BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Tulang merupakan
suatu jaringan ikat dengan spesifikasi yang khusus dan bereaksi secara
terbatas terhadap suatu keadaan abnormal. Fraktur atau patah tulang adalah
terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa
(Mansjoer, Arif, 2000). Sedangkan menurut Linda Juall C (1999) Fraktur adalah
rusaknya kontinuitas tulang yang disebabkan tekanan eksternal yang datang lebih
besar dari yang dapat diserap oleh tulang.
Kompleksitas dan perpindahan dari fraktur tergantung
secara besar pada tenaga yang terbangun pada struktur mendahului fraktur.
Bentuk bidang fraktur (fraktur transversal, fraktur split, avulsi, impaksi,
dsb) berhubungan dengan sifat beban, yang mana bisa bersifat penekanan,
pembengkokan, torsional, pemotongan, atau setiap kombinasi dari hal-hal
tersebut.
Tulang merupakan alat penopang dan
sebagai pelindung pada tubuh. Tanpa tulang tubuh tidak akan tegak berdiri.
Fungsi tulang dapat diklasifikasikan sebagai aspek mekanikal (memberikan
sokongan pada tubuh) maupun aspek fisiologikal (melindungi organ-organ dalam).
Tulang juga menghasilkan sel darah
merah, sel darah putih dan plasma. Selain itu tulang sebagai tempat penyimpanan
kalsium, fosfat, dan garam magnesium. Namun karena tulang bersifat relatif
rapuh, pada keadaan tertentu tulang dapat mengalami patah, sehingga menyebabkan
gangguan fungsi tulang terutama pada pergerakan.
1.2 Rumusan Masalah
1.
Apa yang dimaksud dengan Fraktur?
2.
Apa yang dimaksud dengan Klavikula?
3.
Apa yang dimaksud dengan
Fraktur Klavikula?
4.
Apa yang dimaksud dengan Humerus?
5.
Apa yang dimaksud dengan Fraktur
Humerus?
1.3 Tujuan dan Manfaat
·
Tujuan umum
Untuk menambah pengetahuan mahasiswi
bidan tentang Fraktur Klavikula dan Fraktur Humerus.
·
Manfaat Penulisan
Hasil
dari penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada semua pihak,
khususnya kepada mahasiswi kebidanan untuk menambah pengetahuan dan wawasan
mengenai Fraktur Klavikula dan Humerus.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Fraktur
A. Pengertian Fraktur
Fraktur
adalah terputusnya hubungan atau kontinuitas tulang karena stress pada tulang
yang berlebihan (Luckmann and Sorensens, 1993 : 1915)
Fraktur
adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik kekuatan
dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang itu sendiri, dan jaringan lunak
disekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap atau
tidak lengkap. (Price and Wilson, 1995 : 1183)
Fraktur
menurut Rasjad (1998 : 338) adalah hilangnya konstinuitas tulang, tulang rawan
sendi, tulang rawan epifisis, baik yang bersifat total maupun yang parsial.
Fraktur adalah
retaknya tulang, biasanya disertai dengan cedera di jaringan sekitarnya.
Kebanyakan fraktur disebabkan oleh trauma dimana terdapat tekanan yang
berlebihan pada tulang, baik berupa trauma langsung dan trauma tidak langsung.
B. Jenis Fraktur atau retak tulang
1.
Complete fracture (retak tulang komplet), patah pada
seluruh garis tengah tulang,luas dan melintang. Biasanya disertai dengan
perpindahan posisi tulang.
2.
Closed fracture (simple fracture), tidak menyebabkan
robeknya kulit, integritas kulit masih utuh.
3.
Open fracture (compound fracture / komplikata/
kompleks), merupakan retak tulang dengan luka pada kulit (integritas kulit
rusak dan ujung tulang menonjol sampai menembus kulit) atau membran mukosa
sampai ke patahan tulang. retak tulang terbuka digradasi menjadi:
·
Grade I: luka bersih dengan panjang kurang dari 1 cm.
·
Grade II: luka lebih luas tanpa kerusakan jaringan
lunak yang ekstensif.
·
Grade III: sangat terkontaminasi, dan mengalami
kerusakan jaringan lunak ekstensif.
4.
Greenstick, retak tulang di mana salah satu sisi
tulang patah sedang sisi lainnya membengkok.
5.
Transversal, retak tulang sepanjang garis tengah
tulang.
6.
Oblik, retak tulang membentuk sudut dengan garis
tengah tulang.
7.
Spiral, retak tulang memuntir seputar batang tulang.
8.
Komunitif, retak tulang dengan tulang pecah menjadi
beberapa fragmen.
9.
Depresi, retak tulang dengan fragmen patahan terdorong
ke dalam (sering terjadi pada tulang tengkorak dan wajah).
10. Kompresi,
retak tulang dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang belakang).
11. Patologik,
retak tulang yang terjadi pada daerah tulang berpenyakit (kista tulang, paget,
metastasis tulang, tumor).
12. Avulsi,
tertariknya fragmen tulang oleh ligamen atau tendo pada prlekatannya.
13. Epifisial,
retak tulang melalui epifisis.
14. Impaksi,
retak tulang dimana fragmen tulang terdorong ke fragmen tulang lainnya
C. Etiologi
Penyebab
fraktur diantaranya :
a. Trauma
1) Trauma langsung : Benturan pada tulang mengakibatkan ditempat tersebut.
2) Trauma tidak langsung : Titik tumpu benturan dengan terjadinya fraktur
berjauhan.
b. Fraktur Patologis
Fraktur
disebabkan karena proses penyakit seperti osteoporosis, kanker tulang dan lain- lain.
c. Degenerasi
Terjadi kemunduran patologis dari jaringan itu sendiri : usia lanjut
d. Spontan
Terjadi tarikan otot yang sangat kuat seperti olah raga.
D. Manifestasi Klinis
a.
Nyeri
lokal
b.
Pembengkakan
c.
Eritema
d.
Peningkatan
suhu
e.
Pergerakan
abnormal
E. Proses Penyembuhan Tulang
a. Stadium Pembentukan
Hematoma
Hematoma terbentuk dari darah yang mengalir dari pembuluh darah yang rusak,
hematoma dibungkus jaringan lunak sekitar (periostcum dan otot) terjadi 1 – 2 x
24 jam.
b. Stadium Proliferasi
Sel-sel berproliferasi dari lapisan dalam periostcum, disekitar lokasi
fraktur sel-sel ini menjadi precursor osteoblast dan aktif tumbuh kearah
fragmen tulang. Proliferasi juga terjadi dijaringan sumsum tulang, terjadi
setelah hari kedua kecelakaan terjadi.
c. Stadium Pembentukan Kallus
Osteoblast membentuk tulang lunak / kallus memberikan regiditas pada
fraktur, massa kalus terlihat pada x-ray yang menunjukkan fraktur telah
menyatu. Terjadi setelah 6 – 10 hari setelah kecelakaan terjadi.
d. Stadium Konsolidasi
Kallus mengeras dan terjadi proses konsolidasi, fraktur teraba telah
menyatu, secara bertahap-tahap menjadi tulang matur. Terjadi pada minggu ke 3 –
10 setelah kecelakaan.
e. Stadium Remodelling
Lapisan bulbous mengelilingi tulang khususnya pada kondisi lokasi eks
fraktur. Tulang yang berlebihan dibuang oleh osteoklas. Terjadi pada 6 -8
bulan.
F. Konsep Dasar penanganan Fraktur
Ada empat konsep dasar dalam menangani fraktur, yaitu :
a. Rekognisi
Rekognisi dilakukan dalam hal diagnosis dan penilaian fraktur. Prinsipnya
adalah mengetahui riwayat kecelakaan, derajat keparahannya, jenis kekuatan yang
berperan dan deskripsi tentang peristiwa yang terjadi oleh penderita sendiri.
b. Reduksi
Reduksi adalah usaha / tindakan manipulasi fragmen-fragmen seperti letak
asalnya. Tindakan ini dapat dilaksanakan secara efektif di dalam ruang gawat
darurat atau ruang bidai gips. Untuk mengurangi nyeri selama tindakan,
penderita dapat diberi narkotika IV, sedative atau blok saraf lokal.
c. Retensi
Setelah fraktur direduksi, fragmen tulang harus dimobilisasi atau
dipertahankan dalam posisi dan kesejajaran yang benar sampai terjadi penyatuan.
Immobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau interna. Metode
fiksasi eksterna meliputi gips, bidai, traksi dan teknik fiksator eksterna.
d. Rehabilitasi
Merupakan proses mengembalikan ke fungsi dan struktur semula dengan cara
melakukan ROM aktif dan pasif seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuan klien.
Latihan isometric dan setting otot. Diusahakan untuk meminimalkan atrofi disuse
dan meningkatkan peredaran darah.
2.2 Klavikula
A. Pengertian Klavikula
Clavicula merupakan tulang yang berbentuk huruf S, bagian medial melengkung
lebih besar dan menuju ke anterior. Lengkungan bagian lateral lebih kecil dan
menghadap ke posterior. Ujung medial clavicula disebut extremitas sternalis,
membentuk persendian dengan sternum, dan uJung lateral disebut extremitas
acromialis, membentuk persendian dengan acromion. Facies superior clavicula
agak halus, dan pada facies inferior di bagian medial terdapat tuberositas
costalis. Disebelah lateral tuberositas tersebut terdapat sulcus subclavius,
tempat melekatnya m. Subclavius, dan disebelah lateralnya lagi terdapat
tuberositas coracoidea, tempat melekat lig. Coracoclaviculalis.
Klavikula adalah tulang panjang yang dimodifikasi
memiliki dua kurva. Medial 2/3 dari tulang memiliki kurva cembung dan lateral
1/3 memiliki kurva cekung seperti yang terlihat dari depan. Ini adalah
satu-satunya tulang panjang tubuh manusia yang terletak horizontal di posisi alaminya.
Seperti semua tulang panjang, memiliki dua ujung. Lateral akhir berartikulasi
dengan proses akromion skapula dan akhir medial berartikulasi dengan sternum
dan kartilago kosta pertama. Menuju sisi medial, poros tulang dibulatkan
sementara menuju sisi lateral, itu adalah datar dan membentuk permukaan
superior dan inferior. Klavikula adalah subkutan seluruh panjangnya dan dapat
dengan mudah dilihat dalam semua mata pelajaran. Klavikula memiliki dua batas
dan dua permukaan. Perbatasan adalah anterior dan posterior dan permukaan yang
superior dan inferior.
Clavicula adalah tulang yang
paling pertama mengalami pertumbuhan pada masa fetus, terbentuk melalui 2 pusat
ossifikasi atau pertulangan primer yaitu medial dan lateral clavicula, dimana
terjadi saat minggu ke-5 dan ke-6 masa intrauterin. Kernudian ossifikasi
sekunder pada epifise medial clavicula berlangsung pada usia 18 tahun sampai 20
tahun. Dan epifise terakhir bersatu pada usia 25 tahun sampai 26 tahun.
Pada tulang ini bisa terjadi banyak proses patologik sama seperti pada
tulang yang lainnya yaitu bisa ada kelainan congenital, trauma (fraktur),
inflamasi, neoplasia, kelainan metabolik tulang dan yang lainnya.
B. Fungsi Klavikula
Klavikula
bertindak sebagai strut untuk memegang ekstremitas atas lateral dari badan. Hal
ini juga dikenakan bagian dari berat ekstremitas atas (sisanya ditanggung oleh
tulang belikat). Dengan menjadi lateral jauh dari tubuh, efisiensi fungsional
meningkat ekstremitas atas sangat.
2.3 Fraktur Klavikula
A.
Pengertian
Fraktur Klavikula
Fraktur clavikula
adalah rusaknya kontinuitas tulang clavikula, yang diakibatkan oleh tekanan
eksternal yang lebih besar dari yang dapat diserap oleh tulang. Bila fraktur
clavikula mengubah posisi tulang, struktur yang ada disekitarnya (otot, tendon,
saraf dan pembuluh darah) juga mengalami kerusakan. Cidera traumatic paling
banyak menyebabkan fraktur clavikula. (Carpenito,1999).
Fraktur clavikula atau patah tulang clavikula adalah terputusnya kontinuitas jaringan atau tulang rawan tulang clavikula yang umumnya disebabkan oleh ruda paksa (Manjoer,
2000). Fraktur clavikula adalah Hilangnya kesinambungan substansi tulang clavikula dengan atau tanpa pergeseran fragmen-fragmen fraktur
Fraktur clavikula atau patah tulang clavikula adalah terputusnya kontinuitas jaringan atau tulang rawan tulang clavikula yang umumnya disebabkan oleh ruda paksa (Manjoer,
2000). Fraktur clavikula adalah Hilangnya kesinambungan substansi tulang clavikula dengan atau tanpa pergeseran fragmen-fragmen fraktur
Fraktur clavicula bisa
disebabkan oleh benturan ataupun kompressi yang berkekuatan rendah sampai yang
berkekuatan tinggi yang bisa menyebabkan terjadinya fraktur tertutup ataupun
multiple trauma.
Fraktur ini merupakan jenis
yang tersering pada bayi baru lahir,yang mungkin terjadi apabila terdapat
kesulitan mengeluarkan bahu pada persalinan. Hal ini dapat timbul pada
kelahiran presentasi puncak kepala dan pada lengan yang telentang pada
kelahiran sungsang. Gejala yang tampak pada keadaan ini adalah kelemahan lengan
pada sisi yang terkena, krepitasi, ketidakteraturan tulang mungkin dapat
diraba, perubahan warna kulit pada bagian atas yang terkena fraktur serta
menghilangnya refleks Moro pada sisi tersebut. Diagnosis dapat ditegakkan
dengan palpasi dan foto rontgent. Penyembuhan sempurna terjadi setelah 7-10
hari dengan imobilisasi dengan posisi abduksi 60 derajat dan fleksi 90 derajat
dari siku yang terkena.
B.
Etiologi
Menurut Sarwono Prawirohardjo, 2005
Penyebab farktur clavicula
biasanya disebabkan oleh trauma pada bahu akibat kecelakaan apakah itu karena
jatuh atau kecelakaan kendaraan bermotor, namun kadang dapat juga disebabkan
oleh faktor-faktor non traumatik. Berikut beberapa penyebab pada fraktur
clavicula yaitu :
1. Fraktur
clavicula pada bayi baru lahir akibat tekanan pada bahu oleh simphisis pubis
selama proses melahirkan.
2. Fraktur
clavicula akibat kecelakaan termasuk kecelakaan kendaraan bermotor, jatuh dari
ketinggian dan yang lainnya.
3. Fraktur
clavicula akibat kompresi pada bahu dalam jangka waktu lama, misalnya pada
pelajar yang menggunakan tas yang terlalu berat.
4. Fraktur
clavicula akibat proses patologik, misalnya pada pasien post radioterapi,
keganasan clan lain-lain.
C. Gejala Fraktur pada Bayi
Penyebab farktur clavicula
biasanya disebabkan oleh trauma pada bahu akibat trauma jalan lahir dengan
gejala:
1. Bayi tidak
dapat menggerakkan lengan secara bebas pada sisi yang terkena,
2. Krepitasi
dan ketidakteraturan tulang,
3. Kadang-kadang
disertai perubahan warna pada sisi fraktur,
4. Tidak adanya
refleks moro pada sisi yang terkena,
5. Adanya
spasme otot sternokleidomastoideus yang disertai dengan hilangnya depresi
supraklavikular pada daerah fraktur.
6. Biasanya
diikuti palsi lengan
D. Faktor
predisposisi fraktur klavikula adalah:
1.
Bayi yang berukuran besar
2.
Distosia bahu
3.
Partus dengan letak sungsang
4.
Persalinan traumatic .
E. Klasifikasi Fraktur Klavikula
Pengklasifikasian fraktur clavicula didasari oleh lokasi fraktur pada
clavicula tersebut. Ada tiga lokasi pada clavicula yang paling sering mengalami
fraktur yaitu pada bagian midshape clavikula dimana pada anak-anak berupa
greenstick, bagian distal clavicula dan bagian proksimal clavicula. Menurut
Neer secara umum fraktur klavikula diklasifikasikan menjadi tiga tipe yaitu :
1. Tipe I :
Fraktur pada bagian tengah clavicula. Lokasi yang paling sering terjadi
fraktur.
2. Tipe II :
Fraktur pada bagian distal clavicula. Lokasi tersering kedua mengalami fraktur
setelah midclavicula.
3. Tipe III :
Fraktur pada bagian proksimal clavicula. Fraktur yang paling jarang terjadi
dari semua jenis fraktur clavicula, insidensnya hanya sekitar 5%.
Ada beberapa subtype fraktur
clavicula bagian distal, menurut Neer ada 3 yaitu :
1. Tipe I
: merupakan fraktur dengan kerusakan minimal, dimana ligament tidak
mengalami kerusakan.
2. Tipe :
merupakan fraktur pada daerah medial ligament coracoclavicular.
3. Tipe III :
merupakan fraktur pada daerah distal ligament coracoclavicular dan melibatkan
permukaan tulang bagian distal clavicula pada AC joint.
F. Diagnosis
Hasil pemeriksaan
1.
Adanya
pembengkakan pada sektor daerah fractur.
2.
Krepitasi.
3.
Pergerakan
lengan berkurang.
4.
Iritable
selama pergerakan lengan.
Diagnosis RO tidak selalu diindikasikan, 80% tidak mempunyai gejala dan
hanya didapatkan hasil pemeriksaan yang minimal.
G. Penatalaksanaan
Adapun penatalaksanaan
terhadap bayi yang mengalami fraktur klavikula, yaitu:
1. Bayi jangan
banyak digerakkan
2. Immobilisasi
lengan dan bahu pada sisi yang akit dan abduksi lengan dalam stanhoera menopang
bahu belakang dengan memasang ransel verband
3. Rawat bayi
dengan hati-hati
4. Nutrisi yang
adekuat (pemberian asi yang adekuat dengan cara mengajarkan pada ibu acar
pemberian asi dengan posisi tidur, dengan sendok atau pipet)
5. Rujuk bayi
kerumah sakit
Umumnya 7-10 hari sakit berkurang, pembentukan kalus bertambah beberapa
bulan (6-8 minggu) terbentuk tulang normal.
2.4 Humerus
Humerus adalah kedua tulang terbesar pada lengan dan
satu-satunya tulang di lengan atas. Banyak otot yang kuat yang memanipulasi
lengan atas pada bahu dan lengan bawah pada siku yang bertumpu pada humerus.
Gerakan humerus sangat penting untuk semua kegiatan bervariasi dari lengan,
seperti melempar, mengangkat, dan menulis.
Pada ujung proksimal, humerus membentuk bagian
halus, struktur seperti bola yang dikenal sebagai kepala humerus. Kepala
humerus membentuk sendi bola dan soket pada bahu, dengan rongga glenoidalis
dari skapula bertindak seperti soket. Bentuk bulat dari kepala humerus
memungkinkan humerus bergerak dalam lingkaran lengkap (sirkumduksi) dan
berputar di sekitar porosnya pada sendi bahu. Tepat di bawah kepala, humerus
menyempit ke bagian anatomi leher humerus.
Humerus
diklasifikasikan secara struktural sebagai tulang panjang karena jauh lebih
panjang daripada lebar. Seperti semua tulang panjang, humerus memiliki lubang
di tengah-tengah poros dan diperkuat di ujungnya dengan kolom kecil tulang
spons dikenal sebagai trabekula. Sumsum tulang merah, jaringan yang
menghasilkan sel-sel darah baru,
ditemukan di ujung humerus dan didukung oleh trabekula tersebut. Rongga medula
di tengah poros humerus diisi dengan sumsum tulang kuning lemak untuk
penyimpanan energi.
Terlihat
di bagian
kanan
dari depan (A = anterior)
bagian
dalam (M = medial)
bagian
belakang (P = posterior)
Tulang kompak
membentuk struktur terbesar dan terkuat pada humerus, sekitar trabekula di
ujung dan rongga medula pada poros. Mengelilingi seluruh tulang adalah lapisan
periosteum berserat yang menyediakan bahan penghubung kuat namun tipis, untuk
tendon dan ligamen yang mengikat humerus ke otot dan tulang lainnya. Akhirnya,
ujung humerus dibatasi oleh lapisan tipis hialin dikenal sebagai tulang rawan
artikular yang bertindak sebagai peredam kejut pada sendi.
2.5 Fraktur
Humerus
A. Pengertian Fraktur Humerus
Fraktur humerus adalah diskontinuitas atau hilangnya struktur dari
tulang humerus (Mansjoer, Arif, 2000). Sedangkan menurut Sjamsuhidayat (2004)
Fraktur humerus adalah fraktur pada tulang humerus yang disebabkan oleh
benturan atau trauma langsung maupun tidak langsung.
Fraktur humerus adalah Kelainan yang
terjadi pada kesalahan teknik dalam melahirkan lengan pada presentasi puncak
kepala atau letak sungsang dengan lengan membumbung ke atas. Pada keadaan ini
biasanya sisi yang terkena tidak dapat digerakkan dan refleks Moro pada sisi
tersebut menghilang.
Fraktur tulang humerus umumnya
terjadi pada kelahiran letak sungsang dengan tangan menjungkit ke atas.
Kesukaran melahirkan tangan yang menjungkit merupakan penyebab terjadinya
tulang humerus yang fraktur. Pada kelahiran presentasi kepala dapat pula
ditemukan fraktur ini, jika ditemukan ada tekanan keras dan langsung pada
tulang humerus oleh tulang pelvis. Jenis frakturnya berupa greenstick atau
fraktur total.
B. Klasifikasi fraktur humerus
Fraktur atau
patah tulang humerus terbagi atas :
1. Fraktur Suprakondilar
humerus
Jenis
fraktur ini dapat dibedakan menjadi :
Ø Jenis ekstensi yang terjadi karena
trauma langsung pada humerus distal melalui benturan pada siku dan lengan bawah
pada posisi supinasidan lengan siku dalam posisi ekstensi dengan tangan terfikasi
Ø Jenis fleksi pada anak biasanya
terjadi akibat jatuh pada telapak tangan dengan tangan dan lengan bawah dalam
posisi pronasi dan siku dalam posisi sedikit fleksi
2. Fraktur
interkondiler humerus
Fraktur yang
sering terjadi pada anak adalah fraktur kondiler lateralis dan fraktur kondiler
medialis humerus
3. Fraktur
batang humerus
Fraktur ini
disebabkan oleh trauma langsung yang mengakibatkan fraktur spiral (fraktur yang
arah garis patahnya berbentuk spiral yang disebabkan trauma rotasi)
4. Fraktur
kolum humerus
Fraktur ini
dapat terjadi pada kolum antomikum (terletak di bawah kaput humeri) dan kolum
sirurgikum (terletak di bawah tuberkulum)
C. Etimologi
Fraktur tulang humerus umumnya terjadi pada kelahiran letak sungsang dengan
tangan menjungkit ke atas. Kesukaran melahirkan tangan yang menjungkit
merupakan penyebab terjadinya tulang humerus yang fraktur. Pada kelahiran
presentasi kepala dapat pula ditemukan fraktur ini, jika ditemukan ada tekanan
keras dan langsung pada tulang humerus oleh tulang pelvis. Jenis frakturnya
berupa greenstick atau fraktur total. Fraktur menurut Strek,1999 terjadi paling
sering sekunder akibat kesulitan pelahiran (misalnya makrosemia dan disproporsi
sefalopelvik, serta malpresentasi).
D. Gejala
1.
Berkurangnya gerakan tangan yang sakit
2.
Refleks moro asimetris
3.
Terabanya deformitas dan krepotasi di daerah fraktur
disertai rasa sakit
4.
Terjadinya
tangisan bayi pada gerakan pasif
Letak
fraktur umumnya di daerah diafisi. Diagnosa pasti ditegakkan dengan pemeriksaan
radiologik.
E. Gejala klinis
1.
Diketahui beberapa hari kemudian dengan ditemukan
adanya gerakan kaki yang berkurang dan asimetris.
2.
Adanya gerakan asimetris serta ditemukannya deformitas
dan krepitasi pada tulang femur.
3.
Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan
radiologik.
F. Penanganan
1.
Imobilisasi lengan pada sisi bayi dengan siku fleksi
90 derajat selama 10 sampai 14 hari serta control nyeri
2.
Daya penyembuhan fraktur tulang bagi yang berupa
fraktur tulang tumpang tindih ringan dengan deformitas, umumnya akan baik.
3.
Dalam masa pertumbuhan dan pembentukkan tulang pada
bayi, maka tulang yang fraktur tersebut akan tumbuh dan akhirnya mempunyai
bentuk panjang yang normal
Tidak ada komentar:
Posting Komentar