Selamat Membaca & Semoga Bermanfaat.., *_*

Jumat, 02 Oktober 2015

Fraktur Klavikula dan Fraktur Humerus



BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Tulang merupakan suatu jaringan ikat dengan spesifikasi yang khusus dan  bereaksi secara terbatas terhadap suatu keadaan abnormal. Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer, Arif, 2000). Sedangkan menurut Linda Juall C (1999) Fraktur adalah rusaknya kontinuitas tulang yang disebabkan tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap oleh tulang.
Kompleksitas dan perpindahan dari fraktur tergantung secara besar pada tenaga yang terbangun pada struktur mendahului fraktur. Bentuk bidang fraktur (fraktur transversal, fraktur split, avulsi, impaksi, dsb) berhubungan dengan sifat beban, yang mana bisa bersifat penekanan, pembengkokan, torsional, pemotongan, atau setiap kombinasi dari hal-hal tersebut.
Tulang merupakan alat penopang dan sebagai pelindung pada tubuh. Tanpa tulang tubuh tidak akan tegak berdiri. Fungsi tulang dapat diklasifikasikan sebagai aspek mekanikal (memberikan sokongan pada tubuh) maupun aspek fisiologikal (melindungi organ-organ dalam).
Tulang juga menghasilkan sel darah merah, sel darah putih dan plasma. Selain itu tulang sebagai tempat penyimpanan kalsium, fosfat, dan garam magnesium. Namun karena tulang bersifat relatif rapuh, pada keadaan tertentu tulang dapat mengalami patah, sehingga menyebabkan gangguan fungsi tulang terutama pada pergerakan.


1.2 Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan Fraktur?
2.      Apa yang dimaksud dengan Klavikula?
3.      Apa yang dimaksud dengan Fraktur Klavikula?
4.      Apa yang dimaksud dengan Humerus?
5.      Apa yang dimaksud dengan Fraktur Humerus?

1.3 Tujuan dan Manfaat
·         Tujuan umum
Untuk menambah pengetahuan mahasiswi bidan tentang Fraktur Klavikula dan Fraktur Humerus.



·         Manfaat Penulisan
Hasil dari penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada semua pihak, khususnya kepada mahasiswi kebidanan untuk menambah pengetahuan dan wawasan mengenai Fraktur Klavikula dan Humerus.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Fraktur

A.     Pengertian Fraktur
Fraktur adalah terputusnya hubungan atau kontinuitas tulang karena stress pada tulang yang berlebihan (Luckmann and Sorensens, 1993 : 1915)
Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik kekuatan dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang itu sendiri, dan jaringan lunak disekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap atau tidak lengkap. (Price and Wilson, 1995 : 1183)
Fraktur menurut Rasjad (1998 : 338) adalah hilangnya konstinuitas tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan epifisis, baik yang bersifat total maupun yang parsial.
Fraktur adalah retaknya tulang, biasanya disertai dengan cedera di jaringan sekitarnya. Kebanyakan fraktur disebabkan oleh trauma dimana terdapat tekanan yang berlebihan pada tulang, baik berupa trauma langsung dan trauma tidak langsung.

 

B.      Jenis Fraktur atau retak tulang
1.      Complete fracture (retak tulang komplet), patah pada seluruh garis tengah tulang,luas dan melintang. Biasanya disertai dengan perpindahan posisi tulang.
2.      Closed fracture (simple fracture), tidak menyebabkan robeknya kulit, integritas kulit masih utuh.
3.      Open fracture (compound fracture / komplikata/ kompleks), merupakan retak tulang dengan luka pada kulit (integritas kulit rusak dan ujung tulang menonjol sampai menembus kulit) atau membran mukosa sampai ke patahan tulang. retak tulang terbuka digradasi menjadi:
·       Grade I: luka bersih dengan panjang kurang dari 1 cm.
·       Grade II: luka lebih luas tanpa kerusakan jaringan lunak yang ekstensif.
·       Grade III: sangat terkontaminasi, dan mengalami kerusakan jaringan lunak ekstensif.
4.      Greenstick, retak tulang di mana salah satu sisi tulang patah sedang sisi lainnya membengkok.
5.      Transversal, retak tulang sepanjang garis tengah tulang.
6.      Oblik, retak tulang membentuk sudut dengan garis tengah tulang.
7.      Spiral, retak tulang memuntir seputar batang tulang.
8.      Komunitif, retak tulang dengan tulang pecah menjadi beberapa fragmen.
9.      Depresi, retak tulang dengan fragmen patahan terdorong ke dalam (sering terjadi pada tulang tengkorak dan wajah).
10.  Kompresi, retak tulang dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang belakang).
11.  Patologik, retak tulang yang terjadi pada daerah tulang berpenyakit (kista tulang, paget, metastasis tulang, tumor).
12.  Avulsi, tertariknya fragmen tulang oleh ligamen atau tendo pada prlekatannya.
13.  Epifisial, retak tulang melalui epifisis.
14.  Impaksi, retak tulang dimana fragmen tulang terdorong ke fragmen tulang lainnya

C.     Etiologi
  Penyebab fraktur diantaranya :
a. Trauma
1) Trauma langsung : Benturan pada tulang mengakibatkan ditempat tersebut.
2) Trauma tidak langsung : Titik tumpu benturan dengan terjadinya fraktur berjauhan.
b. Fraktur Patologis
    Fraktur disebabkan karena proses penyakit seperti osteoporosis, kanker tulang dan lain- lain.
c.   Degenerasi
Terjadi kemunduran patologis dari jaringan itu sendiri : usia lanjut
d.  Spontan
Terjadi tarikan otot yang sangat kuat seperti olah raga.

D.    Manifestasi Klinis
a.       Nyeri lokal
b.      Pembengkakan
c.       Eritema
d.      Peningkatan suhu
e.       Pergerakan abnormal

E.     Proses Penyembuhan Tulang
  a.   Stadium Pembentukan Hematoma
Hematoma terbentuk dari darah yang mengalir dari pembuluh darah yang rusak, hematoma dibungkus jaringan lunak sekitar (periostcum dan otot) terjadi 1 – 2 x 24 jam.
b.   Stadium Proliferasi
Sel-sel berproliferasi dari lapisan dalam periostcum, disekitar lokasi fraktur sel-sel ini menjadi precursor osteoblast dan aktif tumbuh kearah fragmen tulang. Proliferasi juga terjadi dijaringan sumsum tulang, terjadi setelah hari kedua kecelakaan terjadi.
c.   Stadium Pembentukan Kallus
Osteoblast membentuk tulang lunak / kallus memberikan regiditas pada fraktur, massa kalus terlihat pada x-ray yang menunjukkan fraktur telah menyatu. Terjadi setelah 6 – 10 hari setelah kecelakaan terjadi.
d.   Stadium Konsolidasi
Kallus mengeras dan terjadi proses konsolidasi, fraktur teraba telah menyatu, secara bertahap-tahap menjadi tulang matur. Terjadi pada minggu ke 3 – 10 setelah kecelakaan.
e.   Stadium Remodelling
Lapisan bulbous mengelilingi tulang khususnya pada kondisi lokasi eks fraktur. Tulang yang berlebihan dibuang oleh osteoklas. Terjadi pada 6 -8 bulan.

F.     Konsep Dasar penanganan Fraktur
Ada empat konsep dasar dalam menangani fraktur, yaitu :
a.    Rekognisi
Rekognisi dilakukan dalam hal diagnosis dan penilaian fraktur. Prinsipnya adalah mengetahui riwayat kecelakaan, derajat keparahannya, jenis kekuatan yang berperan dan deskripsi tentang peristiwa yang terjadi oleh penderita sendiri.
b.    Reduksi
Reduksi adalah usaha / tindakan manipulasi fragmen-fragmen seperti letak asalnya. Tindakan ini dapat dilaksanakan secara efektif di dalam ruang gawat darurat atau ruang bidai gips. Untuk mengurangi nyeri selama tindakan, penderita dapat diberi narkotika IV, sedative atau blok saraf lokal.
c.    Retensi
Setelah fraktur direduksi, fragmen tulang harus dimobilisasi atau dipertahankan dalam posisi dan kesejajaran yang benar sampai terjadi penyatuan. Immobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau interna. Metode fiksasi eksterna meliputi gips, bidai, traksi dan teknik fiksator eksterna.
d.   Rehabilitasi
Merupakan proses mengembalikan ke fungsi dan struktur semula dengan cara melakukan ROM aktif dan pasif seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuan klien. Latihan isometric dan setting otot. Diusahakan untuk meminimalkan atrofi disuse dan meningkatkan peredaran darah.

2.2  Klavikula
A.     Pengertian Klavikula
      Clavicula merupakan tulang yang berbentuk huruf S, bagian medial melengkung lebih besar dan menuju ke anterior. Lengkungan bagian lateral lebih kecil dan menghadap ke posterior. Ujung medial clavicula disebut extremitas sternalis, membentuk persendian dengan sternum, dan uJung lateral disebut extremitas acromialis, membentuk persendian dengan acromion. Facies superior clavicula agak halus, dan pada facies inferior di bagian medial terdapat tuberositas costalis. Disebelah lateral tuberositas tersebut terdapat sulcus subclavius, tempat melekatnya m. Subclavius, dan disebelah lateralnya lagi terdapat tuberositas coracoidea, tempat melekat lig. Coracoclaviculalis.
Klavikula adalah tulang panjang yang dimodifikasi memiliki dua kurva. Medial 2/3 dari tulang memiliki kurva cembung dan lateral 1/3 memiliki kurva cekung seperti yang terlihat dari depan. Ini adalah satu-satunya tulang panjang tubuh manusia yang terletak horizontal di posisi alaminya. Seperti semua tulang panjang, memiliki dua ujung. Lateral akhir berartikulasi dengan proses akromion skapula dan akhir medial berartikulasi dengan sternum dan kartilago kosta pertama. Menuju sisi medial, poros tulang dibulatkan sementara menuju sisi lateral, itu adalah datar dan membentuk permukaan superior dan inferior. Klavikula adalah subkutan seluruh panjangnya dan dapat dengan mudah dilihat dalam semua mata pelajaran. Klavikula memiliki dua batas dan dua permukaan. Perbatasan adalah anterior dan posterior dan permukaan yang superior dan inferior.
Clavicula adalah tulang yang paling pertama mengalami pertumbuhan pada masa fetus, terbentuk melalui 2 pusat ossifikasi atau pertulangan primer yaitu medial dan lateral clavicula, dimana terjadi saat minggu ke-5 dan ke-6 masa intrauterin. Kernudian ossifikasi sekunder pada epifise medial clavicula berlangsung pada usia 18 tahun sampai 20 tahun. Dan epifise terakhir bersatu pada usia 25 tahun sampai 26 tahun.
Pada tulang ini bisa terjadi banyak proses patologik sama seperti pada tulang yang lainnya yaitu bisa ada kelainan congenital, trauma (fraktur), inflamasi, neoplasia, kelainan metabolik tulang dan yang lainnya.



B.   Fungsi Klavikula
   Klavikula bertindak sebagai strut untuk memegang ekstremitas atas lateral dari badan. Hal ini juga dikenakan bagian dari berat ekstremitas atas (sisanya ditanggung oleh tulang belikat). Dengan menjadi lateral jauh dari tubuh, efisiensi fungsional meningkat ekstremitas atas sangat.

2.3   Fraktur Klavikula
A.     Pengertian Fraktur Klavikula
      Fraktur clavikula adalah rusaknya kontinuitas tulang clavikula, yang diakibatkan oleh tekanan eksternal yang lebih besar dari yang dapat diserap oleh tulang. Bila fraktur clavikula mengubah posisi tulang, struktur yang ada disekitarnya (otot, tendon, saraf dan pembuluh darah) juga mengalami kerusakan. Cidera traumatic paling banyak menyebabkan fraktur clavikula. (Carpenito,1999).
      Fraktur clavikula atau patah tulang clavikula adalah terputusnya kontinuitas jaringan atau tulang rawan tulang clavikula yang umumnya disebabkan oleh ruda paksa (Manjoer,
2000). Fraktur clavikula adalah Hilangnya kesinambungan substansi tulang clavikula dengan atau tanpa pergeseran fragmen-fragmen fraktur
Fraktur clavicula bisa disebabkan oleh benturan ataupun kompressi yang berkekuatan rendah sampai yang berkekuatan tinggi yang bisa menyebabkan terjadinya fraktur tertutup ataupun multiple trauma.
Fraktur ini merupakan jenis yang tersering pada bayi baru lahir,yang mungkin terjadi apabila terdapat kesulitan mengeluarkan bahu pada persalinan. Hal ini dapat timbul pada kelahiran presentasi puncak kepala dan pada lengan yang telentang pada kelahiran sungsang. Gejala yang tampak pada keadaan ini adalah kelemahan lengan pada sisi yang terkena, krepitasi, ketidakteraturan tulang mungkin dapat diraba, perubahan warna kulit pada bagian atas yang terkena fraktur serta menghilangnya refleks Moro pada sisi tersebut. Diagnosis dapat ditegakkan dengan palpasi dan foto rontgent. Penyembuhan sempurna terjadi setelah 7-10 hari dengan imobilisasi dengan posisi abduksi 60 derajat dan fleksi 90 derajat dari siku yang terkena.

B.     Etiologi
Menurut Sarwono Prawirohardjo, 2005
Penyebab farktur clavicula biasanya disebabkan oleh trauma pada bahu akibat kecelakaan apakah itu karena jatuh atau kecelakaan kendaraan bermotor, namun kadang dapat juga disebabkan oleh faktor-faktor non traumatik. Berikut beberapa penyebab pada fraktur clavicula yaitu :
1.  Fraktur clavicula pada bayi baru lahir akibat tekanan pada bahu oleh simphisis pubis selama proses melahirkan.
2.   Fraktur clavicula akibat kecelakaan termasuk kecelakaan kendaraan bermotor, jatuh dari ketinggian dan yang lainnya.
3.   Fraktur clavicula akibat kompresi pada bahu dalam jangka waktu lama, misalnya pada pelajar yang menggunakan tas yang terlalu berat.
4.   Fraktur clavicula akibat proses patologik, misalnya pada pasien post radioterapi, keganasan clan lain-lain.

C.     Gejala Fraktur pada Bayi
Penyebab farktur clavicula biasanya disebabkan oleh trauma pada bahu akibat trauma jalan lahir dengan gejala:
1.      Bayi tidak dapat menggerakkan lengan secara bebas pada sisi yang terkena,
2.      Krepitasi dan ketidakteraturan tulang,
3.      Kadang-kadang disertai perubahan warna pada sisi fraktur,
4.      Tidak adanya refleks moro pada sisi yang terkena,
5.      Adanya spasme otot sternokleidomastoideus yang disertai dengan hilangnya depresi supraklavikular pada daerah fraktur.
6.      Biasanya diikuti palsi lengan

D.    Faktor predisposisi fraktur klavikula adalah:
1.      Bayi yang berukuran besar
2.      Distosia bahu
3.      Partus dengan letak sungsang
4.      Persalinan traumatic .

E.     Klasifikasi Fraktur Klavikula
Pengklasifikasian fraktur clavicula didasari oleh lokasi fraktur pada clavicula tersebut. Ada tiga lokasi pada clavicula yang paling sering mengalami fraktur yaitu pada bagian midshape clavikula dimana pada anak-anak berupa greenstick, bagian distal clavicula dan bagian proksimal clavicula. Menurut Neer secara umum fraktur klavikula diklasifikasikan menjadi tiga tipe yaitu :
1.      Tipe I : Fraktur pada bagian tengah clavicula. Lokasi yang paling sering terjadi fraktur.
2.      Tipe II : Fraktur pada bagian distal clavicula. Lokasi tersering kedua mengalami fraktur setelah midclavicula.
3.      Tipe III : Fraktur pada bagian proksimal clavicula. Fraktur yang paling jarang terjadi dari semua jenis fraktur clavicula, insidensnya hanya sekitar 5%.

Ada beberapa subtype fraktur clavicula bagian distal, menurut Neer ada 3 yaitu :
1.      Tipe I  :  merupakan fraktur dengan kerusakan minimal, dimana ligament tidak mengalami kerusakan.
2.      Tipe : merupakan fraktur pada daerah medial ligament coracoclavicular.
3.      Tipe III : merupakan fraktur pada daerah distal ligament coracoclavicular dan melibatkan permukaan tulang bagian distal clavicula pada AC joint.

F.     Diagnosis  
Hasil pemeriksaan
1.         Adanya pembengkakan pada sektor daerah fractur.
2.         Krepitasi.
3.         Pergerakan lengan berkurang.
4.         Iritable selama pergerakan lengan.
Diagnosis RO tidak selalu diindikasikan, 80% tidak mempunyai gejala dan hanya didapatkan hasil pemeriksaan yang minimal.

G.    Penatalaksanaan                                                                                       
Adapun penatalaksanaan terhadap bayi yang mengalami fraktur klavikula, yaitu:
 1.     Bayi jangan banyak digerakkan
 2.     Immobilisasi lengan dan bahu pada sisi yang akit dan abduksi lengan dalam stanhoera menopang bahu belakang dengan memasang ransel verband
 3.     Rawat bayi dengan hati-hati
 4.     Nutrisi yang adekuat (pemberian asi yang adekuat dengan cara mengajarkan pada ibu acar pemberian asi dengan posisi tidur, dengan sendok atau pipet)
 5.      Rujuk bayi kerumah sakit
Umumnya 7-10 hari sakit berkurang, pembentukan kalus bertambah beberapa bulan  (6-8 minggu) terbentuk tulang normal.

2.4  Humerus
Humerus adalah kedua tulang terbesar pada lengan dan satu-satunya tulang di lengan atas. Banyak otot yang kuat yang memanipulasi lengan atas pada bahu dan lengan bawah pada siku yang bertumpu pada humerus. Gerakan humerus sangat penting untuk semua kegiatan bervariasi dari lengan, seperti melempar, mengangkat, dan menulis.
 Pada ujung proksimal, humerus membentuk bagian halus, struktur seperti bola yang dikenal sebagai kepala humerus. Kepala humerus membentuk sendi bola dan soket pada bahu, dengan rongga glenoidalis dari skapula bertindak seperti soket. Bentuk bulat dari kepala humerus memungkinkan humerus bergerak dalam lingkaran lengkap (sirkumduksi) dan berputar di sekitar porosnya pada sendi bahu. Tepat di bawah kepala, humerus menyempit ke bagian anatomi leher humerus.
 Humerus diklasifikasikan secara struktural sebagai tulang panjang karena jauh lebih panjang daripada lebar. Seperti semua tulang panjang, humerus memiliki lubang di tengah-tengah poros dan diperkuat di ujungnya dengan kolom kecil tulang spons dikenal sebagai trabekula. Sumsum tulang merah, jaringan yang menghasilkan sel-sel darah baru, ditemukan di ujung humerus dan didukung oleh trabekula tersebut. Rongga medula di tengah poros humerus diisi dengan sumsum tulang kuning lemak untuk penyimpanan energi.

Terlihat di bagian
kanan dari depan (A = anterior)
bagian dalam (M = medial)
bagian belakang (P = posterior)
Tulang kompak membentuk struktur terbesar dan terkuat pada humerus, sekitar trabekula di ujung dan rongga medula pada poros. Mengelilingi seluruh tulang adalah lapisan periosteum berserat yang menyediakan bahan penghubung kuat namun tipis, untuk tendon dan ligamen yang mengikat humerus ke otot dan tulang lainnya. Akhirnya, ujung humerus dibatasi oleh lapisan tipis hialin dikenal sebagai tulang rawan artikular yang bertindak sebagai peredam kejut pada sendi.

2.5  Fraktur Humerus
A.   Pengertian Fraktur Humerus
   Fraktur humerus adalah diskontinuitas atau hilangnya struktur dari tulang humerus (Mansjoer, Arif, 2000). Sedangkan menurut Sjamsuhidayat (2004) Fraktur humerus adalah fraktur pada tulang humerus yang disebabkan oleh benturan atau trauma langsung maupun tidak langsung.
Fraktur humerus adalah Kelainan yang terjadi pada kesalahan teknik dalam melahirkan lengan pada presentasi puncak kepala atau letak sungsang dengan lengan membumbung ke atas. Pada keadaan ini biasanya sisi yang terkena tidak dapat digerakkan dan refleks Moro pada sisi tersebut menghilang.
Fraktur tulang humerus umumnya terjadi pada kelahiran letak sungsang dengan tangan menjungkit ke atas. Kesukaran melahirkan tangan yang menjungkit merupakan penyebab terjadinya tulang humerus yang fraktur. Pada kelahiran presentasi kepala dapat pula ditemukan fraktur ini, jika ditemukan ada tekanan keras dan langsung pada tulang humerus oleh tulang pelvis. Jenis frakturnya berupa greenstick atau fraktur total.

B.       Klasifikasi fraktur humerus
Fraktur atau patah tulang humerus terbagi atas :
1.    Fraktur Suprakondilar humerus
Jenis fraktur ini dapat dibedakan menjadi :
Ø  Jenis ekstensi yang terjadi karena trauma langsung pada humerus distal melalui benturan pada siku dan lengan bawah pada posisi supinasidan lengan siku dalam posisi ekstensi dengan tangan terfikasi
Ø  Jenis fleksi pada anak biasanya terjadi akibat jatuh pada telapak tangan dengan tangan dan lengan bawah dalam posisi pronasi dan siku dalam posisi sedikit fleksi
2.   Fraktur interkondiler humerus
Fraktur yang sering terjadi pada anak adalah fraktur kondiler lateralis dan fraktur kondiler medialis humerus
3.   Fraktur batang humerus
Fraktur ini disebabkan oleh trauma langsung yang mengakibatkan fraktur spiral (fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral yang disebabkan trauma rotasi)
4.   Fraktur kolum humerus
Fraktur ini dapat terjadi pada kolum antomikum (terletak di bawah kaput humeri) dan kolum sirurgikum (terletak di bawah tuberkulum)

C.       Etimologi
Fraktur tulang humerus umumnya terjadi pada kelahiran letak sungsang dengan tangan menjungkit ke atas. Kesukaran melahirkan tangan yang menjungkit merupakan penyebab terjadinya tulang humerus yang fraktur. Pada kelahiran presentasi kepala dapat pula ditemukan fraktur ini, jika ditemukan ada tekanan keras dan langsung pada tulang humerus oleh tulang pelvis. Jenis frakturnya berupa greenstick atau fraktur total. Fraktur menurut Strek,1999 terjadi paling sering sekunder akibat kesulitan pelahiran (misalnya makrosemia dan disproporsi sefalopelvik, serta malpresentasi).

D.      Gejala
1.      Berkurangnya gerakan tangan yang sakit
2.      Refleks moro asimetris
3.      Terabanya deformitas dan krepotasi di daerah fraktur disertai rasa sakit
4.       Terjadinya tangisan bayi pada gerakan pasif
Letak fraktur umumnya di daerah diafisi. Diagnosa pasti ditegakkan dengan pemeriksaan radiologik.

E.       Gejala klinis
1.      Diketahui beberapa hari kemudian dengan ditemukan adanya gerakan kaki yang berkurang dan asimetris.
2.      Adanya gerakan asimetris serta ditemukannya deformitas dan krepitasi pada tulang femur.
3.      Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan radiologik.


F.       Penanganan
1.    Imobilisasi lengan pada sisi bayi dengan siku fleksi 90 derajat selama 10 sampai 14 hari serta control nyeri
2.    Daya penyembuhan fraktur tulang bagi yang berupa fraktur tulang tumpang tindih ringan dengan deformitas, umumnya akan baik.
3.    Dalam masa pertumbuhan dan pembentukkan tulang pada bayi, maka tulang yang fraktur tersebut akan tumbuh dan akhirnya mempunyai bentuk panjang yang normal




Tidak ada komentar:

Posting Komentar