musculoskeletal Pada Masa Nifas
Ligamen, fasia,
dan diafragma pelvis yang meregang pada waktu persalinan, setelah bayi lahir,
secara berangsur-angsur menjadi ciut dan pulih kembali sehingga tidak jarang uterus
jatuh ke belakang dan menjadi retrofleksi, karena ligamen rotundum menjadi
kendor. Stabilisasi secara sempurna terjadi pada 6-8 minggu setelah persalinan.
Sebagai akibat putusnya serat-serat elastik kulit dan
distensi yang berlangsung lama akibat besarnya uterus pada saat hamil, dinding
abdomen masih lunak dan kendur untuk sementara waktu. Pemulihan dibantu dengan
latihan.
2.9 Perubahan Tanda-Tanda Vital Pada Masa Nifas
a. Suhu Badan
Satu hari
(24jam) postprtum suhu badan akan naik sedikit (37,5°C – 38°C) sebagai akibat
kerja keras waktu melahirkan, kehilangan cairan dan kelelahan. Apabila keadaan
normal suhu badan menjadi biasa. Biasanya pada hari ketiga suhu badan naik lagi
karena adanya pembentukan ASI, buah dada menjadi bengkak, berwarna merah karena
banyaknya ASI. Bila suhu tidak turun kemungkinan adanya infeksi pada
endometrium, mastitis, tractus genitalis atau sistem lain.
b. Nadi
Denyut nadi
normal pada orang dewasa 60-80 kali permenit. Sehabis melahirkan biasanya
denyut nadi itu akan lebih cepat. Setiap denyut nadi yang melebihi 100
adalah abnormal dan hal ini mungkin disebabkan oleh infeksi atau perdarahan
postpartum yang tertunda. Sebagian wanita mungkin saja memiliki apa yng disebut
bradikardi nifas (puerperal bradycardia) hal ini terjadi segera setelah kelahiran an biasa
berlanjut sampai beberapa jam setelah kelahiran anak. Wanita semacam ini bisa
memiliki angka denyut jantung serendah 40-50 detak permenit. Sudah banyak alasan-alasan
yang diberikan sebagai kemungkinan penyebab,tetapi belum satupun yang sudah terbukti. Bradycardia semacam itu bukanlah astu
alamat atau indikasi adanya penyakit,akan tetapi sebagai satu tanda
keadaan kesehatan.
c. Tekanan darah
Biasanya
tidak berubah, kemungkinan tekanan darah akan rendah setelah ibu melahirkan
karena ada perdarahan. Tekanan darah tinggi pada postpartum dapat menandakan
terjadinya preeklampsi postpartum.
d. Pernafasan
Keadaan
pernafasan selalu berhubungan dengan keadaan suhu dan denyut nadi. Bila suhu
nadi tidak normal, pernafasan juga akan mengikutinya, kecuali apabila ada
gangguan khusus pada saluran nafas.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Masa nifas disebut juga masa post partum atau
puerperium adalah masa atau waktu sejak bayi dilahirkan dan plasenta keluar
lepas dari rahim,sampai enam minggu berikutnya, disertai dengan pulihnya
kembali organ – organ yang berkaitan dengan kandungan, yang mengalami perubahan
seperti perlukaan dan lain sebagainya brkaitan saat melahirkan.
Seorang ibu hamil akan mengalami banyak perubahan – perubahan fisiologis
pada saat setelah melahirkan ( masa nifas ).Salah satu perubahan yang terjadi
adalah perubahan pada sistem reproduksi, sistem kardiovaskular, pada sistem
hematologi, pada sistem pencernaan, pada sistem ekskresi, pada sistem endokrin, pada sistem musculoskeletal, dan
perubahan tanda-tanda vital
3.2 Saran
Untuk menghadapi perubahan pada masa nifas
yang dialami ibu, bidan memerlukan manajemen yang baik, agar ibu nifas mampu
melaluinya dengan baik. Selain itu penting adanya bagi ibu nifas untuk memahami
betul bagaimana perubahan yang terjadi pada saat masa nifas, agar ibu mampu
membedakan antara perubahan yang fisiologis atau patologis pada saat masa
nifas.
Daftar Pustaka
Bobak Irene, Lowdermik Deitra Leonard, Jensen
Margaret Duncan. 2005. Keperawatan Maternitas.Jakarta:EGC
Cuningham, Gant, Leveno dkk.2004. Obstetri Williams edisi 21. Jakarta : EGC
Prawirohardjo, Sarwono.2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta : PT Bina Pustaka
Cuningham, Gant, Leveno dkk.2004. Obstetri Williams edisi 21. Jakarta : EGC
Prawirohardjo, Sarwono.2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta : PT Bina Pustaka
Varney,Helen,
dkk. 2003.Buku Ajar Asuhan Kebidanan Edisi 4.Jakarta :EGC
Tidak ada komentar:
Posting Komentar